Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Galau

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Dunia

Waktu kecil, saya sering meyakini bahwa apa yang saya pikir bagus, berarti itu juga bagus di mata dunia. Seperti misalnya, Indonesia yang sering dipuja-puji sebagai negara kepulauan besar dengan beragam kekayaan alamnya, bagi saya itu merupakan negara terbaik di dunia dan bahkan secara ukuran adalah yang paling besar. Lantas saya pernah mengagumi seorang pemain sepakbola di masa SMP namanya Decky. Saya pikir dia bisa disejajarkan kehebatannya dengan pemain kelas dunia Alessandro Del Piero.  Lantas ada masa ketika saya ingin mendunia seperti apa yang selama ini saya idolakan. Ingin menjadi pemain catur terhebat di dunia, pemain sepakbola terhebat di dunia, gitaris terhebat di dunia, dan seterusnya dan seterusnya. Saya berlatih keras, mengejar mimpi-mimpi itu sampai tiba pada satu pertanyaan: Apakah yang dimaksud "dunia" itu sebenarnya? Apakah "dunia" itu berarti kita dikenal di setiap orang di seluruh dunia? Misalnya saya jalan-jalan ke Finlandia atau ke Guyana ...

Latihan

Belakangan ini saya sedang sering berinteraksi dengan pemain biola bernama Ammy Kurniawan dan guru gitar jazz yang bernama Venche Manuhutu. Kang Ammy maupun Pak Venche, keduanya sudah dapat dikatakan senior dan mungkin keaktifannya untuk tampil di atas panggung sedikit demi sedikit mulai dikurangi. Keduanya sekarang lebih banyak mengajar di tempatnya masing-masing dan berupaya melahirkan musisi-musisi baru. Namun ada kesibukan yang sama-sama dijalani keduanya, yang barangkali lebih rutin dari mengajar itu sendiri, yakni: Latihan. Kita punya suatu logika sederhana disini, tujuan dari latihan adalah untuk tampil, adalah untuk manggung. Terus, jika sudah jarang manggung, untuk apa latihan? Latihan yang dilakukan oleh Kang Ammy dan Pak Venche, setahu saya, juga tidak sebentar. Mereka rata-rata menghabiskan minimal dua hingga empat jam per hari untuk melenturkan jari-jari. Tapi otak dangkal saya bertanya: Tapi jika tidak untuk main, lantas untuk apa latihan? Pak Venche bahkan berkata s...

Dua Belas Jam Lebih Dekat dengan Rusia

Pertama-tama harus diberitahukan bahwa saya belum juga bosan bercerita tentang Awal Uzhara, seorang legenda hidup berusia 82 tahun yang dalam empat bulan terakhir ini sering saya jumpai. Pak Awal, seperti yang berulangkali saya ceritakan, adalah orang yang tinggal lima puluh tahun di Rusia untuk -salah satunya- kuliah di institut perfilman tertua di dunia yang bernama VGIK. VGIK adalah tempat belajar dan mengajar sutradara-sutradara besar Rusia seperti Eisenstein, Pudovkin, Batalov dan Tarkovsky. Biasanya, saya yang mengundang Pak Awal untuk menjadi narasumber film Rusia di Garasi10. Namun hari Sabtu lalu saya mendadak ditelpon oleh beliau. Giliran Pak Awal mengundang saya ke Jakarta, tepatnya ke Pusat Kebudayaan Rusia, untuk menyaksikan pemutaran film yang berjudul Elena pada hari Rabu tanggal 27 Maret. Biasanya, Rabu adalah hari dimana saya mempunyai kewajiban mengajar di sekolah musik. Namun permintaan Pak Awal terlalu menarik untuk ditolak. Saya putuskan untuk ikut tanpa pikir...

Energi Kecemasan

Hari itu, 20 Maret, saya mendapat dua kali pengalaman visual yang menakjubkan. Setelah akhir Februari lalu saya berjumpa dengan Slamet Abdulsjukur yang masih tetap berkarya di usianya yang 78, sekarang saya berhadapan lagi dengan manula-manula (jika kita sebut manula itu adalah yang  enam puluh tahun ke atas) enerjik yang tetap berkarya secara horizontalistik. Maksudnya horizontalistik, mereka tidak menjauhkan diri dari manusia demi berasketik ria dan mabuk dalam religiusitas vertikal. Para manula tersebut, Dieter Mack dan Awal Uzhata, keduanya sangat enerjik untuk memberikan sesuatu bagi manusia. Semangatnya yang berapi-api membuat aspek fisiologis ke-manula-an-nya tak berarti banyak karena ditelan spirit khas pemuda dua puluh-an. Dieter Mack adalah profesor dari Jerman kelahiran tahun 1954. Artinya, ia tepat berusia enam puluh di tahun ini. Kehadirannya di Indonesia bukanlah hal yang aneh. Ia menganggap Bali adalah rumah keduanya karena kecintaan yang serius pada gamelan ...

Akechi Mitsuhide dan Raja-Filsuf Platonis

Dalam bukunya yang berjudul The Republic , Plato menulis tentang konsep raja-filsuf. Konsep tersebut kurang lebih berarti: Seorang filsuf seyogianya menjadi raja. Dan seorang raja, ia harus sanggup menjadi filsuf. Definisi "filsuf" ini tentu saja paling mengundang perdebatan. Karena kenyataannya, mereka yang menjadi pemimpin seringkali mencitrakan dirinya sebagai cendekiawan. Tidak perlu dibahas bagaimana para politisi di Indonesia sangat senang berburu gelar akademik untuk mendapatkan suatu posisi penting di ruang lingkup kekuasaan. Gelar Magister dan Doktor menjadi "syarat wajib" agar pencitraannya terlihat seolah-olah ia memenuhi konsep raja-filsuf Platonis. Namun apakah filsuf identik dengan kepintaran? Tentu saja, berdasarkan arti katanya saja, tidak. Filsuf berarti orang yang mencintai kebijaksanaan (hal yang mana akan menimbulkan perdebatan lagi tentang apa itu kebijaksanaan!). Plato barangkali hendak berbicara tentang raja yang memahami segala sesuatu, ...

Kehilangan

Selasa kemarin saya mengalami kehilangan. Seserius apa nilai kehilangannya, selalu relatif bagi setiap orang. Saya kehilangan dua buah laptop yang digondol maling dengan cara memecahkan kaca mobil. Tapi orang yang pernah kehilangan lebih besar akan menganggap hal yang seperti ini sepele. "Saya pernah kehilangan anak," "Saya pernah kehilangan golok leluhur kakek saya," "Saya pernah kecurian tiga buah laptop," dst, dst. Hal tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kehilangan jelas merupakan pengalaman eksistensial. Bagi saya pribadi, hilang laptop berarti juga hilang hiburan dan pekerjaan. Sehari-hari saya menulis, entah itu demi uang atau demi penyaluran hasrat. Kehilangan laptop membuat saya membayangkan hari-hari ke depan yang penuh kehampaan. Jika kehilangan merupakan suatu bencana. Maka saya teringat tiba-tiba suatu pepatah dari Sir Muhammad Iqbal, "Bencana membuat kita bisa melihat keseluruhan kehidupan." Saya menyatakan setuju untuk apa yan...

Bane

Akibat sibuk menjalankan ibadah nonton tiga puluh film dalam tiga puluh hari bulan Ramadhan, saya dengan konyol melewatkan salah satu film terbaik tahun ini: The Dark Knight Rises yang marak diputar di bulan puasa. Bagian terakhir dari trilogi Batman karya sutradara Christopher Nolan ini baru saya tonton kemarin malam. Kekeliruan pertama dalam menyaksikan rangkaian film Batman-nya Nolan ini adalah menganggapnya sebagai film hiburan sebagaimana yang sudah disajikan dulu oleh Tim Burton ataupun Joel Schumacher. Batman garapan Nolan adalah Batman yang penuh pergumulan psikologis maupun filosofis. Aksinya yang dahsyat -yang tentu saja sudah ditopang teknologi yang jauh lebih canggih ketimbang pendahulunya-, berlangsung tidak sebanyak dialognya yang sepertinya ingin lebih ditekankan oleh Nolan. Bagi mereka yang hanya berharap menyaksikan Batman beradu jotos secara full-action , tentu saja kehilangan banyak gizi jika tidak memerhatikan konten percakapan. Ada satu ciri khas y...

Awal Uzhara

Baru saja, pagi tadi, saya bertemu seorang tua bernama Pak Awal Uzhara. Ia adalah dosen di Jurusan Sastra Rusia yang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di Rusia untuk salah satunya kuliah di bidang perfilman dokumenter. Usianya saya kira 75 tahun, tapi ternyata ia lebih tua lagi. Hal itu terungkap dari cerita yang ia paparkan sendiri, "Waktu saya bekerja di Radio Moskow tahun 1995, usia saya enam puluh tahun.." Artinya, jika dihitung, maka usia beliau sekarang 82 tahun! Tentu saja kita tidak sedang membahas usia seseorang. Apa yang membuat saya sedemikian tertarik adalah tentang bagaimana pose Pak Awal ketika saya temui di perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UNPAD. Ia sedang membaca, tenang sekali, di bawah sorot lampu baca. Tangannya meraba-raba kertas untuk membantu dirinya memerhatikan detail baris demi baris. Sesekali beliau memberikan sedikit coretan di atasnya entah berisi catatan apa. Apa yang dilakukan Pak Awal secara persis saya tidak paham, tapi yang pasti ...

Untuk Andika Budiman: The Medium is The Message

Malam itu, orangtua tiba-tiba berkata sesuatu tentang kartupos. Katanya, "Ada kartupos untuk kamu dan Dega."  Istri saya mendapatkan kartupos dari kawannya, orang Prancis, yang sedang berlibur di Turki. Sedangkan saya sendiri? Ada kartupos, tapi bukan dari seseorang nun jauh disana. Yang mengirimkannya adalah orang Bandung juga. Namun yang demikian justru membuatnya tambah spesial. Hari ini ada banyak cara untuk menyampaikan pesan baik lewat SMS, Facebook, Twitter, E-mail ataupun telepon. Tapi orang yang secara geografis sangat dekat untuk kemudian "mempersulit diri" dengan berkomunikasi via sesuatu yang sudah "tidak musim" dan perlu perjuangan menulis dengan tangan, adalah hal yang mengharukan. Isinya sendiri -seperti yang semoga terbaca dari gambar di atas- adalah semacam apresiasi dari konser musik klasik yang diselenggarakan tanggal 6 Oktober kemarin di Auditorium IFI-Bandung. Selain sedikit mengomentari performance , tulisan di atas juga b...

Epistemologi Kemasan

Waktu saya SMP, guru agama namanya Pak Endin (almarhum) bercerita di kelas tentang memakan daging yang hukumnya haram jika ia tidak disembelih atas nama Allah. Lantas, bagaimana kita tahu daging itu disembelih atas nama Allah atau tidak, jika daging yang kita beli semua sudah hasil dapat di supermarket? Jawaban Pak Endin mungkin menggelikan. Katanya, "Kita bisa mengira-ngira saja. Misalnya, kalau dilihat di kemasan dagingnya tertulis diproduksi di Bali, kemungkinan besar dia haram karena disana lebih banyak non-muslim." Tulisan ini bukan hendak memojokkan beliau yang saya hormati, justru saya mau membahas bagaimana Pak Endin menyadarkan kita tentang batas-batas pengetahuan atau bahasa kerennya: epistemologi. Gambar diambil dari sini . Epistemologi berkutat pada pertanyaan: Apa yang bisa kita ketahui? Sejauh mana batas pengetahuan kita? Dalam filsafat, epistemologi dibahas sebagai fondasi terpenting bagi filsafat ilmu. Misal: Rene Descartes mengatakan bahwa pengetah...

Warisan Berharga dari Diecky

Diecky Kurniawan Indrapraja, sahabat yang dalam hitungan hari akan pergi ke Pontianak, mewariskan sesuatu untuk Bandung yang sudah ia tinggali lebih dari sepuluh tahun lamanya. Berkunjung ke kontrakannya di Antapani, saya menemukan sembilan puluh persen barang-barangnya sudah masuk dus. "Besok pagi, Satriyo akan membawanya dengan mobil pick-up untuk dibawa ke tempat pengiriman," katanya merujuk pada Satriyo Utomo, murid sekaligus sahabatnya.  Apa yang dia wariskan? Sesungguhnya dalam sepuluh tahun kehadirannya di Bandung, sudah banyak. Diecky mengajar, berkomunitas, berkarya, manggung, berkompetisi, menjadi pembicara dalam seminar, menjadi panitia dalam konser-konser, dan kesemuanya dilakukan dengan semangat -meminjam istilah Goenawan Mohamad- "mengikhtiarkan kebenaran". Meski demikian, Diecky tetap ingin meninggalkan satu warisan (lagi) bagi kota yang ia cintai. Inilah dia: 27 keping CD progressive rock mulai dari Genesis, Emerson, Lake & Palmer, Mahavish...

Akhirnya Tercapai Juga ...

Sewaktu kecil, saya pernah membaca tentang Rene Descartes. Dengan pemahaman seadanya -waktu itu masih kelas 3 atau 4 SD- saya mengingat-ngingat jargon sang filsuf: Aku berpikir maka aku ada. Waktu itu saya coba merumuskan sendiri apa artinya kalimat aneh tersebut. Bapak mencoba menjelaskan tapi saya tidak kunjung paham. Meski demikian, ketertarikan akan Descartes adalah awal mula saya haus akan ilmu pengetahuan. Sejak itu saya membaca tumpukan ensiklopedia dan mengoleksi buku biografi para penemu seperti Albert Einstein, Thomas Alva Edison, Alexander Graham Bell, Wright bersaudara hingga Margaret Mead. Selalu ada anggapan umum bahwa "Belajar sesuatu itu ada waktunya". Ketika kawan-kawan sebaya mengoleksi lagu Bondan Prakoso dan Enno Lerian, saya dicekoki jazz, The Beatles, dan Michael Franks. Ketika kelas 4 SD -di waktu bebas setelah ujian- teman-teman rata-rata membawa Lego atau mobil-mobilan, saya membawa mikroskop. Semuanya hanya menunjukkan bahwa saya telah menyukai...

Dilema Oedipus

Tulisan ini tiba-tiba diangkat karena saya tiba-tiba ingat pemain sepakbola bernama Jordi Cruyff. Dia adalah anak kandung dari legenda hidup sepakbola Belanda, Johan Cruyff. Pertanyaannya: Dimana sekarang Jordi? Bagaimana nasibnya? Pertanyaan ini saya ajukan juga pada Maradona, Franz Beckenbauer, Lothar Matthaus, Gerd Muller, dan pesepakbola legendaris lainnya: Anakmu mana? Apakah mereka tidak cukup kuat menanggung nama besar bapaknya? Ini tidak terjadi di dunia sepakbola saja. Agaknya inilah salah satu mengapa berbagai mitologi seperti Zeus, Oedipus dan Sangkuriang, berbicara soal "pembunuhan bapak sendiri". Bukan semata-mata mereka berebut ibu, tapi memang bagi seorang anak laki-laki, bapak yang kuat haruslah ditaklukkan agar hidup sang anak menjadi benderang. Bob Marley punya anak yang juga bergerak di bidang musik, namanya Ziggie Marley. Namun dengan segala hormat bagi para rastafarian, saya merespon begini ketika membaca nama Ziggie Marley, " Your father is...

Panoptikon

Panoptikon adalah konsep arsitektur yang digagas oleh Jeremy Bentham di akhir abad ke-18. Terdiri dari dua kata yaitu pan yang berarti semua dan optikon yang artinya mengamati, panoptikon bisa dipahami sebagai: "desain gedung yang memungkinkan satu pihak bisa mengawasi seisi gedung tanpa yang diawasinya merasa terawasi." Konsep panoptikon ini terutama diterapkan dalam penjara. Contoh terbaiknya ada pada bangunan penjara Presidio Modelo di Kuba. Seperti ini dia gambarnya: Gambar diambil dari sini . Lisensi milik Friman . Menara di tengah ini adalah kunci konsep pengawasan yang ditawarkan Bentham. Menara tersebut berputar dan di dalamnya ada sipir yang mengamati dengan seksama sel-sel di sekelilingnya. Michel Foucault melihat bahwa terlepas dari ternyata tidak ada sipir di balik menara tersebut, struktur kesadaran para napi akan menganggap dirinya selalu berada dalam pengawasan. Foucault kemudian mengabstraksi konsep panoktikon ini dalam kritiknya terhadap apa...

Untuk Sahabatku, Para Asketik!

Saya bertemu Bilawa Ade Respati pertama kali di Jalan Teri. Itu adalah tempat dimana kami sama-sama belajar gitar pada sang guru, Ridwan B. Tjiptahardja. Saya terkagum dengan permainan gitarnya, ia memainkan lagu karya J.K. Mertz berjudul Elegie . Lebih hebat lagi, orang yang kelak saya panggil Bil itu, saat itu masih berstatus anak SMA. Sedangkan Diecky? Ya, Diecky saya temui di dekat aula RS Santo Borromeus. Waktu itu ia tengah membangun komunitas bernama Classical Guitar Community (CGC) yang kebetulan tampil di seminar yang mengundang Dieter Mack (musikolog  asal Jerman) untuk membahas tentang periodisasi musik klasik (kalau tidak salah). Bilawa adalah orang yang mula-mula akrab dengan saya. Ia ternyata merupakan pribadi yang hangat tapi juga sekaligus mendalam. Caranya berpikir begitu aneh untuk anak seumurnya. Bilawa adalah seperti orang yang menanggung beban dunia -gerak-geriknya begitu penuh pemikiran dan segala ucapannya selalu menimbulkan kerut kening-. Hal terseb...

Heidegger, Ammy, dan Abaji

Hari Kamis tanggal 5 Juli kemarin, secara ajaib saya berjumpa dengan tiga orang yang berbicara hal yang sama. Mereka bertiga tidak saling kenal, dan perjumpaan kami pun dilakukan di tempat yang berbeda-beda. Martin Heidegger Perjumpaan pertama adalah dengan Martin Heidegger. Saya menemui ia lewat tulisannya yang sudah ditafsir ulang oleh Frans Budi Hardiman dalam bukunya: Heidegger dan Mistik Keseharian .  Filsuf yang lahir tahun 1889 ini bicara tentang manusia yang kerapkali lupa mempertanyakan Ada. Kita seolah yakin bahwa matahari ada di atas kepala kita, kita seolah yakin bahwa arisan pasti ujung-ujungnya bergosip, kita seolah yakin bahwa Alfamart adalah tempat dimana kapitalisme membuka cabangnya. Tapi semuanya adalah asumsi-asumsi yang dijejalkan pada kita, yang membuat kita enggan untuk melihatnya lebih jernih: Memerhatikan hingga Ada itu menceritakan siapa dirinya sesungguhnya.  Ammy Kurniawan Terlalu sulit memahami Heidegger? Itulah guna kehadiran A...

Refleksi dan Kapitalisme

Refleksi disini bukanlah refleksi dalam arti merenung. Ini adalah pengertian refleksi secara sederhana: pijat kaki! Refleksi adalah salah satu kegiatan favorit saya sebulan sekali. Ini adalah fase dimana saya mengalami relaksasi total dengan cara dipijat di tempat yang adem dan dilatari alunan musik India. Mewah? Ya dan tidak. Dari segi fasilitas dan tingkat kenyamanan, boleh dibilang saya tengah bermewah-mewah. Karena siapa yang tidak merasa jadi raja, ketika kakinya dielus-elus sementara kita sendiri tiduran? Tapi harganya sendiri bisa dibilang murah, cuma lima puluh ribu sekali pijit. Di tempat refleksi terkenal di Sukajadi saja, harganya cuma lebih mahal dua ribu dari pasaran pada umumnya.  Namun inilah yang disebut oleh kawan saya, Tobing, sebagai, "Sebetulnya seluruh istirahat kita, digunakan juga untuk bekerja di hari berikutnya." Maksudnya, jika kita menggunakan perspektif weekday dan weekend : Apa arti dari weekend selain daripada sebuah persiapan unt...

Ultras dan Fundamentalisme

Kapten Genoa, Marco Rossi, mengumpulkan kaos rekan-rekan satu timnya yang diminta dilepas oleh Ultras.   Saya tidak pernah betul-betul memperhatikan gerak-gerik Ultras , sampai kemarin mendengar berita tentang pergerakannya di Stadion Luigi Ferraris, markas Genoa. Akibat tertinggal 0-4 dari Siena, Ultras mengamuk dan memaksa para pemain Genoa melepas kaosnya. Alasannya, mereka tak pantas memakai kaos tersebut setelah permainannya dicap terlalu buruk. Walhasil, satu per satu pemain mencopot kaosnya, beberapa diantaranya menangis karena merasa menyesal maupun terhina.  Tifo . Karya khas dari Ultras.   Ultras dikategorikan sebagai kelompok pendukung sepakbola yang fanatik. Fanatiknya seperti apa, ada beberapa ciri. Selain akrab dengan barang bawaan seperti flare atau obor, mereka kerap membuat tifo , semacam rangkaian kertas yang dipegang oleh masing-masing suporter, tapi jika dilihat dari kejauhan bisa berupa gambar atau tulisan yang  besar. Tidak semua Ult...

Rekonstruksi Yunani Purba

untuk Jasiaman Christian Damanik Tadi sore saya berkunjung ke rumah yang sedang ditinggali seorang kawan, namanya Jasiaman Damanik atau biasa dipanggil Jazzy. Maksud pertemuan itu tidak lain karena saya ada beberapa pertanyaan soal pelajaran logika, dan kebetulan Jazzy adalah sama-sama juga pengajar mata pelajaran logika. Hanya saja, ketika tahu Jazzy mengajarkan pelajaran sulit itu pada anak SMP, maka saya terkagum-kagum, karena pasti dibutuhkan semacam "kerja dua kali" untuk mengejawantahan sebuah ilmu yang relatif kompleks untuk pemahaman anak SMP yang tentu saja belum sekompleks mahasiswa-mahasiswa yang saya ajar. Rumah itu, harus saya ceritakan. Saya duduk di sofa abu panjang di ruang tamu yang luas. Cahaya lampunya temaram dengan kaca yang menembuskan pemandangan ke luar, ke kebun yang hijau. Suasananya, secara metafisik, begitu akademis. Terasa sekali diisi oleh orang-orang yang senang berpikir. Jazzy membubarkan kekaguman saya pada si rumah dengan menyuguhkan tiga buk...

Mengurai Cara Kerja Sinetron

Untuk sebuah acara pada 8 Januari lalu, saya diharuskan untuk menuliskan sesuatu yang berkaitan dengan etika di media. Apa yang saya lakukan adalah menonton RCTI tiga hari berturut-turut dan menganalisis apa-apa saja yang saya peroleh dari kegiatan tersebut. Dari hampir seluruh tayangan RCTI yang disaksikan, yang saya anggap paling menarik adalah hasil pengamatan atas tayangan-tayangan sinetron. Sinetron barangkali merupakan tayangan yang paling dominan dalam program RCTI. Ketika saya melakukan penelitian tersebut di bulan Oktober, ada tiga sinetron berturut-turut tayang mulai jam 18.00 sampai 22.30 yaitu Dewa, Putri yang Ditukar, dan Anugerah. Saya mencoba mengamati tanpa rasa benci dan tanpa rasa ingin menghujat. Saya akui bahwa cukup banyak kawan-kawan yang menganggap sinetron itu sesuatu yang tidak penting, sampah, dan membodohi. Tapi saya juga harus menerima fakta bahwa tayangan tersebut laku dan dikonsumsi banyak orang. Maka itu saya berupaya mengerti: Mengapa sinetron laku meski...