Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

30hari30film: Alphaville: Une étrange aventure de Lemmy Caution (1965)

16 Ramadhan 1433


Alphaville: Une étrange aventure de Lemmy Caution (berikutnya akan disebut Alphaville saja) adalah film garapan sutradara Prancis, Jean Luc Godard. Film berdurasi 99 menit itu bercerita tentang Alphaville, sebuah kawasan yang di dalamnya terdapat eksperimen-eksperimen saintifik untuk menciptakan manusia yang lebih kuat. Film-film Godard, seperti biasanya, selalu mempunyai kandungan film noir. Film noir sering disalahartikan sebagai film yang melulu bergambar hitam-putih. Padahal, yang membuat sebuah film disebut film noir, adalah karena jalan ceritanya yang nihilistik. Demikian halnya dengan Alphaville yang meski mempunyai tema cukup jelas, namun penggambarannya agak absurd dan mengajak penontonnya untuk banyak mengernyitkan dahi. 

Alphaville berpusat pada seorang agen rahasia bernama Lemmy Caution (Eddie Constantine) yang menyamar menjadi jurnalis Ivan Johnson, dalam misinya masuk ke suatu wilayah bernama Alphaville. Tugas Caution adalah membunuh kreator kawasan Alphaville bernama Professor Van Braun dan menghancurkan superkomputer bernama Alpha 60. Mengapa kawasan Alphaville dan Alpha 60 dianggap berbahaya? Karena mereka menghendaki tumbuhnya manusia jenis baru: Manusia yang mereduksi nilai-nilai emosional dalam dirinya. Kata Alpha 60, "Manusia yang baik tidak bertanya 'kenapa' pada segala sesuatu, melainkan bisa menjelaskannya diawali dengan kata 'karena'." Contoh terbaik manusia jenis ini adalah anak sang Professor sendiri, bernama Natasha von Braun (Anna Karina). Ia tidak mengetahui arti dari kata 'cinta' dan 'kesadaran'. Secara mengerikan, waktu demi waktu, kawasan Alphaville melenyapkan kata-kata yang berkaitan dengan emosi manusia (bayangkan, di Alphaville ada kamus yang diperbaharui terus menerus, karena kata-kata lambat laun selalu tergantikan, dari yang emotif menjadi kognitif!).

Film Godard yang ini, meski tetap nihilistik sesuai dengan semangat film noir yang dibawanya, tetap mengandung pesan yang agaknya tak terlalu susah untuk dipahami. Godard berupaya untuk membawa penontonnya menyadari tentang kemungkinan teknologi yang bisa mereduksi perasaan manusia. Pemikiran yang ditawarkan Godard ini seolah tiga tahun lebih maju dari yang dipikirkan oleh Stanley Kubrick dalam filmnya yang bertemakan sama di tahun 1968: 2001: A Space Odyssey. Jika disimak, konsep HAL 9000 dalam film 2001 pun kurang lebih meniru karakter komputer Alpha 60. Keduanya sama-sama punya suara pria yang berat (tidakkah ini janggal bagi voice-over komputer yang umumnya wanita?). Alphaville mengandung nilai filosofi yang amat padat jika disimak pada dialog-dialognya. Sayang sekali, sebagaimana umumnya film Godard, ia kerapkali membuat film sembilan puluh menit terasa seperti dua jam setengah.

Rekomendasi : Bintang Empat

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...