Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Ada hal yang sering saya pikirkan belakangan ini: mengapa kesalahan yang kita lakukan pada satu orang, justru baru bisa kita perbaiki pada orang yang lain? Mengapa introspeksi tidak langsung menghasilkan perubahan di tempat yang sama, tetapi justru menjelma menjadi versi yang lebih baik… untuk orang berikutnya? Dalam hidup saya, ini bukan sekadar renungan, tapi kenyataan. Dalam dua pernikahan sebelumnya, saya punya kekurangan—kadang dalam cara mendengar, kadang dalam memberi waktu, kadang dalam menahan ego. Hubungan itu pun tidak berlanjut. Tapi setelah semua itu, barulah saya benar-benar belajar. Barulah saya mulai memahami apa artinya hadir, apa artinya memberi ruang, apa artinya tidak selalu ingin benar. Sayangnya, dua perempuan yang pernah menjadi pasangan hidup saya tidak menikmati versi saya yang ini. Justru partner saya yang sekarang, yang datang belakangan, yang menerima saya setelah semua luka dan pelajaran itu, yang akhirnya mendapat "versi upgrade"-nya saya. Hidup...