Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Piala Dunia 2010 sudah hampir mencapai puncak. Selama tiga minggu ke belakang, even tersebut telah menyuguhkan banyak hal. Banyak hal yang sesungguhnya sebuah drama yang berulang, misalnya: gagalnya tim-tim unggulan, melempemnya pemain yang hebat di klub, berpacunya tim kuda hitam di jalur juara, hingga munculnya bintang-bintang baru. Keempat itu selalu muncul di edisi kejuaraan sepakbola -atau olahraga- manapun. Itu yang bikin menarik, itu yang bikin Piala Dunia masih ditonton entah hingga kapan. Ada memang perentilan menarik di kejuaraan Afrika Selatan ini, misalnya tiupan terompet vuvuzela yang mengalahkan tradisi yel-yel penonton, ataupun bola Jabulani yang begitu memusingkan para kiper dan pengumpan lambung. Tapi dari sekian banyak, saya mengingat satu hal dalam benak. Bukan redupnya Rooney, bukan kehebatan permainan Nippon, bukan pula kiprah Korea Utara, ataupun buruknya Ronaldo. Saya mengingat satu, seorang Argentina bernama Martin Palermo. Sedari sekitar SMP, kala orde baru mas...