Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
Mengajar dan mendidik adalah dua konsep yang bisa dibedakan. Terence W. Moore dalam bukunya yang berjudul Philosophy of Education menuliskan bahwa pendidikan adalah konsep yang melibatkan kegiatan mengajar yang lebih spesifik pada apa yang layak untuk diketahui dan sikap yang secara moral diterima (Moore, 2010: 33). Mengacu pada pengertian Moore tersebut, kita bisa saja menjadi guru yang mengajarkan cara untuk mencopet, misalnya, tetapi hal demikian bukanlah sesuatu yang mendidik. Pengertian pendidikan sebagaimana dituliskan oleh Moore tersebut dapat dikritisi. Menurut siapa sesuatu itu layak diketahui? Dari sudut pandang siapa suatu sikap dapat dikatakan bermoral atau tidak? Tanpa perlu menjawabnya, kita dapat melihat bahwa Moore secara tidak langsung telah menempatkan guru atau pengajar dalam posisi “si paling tahu” - yang memutuskan mana ilmu yang layak diketahui dan mana sikap yang dianggap bermoral. Pandangan Moore menjadi pandangan yang cukup umum dalam dunia p...