Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Bulan Juli 2025, Nadya, pasangan saya, divonis mengalami depresi. Klaim ini bukan muncul dari pengakuannya semata, melainkan berdasarkan diagnosis profesional dari psikiater. Sebelumnya saya sempat cukup skeptis terhadap berbagai klaim gangguan kejiwaan, karena tidak jarang orang mengaku mengalami depresi tanpa pemeriksaan ahli (“saya depresi loh”). Menurut saya, pengakuan tanpa dasar medis seperti itulah yang perlahan merusak pemahaman publik tentang depresi. Padahal depresi merupakan persoalan serius dan tidak semestinya diklaim begitu saja hanya berdasarkan gejala yang dirasakan secara subjektif. Dengan vonis tersebut, akhirnya saya memposisikan diri sebagai caregiver atau orang yang merawat Nadya. Kondisinya itu membuat Nadya belum memungkinkan untuk bekerja kantoran, kena tekanan berat, dan berada dalam kerumunan. Kami akhirnya memutuskan untuk berdagang kuliner (ayam crispy), dengan harapan Nadya sebagai owner bisa mengatur waktu kapanpun untuk beristirahat karena saya yan...