Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
Piala Dunia 2010 sudah hampir mencapai puncak. Selama tiga minggu ke belakang, even tersebut telah menyuguhkan banyak hal. Banyak hal yang sesungguhnya sebuah drama yang berulang, misalnya: gagalnya tim-tim unggulan, melempemnya pemain yang hebat di klub, berpacunya tim kuda hitam di jalur juara, hingga munculnya bintang-bintang baru. Keempat itu selalu muncul di edisi kejuaraan sepakbola -atau olahraga- manapun. Itu yang bikin menarik, itu yang bikin Piala Dunia masih ditonton entah hingga kapan. Ada memang perentilan menarik di kejuaraan Afrika Selatan ini, misalnya tiupan terompet vuvuzela yang mengalahkan tradisi yel-yel penonton, ataupun bola Jabulani yang begitu memusingkan para kiper dan pengumpan lambung. Tapi dari sekian banyak, saya mengingat satu hal dalam benak. Bukan redupnya Rooney, bukan kehebatan permainan Nippon, bukan pula kiprah Korea Utara, ataupun buruknya Ronaldo. Saya mengingat satu, seorang Argentina bernama Martin Palermo. Sedari sekitar SMP, kala orde baru mas...