Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2025

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Perbaikan yang Tidak Adil

Ada hal yang sering saya pikirkan belakangan ini: mengapa kesalahan yang kita lakukan pada satu orang, justru baru bisa kita perbaiki pada orang yang lain? Mengapa introspeksi tidak langsung menghasilkan perubahan di tempat yang sama, tetapi justru menjelma menjadi versi yang lebih baik… untuk orang berikutnya?  Dalam hidup saya, ini bukan sekadar renungan, tapi kenyataan. Dalam dua pernikahan sebelumnya, saya punya kekurangan—kadang dalam cara mendengar, kadang dalam memberi waktu, kadang dalam menahan ego. Hubungan itu pun tidak berlanjut. Tapi setelah semua itu, barulah saya benar-benar belajar. Barulah saya mulai memahami apa artinya hadir, apa artinya memberi ruang, apa artinya tidak selalu ingin benar. Sayangnya, dua perempuan yang pernah menjadi pasangan hidup saya tidak menikmati versi saya yang ini. Justru partner saya yang sekarang, yang datang belakangan, yang menerima saya setelah semua luka dan pelajaran itu, yang akhirnya mendapat "versi upgrade"-nya saya. Hidup...

Tentang Kompleksitas Masa Lalu

Di permukaan, pasangan saya adalah perempuan yang cantik dan supel. Senyumnya hangat, pembawaannya luwes, dan ia tahu cara menempatkan diri dalam berbagai situasi. Tapi seperti banyak orang yang tampak “baik-baik saja”, ada lapisan yang tidak mudah dilihat. Luka-luka yang tak berbentuk, tapi terasa. Trauma yang tidak selalu muncul sebagai tangis, tapi terkadang menyusup lewat kemarahan kecil, atau jarak yang tiba-tiba hadir di antara kami.  Dalam sebelas tahun hubungannya dengan mantan suami, partner saya itu mengalami banyak hal yang tidak semua orang sanggup ceritakan ulang. Dan sering kali, luka itu tidak perlu diceritakan untuk bisa hidup kembali—cukup satu gestur saya yang keliru, satu kalimat yang tak sengaja menyinggung, atau bahkan satu momen yang mirip dengan masa lalunya, dan semuanya seperti terulang. Bukan salahnya, bukan sepenuhnya salah saya juga. Tetapi itulah hidup bersama seseorang yang membawa masa lalu yang belum selesai: kita belajar bahwa cinta tidak hanya soal...

Tentang Hari Valentine

Hari valentine bukanlah hari yang penting bagi saya. Namun sesekali tidak ada salahnya dirayakan, hanya sebagai lucu-lucuan, sebagai cara untuk memanifestasikan cinta dalam bentuk benda-benda. Valentine 2025 ini saya sedikit merayakan bersama pasangan, dengan memberikan hal-hal mainstream yaitu kue dan bunga. Dia terlihat senang sekali. Bukan semata-mata karena kue dan bunganya, tapi karena perayaan semacam itu tidak pernah terjadi selama sebelas tahun pernikahannya. Bunga dan kue memang begitu standar, bahkan cenderung dikomodifikasi berlebihan, tetapi secara fenomenologis bisa berarti, meski menye-menye.  Tetapi apakah cinta itu, sehingga begitu penting diwujudkan dalam benda-benda? Mengapa benda itu menjadi bunga, menjadi coklat, menjadi kue? Bunga mungkin diasosiasikan dengan keindahan alamiah yang muncul sebagai momentum, yang kelak mati, tapi tetap terkenang untuk waktu yang panjang. Coklat dan kue mungkin karena rasanya yang manis, seperti perasaan cinta itu sendiri. Tentu ...

Tentang Membuang

Orang tua keduanya telah tiada. Meninggalkan barang-barang penuh kenangan di rumah kami yang sepi. Ada perasaan berat melihat benda-benda peninggalan, tetapi mau tidak mau beberapa mesti dibuang juga. Bukan karena tidak berarti lagi, tapi karena hidup adalah tarik menarik antara masa lalu dan masa sekarang. Buku-buku, pakaian, dan barang-barang lain milik Papap dan Mamah begitu mengingatkan kami pada mereka, tetapi kami di sini yang masih hidup, memerlukan ruang lebih. Ruang untuk barang-barang kami juga. Bukan artinya membuang benda-benda peninggalan adalah sama dengan membuang kenangan tentang mereka. Justru kami mengenangnya dengan cara melanjutkan hidup. Menjadikan kenangan tentang mereka sebagai nafas yang menghidupi hari-hari kami ke depan.  Karena sesungguhnya, barang-barang bukan hanya benda mati. Mereka menyimpan jejak sentuhan, kebiasaan, bahkan aroma yang menempel diam-diam. Cangkir kopi Papap yang retak di bagian gagangnya tetap terasa seperti miliknya, seolah tangannya...