Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
Bahasa, jika dilihat dari permukaan, hanyalah rangkaian bunyi yang keluar dari pita suara. Ia bisa diurai secara teknis: getaran udara, fonem yang diatur dalam sintaks, lalu dirangkai menjadi kalimat. Di atas kertas, bahasa tampak seperti alfabet yang disusun rapi, sebuah kode yang bisa dibaca dan diterjemahkan. Tetapi siapa yang bisa menyangkal bahwa bahasa jauh melampaui sekadar bunyi dan huruf? Melalui bahasa, aku bisa merawat relasi—mengatakan "aku mencintaimu" yang menumbuhkan rasa hangat dalam dada orang lain. Dengan bahasa pula aku bisa menghancurkan relasi, cukup dengan sebuah kalimat pedas, sebuah fitnah, atau sebuah diam yang disengaja. Bahasa bisa menjadi obat: menenangkan yang resah, menuntun yang hilang arah. Tapi bahasa juga bisa menjadi racun: menusuk yang rapuh, meninggalkan luka yang terus berdarah meski tak terlihat. Bahasa bukan hanya medium komunikasi, melainkan medium kekuasaan. Lewat bahasa, aku bisa memerintah dan diperintah. Lewat bahasa, orang-orang...