Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2020

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Filsafat Politik dan Kotak Pandora Abad ke-21

ULAS BUKU: FILSAFAT POLITIK DAN KOTAK PANDORA ABAD KE-21   Kata “politik” itu memang terdengar seperti sesuatu yang kotor, penuh intrik, dan urusannya selalu soal kekuasaan dan kekuasaan saja. Dengan citranya yang demikian buruk, ramai-ramai orang menghindari berurusan dengan politik, seolah-olah ada kehidupan manusia di luar sana yang tidak terhubung dengan politik. Padahal, Pericles, negarawan Yunani Kuno, sudah mengingatkan, “Hanya karena kita tidak punya minat dengan politik, bukan berarti politik tidak punya minat terhadap kita.” Prof. Budiono Kusumohamidjojo, lewat bukunya yang berjudul “Filsafat Politik dan Kotak Pandora Abad ke-21”, menunjukkan bahwa politik secara hakikat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah peradaban manusia. Bagaimana bisa menghindari politik, jika hidup dalam entitas bernama negara? Bagaimana bisa menghindari politik, jika membenci kekuasaan tertentu, tapi diam-diam mendambakan kekuasaan jenis lainnya? Bagaimana bisa menghindari pol...

SONTAK dan Harapan Bagi Ekosistem Perbunyian di Bandung

Poster SONTAK, diambil tanpa izin dari Facebook Page. Mungkin sekitar delapan tahun yang lalu, seorang kawan pergi meninggalkan Bandung, namanya Diecky Kurniawan Indrapraja. Apa yang diwariskan Diecky ini cukup penting, hingga mengundang tanya bagi saya pribadi, “Adakah (orang di Bandung) yang sanggup menggantikan Diecky?” Mungkin yang membaca tulisan ini bertanya-tanya: Lah, Diecky ini memangnya siapa? Apa yang sudah ia lakukan?  Diecky adalah komponis asal Surabaya yang lama tinggal di Bandung untuk studi. Saya tidak punya data akurat tentang berapa lama ia tinggal di Bandung, tapi jika dihitung dari kapan ia masuk kuliah, mungkin sekitar sepuluh atau sebelas tahun. Diecky tidak hanya mengomposisi karya, ia juga mengajar, baik formal maupun non-formal. Salah satu tempat mengajar non-formalnya adalah di garasi rumah saya, Garasi10. Di sana ia, di hadapan belasan muridnya (termasuk saya), menyebarkan suatu paham yang menurut kami semua begitu aneh, yaitu tentang musik kontemporer, ...