Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2020

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Filsafat Politik dan Kotak Pandora Abad ke-21

ULAS BUKU: FILSAFAT POLITIK DAN KOTAK PANDORA ABAD KE-21   Kata “politik” itu memang terdengar seperti sesuatu yang kotor, penuh intrik, dan urusannya selalu soal kekuasaan dan kekuasaan saja. Dengan citranya yang demikian buruk, ramai-ramai orang menghindari berurusan dengan politik, seolah-olah ada kehidupan manusia di luar sana yang tidak terhubung dengan politik. Padahal, Pericles, negarawan Yunani Kuno, sudah mengingatkan, “Hanya karena kita tidak punya minat dengan politik, bukan berarti politik tidak punya minat terhadap kita.” Prof. Budiono Kusumohamidjojo, lewat bukunya yang berjudul “Filsafat Politik dan Kotak Pandora Abad ke-21”, menunjukkan bahwa politik secara hakikat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah peradaban manusia. Bagaimana bisa menghindari politik, jika hidup dalam entitas bernama negara? Bagaimana bisa menghindari politik, jika membenci kekuasaan tertentu, tapi diam-diam mendambakan kekuasaan jenis lainnya? Bagaimana bisa menghindari pol...

SONTAK dan Harapan Bagi Ekosistem Perbunyian di Bandung

Poster SONTAK, diambil tanpa izin dari Facebook Page. Mungkin sekitar delapan tahun yang lalu, seorang kawan pergi meninggalkan Bandung, namanya Diecky Kurniawan Indrapraja. Apa yang diwariskan Diecky ini cukup penting, hingga mengundang tanya bagi saya pribadi, “Adakah (orang di Bandung) yang sanggup menggantikan Diecky?” Mungkin yang membaca tulisan ini bertanya-tanya: Lah, Diecky ini memangnya siapa? Apa yang sudah ia lakukan?  Diecky adalah komponis asal Surabaya yang lama tinggal di Bandung untuk studi. Saya tidak punya data akurat tentang berapa lama ia tinggal di Bandung, tapi jika dihitung dari kapan ia masuk kuliah, mungkin sekitar sepuluh atau sebelas tahun. Diecky tidak hanya mengomposisi karya, ia juga mengajar, baik formal maupun non-formal. Salah satu tempat mengajar non-formalnya adalah di garasi rumah saya, Garasi10. Di sana ia, di hadapan belasan muridnya (termasuk saya), menyebarkan suatu paham yang menurut kami semua begitu aneh, yaitu tentang musik kontemporer, ...