Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Ulas Film

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

"Unknown Number: The High School Catfish" (2025): Teror yang Dekat dan Ibu yang Tak Pernah Pergi

Peringatan: ulasan ini mengandung spoiler.   Netflix tampaknya terus menegaskan dominasinya dalam genre true crime documentary lewat film Unknown Number: The High School Catfish (2025), arahan Skye Borgman, sutradara yang sebelumnya juga menggarap Girl in the Picture dan Abducted in Plain Sight . Namun kali ini, kisah yang diangkat terasa lebih dekat dan mengusik: bagaimana ancaman paling berbahaya bisa muncul bukan dari dunia maya yang asing, melainkan dari seseorang di dalam rumah sendiri.  Film ini mengikuti kisah nyata Lauryn Licari, seorang remaja Amerika, dan pacarnya, Owen McKenny, yang mulai menerima pesan teks bernada ancaman dan pelecehan dari nomor tak dikenal sejak Oktober 2020. Setelah sempat berhenti, pesan itu kembali datang pada September 2021 dan berlangsung selama lebih dari 15 bulan. Isi pesannya penuh dengan hinaan, ancaman, bahkan komentar seksual terhadap Owen. Keluarga dan pihak sekolah panik; penyelidikan melibatkan kepolisian setempat hingga FBI. Nam...

Dari Proksi ke Proksi

  Ya, saya pernah menggunakan Tinder, tetapi tidak pernah lama dan tidak pernah tuntas. Saya hanya pakai sebentar, lihat-lihat, lalu ketika disuruh bayar saya biasanya malas melanjutkan. Pernah satu kali coba bayar, berkenalan dengan beberapa orang, tetapi tidak sampai ketemuan. Beberapa diantaranya malah mencurigakan. Misalnya, ada yang langsung ngajak nonton bioskop lalu minta saya membayarkan tiketnya ke rekening Dana miliknya. Tidak besar memang, cuma tiga puluh ribuan, tetapi tetap saja aneh. Lainnya, ada yang langsung minta dibelikan kuota atau ada juga yang langsung curhat mendalam tanpa ada basa basi sama sekali (seolah-olah berusaha membangkitkan belas kasih). Akhirnya saya uninstall aplikasi tersebut dan kelihatannya tak tertarik lagi untuk menggunakannya.  Lalu saya baru saja selesai nonton The Tinder Swindler (2022) di Netflix, film dokumenter tentang penipuan berkedok kencan daring yang menjerat banyak korban hingga puluhan juta Dollar. Modus laki-laki bernama S...

Agama dan Pengalaman Psikedelik

Pengalaman psikedelik rasa-rasanya mesti dialami setiap orang, minimal sekali seumur hidup. Saya pernah merasakannya lewat "jamur ajaib". Meski hanya beberapa kali saja (dapat dihitung jari), pengalaman semacam itu adalah pengalaman yang selalu saya kenang: tentang realitas yang tampil dengan cara yang lain, tentang kesadaran yang dilampaui. Saya banyak tersenyum ketika menonton film dokumenter berjudul Have a Good Trip: Adventures in Pyschedelics (2020) di Netflix. Alasannya, saya betul-betul relate dengan pengalaman visual mereka yang diwawancarai dalam film tersebut seperti Sting, Carrie Fisher, Anthony Bourdain, dan Sarah Silverman. Orang-orang itu bercerita tentang benda yang mendadak bisa menari-nari dan bahkan bisa berbicara pada mereka, hidup dalam kartun tiga dimensi, pengalaman masuk pada dimensi lain, dan visual-visual khas lainnya sebagai efek yang muncul dari konsumsi LSD, peyote, "jamur ajaib", atau ayahuasca.  Have a Good Trip adalah dokumenter yan...

Alasan Mengapa Inglourious Basterds adalah Film yang Sangat Keren

Inglourious Basterds adalah film tahun 2009 berlatar Perang Dunia II yang disutradarai dan ceritanya ditulis oleh Quentin Tarantino. Saya adalah penggemar film-film Tarantino, tetapi hanya Basterds yang membuat saya bisa berkali-kali menonton klip-klipnya karena demikian kagum dengan karyanya yang satu ini. Pertama, tentu saja, karena tokoh Hans Landa yang diperankan secara brilian oleh Christoph Waltz. Landa adalah Kolonel SS yang dikenal karena kemampuannya dalam mengetahui segala informasi terkait orang-orang Yahudi yang diburu oleh Nazi. Selain skill multibahasanya yang mengagumkan (dalam Basterds , Landa diperlihatkan mampu berbicara bahasa Jerman, Inggris, Itali, dan Prancis), Landa juga mampu membangun percakapan yang ramah dan intimidatif sekaligus. Adegan pembuka dalam Basterds memperlihatkan pesona akting Waltz yang membuat kita merasakan ketegangan dalam setiap gerakan, perubahan mimik, dan intonasi yang diperagakan oleh Landa.  Kepiawaian Tarantino dalam menyutradar...

Algoritma Youtube Membawaku pada Film tentang Tank Misterius

Suatu hari, saya mendapati algoritma Youtube menawarkan film perang berjudul White Tiger (2012). Saya menyambutnya, karena memang selama ini punya ketertarikan pada hal-hal yang berhubungan dengan Perang Dunia II. Beberapa film terkait Perang Dunia II yang berkesan bagi saya antara lain Downfall (2004), The Pianist (2002), Black Book (2006), Letters from Iwo Jima (2006), Life is Beautiful (1997) dan tentu saja, The Inglourious Basterds (2009). White Tiger adalah film Rusia yang disutradarai oleh Karen Shakhnazarov. Film yang skenarionya ditulis oleh Shakhnazarov bersama dengan Aleksandr Borodyansky tersebut dibuat berdasarkan novel Tankist, ili "Byeli tigr" karya Ilya Boyashov.   White Tiger berlatar Perang Dunia II, tepatnya panggung pertempuran Timur antara Nazi Jerman dan Uni Soviet. Film ini menceritakan rumor seputar tank Nazi tipe Tiger I bercat putih yang kerap muncul dan menghilang secara misterius. Tank yang dijuluki dengan sebutan "White Tiger ...

Pengintip

  Namanya Gerald Foos. Ia mengaku sebagai pemilik hotel kecil (motel) di Colorado, tempat dirinya melakukan kegiatan mengintip berbagai aktivitas seksual para tamunya. Foos melakukannya selama sekitar dua puluh tahun tanpa pernah ketahuan. Sampai kemudian Foos memutuskan untuk menceritakan kisah hidupnya sendiri pada jurnalis legendaris, Gay Talese, untuk dijadikan buku. Menurut Talese, Foos tidak kelihatan seperti seorang psikopat. Jika kita bertemu Foos tanpa mengetahui latar hidupnya sebagai pengintip profesional, kita akan menganggapnya orang biasa-biasa saja, seperti orang kebanyakan. Foos sendiri tidak merasa ada hal yang aneh dari kegiatannya. Istrinya bahkan merestui aktivitas tersebut (yang diakui Foos sebagai "meneliti").  Itulah kisah tentang seorang pengintip ( voyeur ) yang dimuat dalam buku terbitan New York Times tahun 2016, sebelum kemudian difilmkan dalam bentuk dokumenter tahun berikutnya oleh sutradara Myles Kane dan Josh Koury. Film ini menarik bukan hanya...

Guru Spiritual

    Tulisan ini bukan hendak mengagung-agungkan guru spiritual. Tulisan ini adalah hasil renungan atas film dokumenter di Netflix berjudul Bikram: Yogi, Guru, Predator (2019). Bikram Choudhury (lahir tahun 1944) adalah guru yoga pendiri Bikram Yoga yang populer sejak tahun 1970-an dengan cabang tersebar hingga 40 negara. Bikram Yoga mengajarkan 26 postur yang semuanya dilatih dalam temperatur mencapai 41 derajat celcius. Selain populer karena muridnya yang berjumlah jutaan dan cara mengajarnya dengan hanya menggunakan celana renang ketat, Bikram juga adalah pelaku kekerasan dan pelecehan seksual terhadap sejumlah muridnya. Hal inilah yang mengganggu saya dalam artian, seorang guru spiritual yang identik dengan dunia ketimuran sebagai dunia yang sebisa mungkin melepaskan keterikatan terhadap "nafsu kedagingan", ternyata begitu problematik dalam urusan seks yang konsensual.  Problem guru spiritual ini terletak pada pengkultusannya. Sebagaimana diperlihatkan ...

Lokasi Kebahagiaan

  Cari-cari film di Netflix, akhirnya jatuh pada Expedition Happiness . Dari posternya pun sudah agak-agak terbayang, bahwa film dokumenter ini kemungkinan mirip-mirip dengan Into the Wild (kisah petualangan menuju alam bebas, lepas dari rutinitas yang menjemukan). Ternyata meski punya kemiripan tema, Mogli dan Felix, pasangan yang melakukan perjalanan dalam Expedition Happiness , lebih santai dan masih mau bersosialisasi ketimbang Christopher McCandless dalam Into the Wild yang berupaya untuk jauh-jauh dari manusia. Expedition Happiness masih menunjukkan banyak sisi kemanusiaan dan juga kehewanan, sementara McCandless lebih menikmati hidup menyendiri.  Mogli dan Felix adalah pasangan asal Jerman. Mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Amerika Utara menuju Amerika Selatan, dimulai dari Kanada, Alaska, melewati beberapa negara di AS, Meksiko, dan rencananya hingga Argentina. Mereka berangkat bertiga bersama seekor anjing bernama Rudi menggunakan bis sekolah yang d...

Festival dan Penyelenggara yang Halu

Entah kenapa film dokumenter berjudul Fyre menarik perhatian saya di Netflix. Rupanya film tersebut menceritakan tentang festival musik besar-besaran yang semestinya diadakan bulan April - Mei 2017 tetapi gagal total karena mismanajemen dan pengelolaan keuangan yang buruk. Fyre Festival, yang digelar dalam rangka mempromosikan Fyre, aplikasi untuk memudahkan booking artis musik, rencananya diadakan di Kepulauan Bahama dengan gembar-gembor promosi oleh para influencer berstatus super model. Dalam promosi tersebut, Fyre Festival digambarkan sebagai festival musik yang menyuguhkan pengalaman tak terlupakan: diadakan di pulau terpencil yang dijangkau dengan pesawat baling-baling, para pengunjung akan menginap di vila mewah, disuguhi kuliner dari chef-chef ternama serta tentu saja, pertunjukkan musik dari band-band terkenal.    Rick McFarland dan Ja Rule, inisiator Fyre Festival, terlihat sangat yakin rencana ini tidak hanya akan berjalan lancar, tapi juga menjadi festival ber...

Higuita

  Sudah lama tidak langganan Netflix. Saat berlangganan kembali, saya bukannya nonton film-film yang sedang tren seperti Gadis Kretek atau dokumenter tentang kopi sianida, malah tertarik pada dokumenter sepakbola, salah satunya yang berjudul Higuita: The Way of Scorpion (2023). Mengapa saya tertarik menonton film tersebut? Sederhana saja, film itu bercerita tentang kiper nyentrik bernama René Higuita dan meski saya belum menyukai sepakbola saat beliau sedang jaya-jayanya (tahun 80-an sampai 90-an awal), saya tetap mengidolakannya lewat rekaman video-video lawas dan bagi saya, Higuita pernah membuat sepakbola begitu menarik. Rasa-rasanya tidak ada seorang pun penggila sepakbola yang tidak tahu aksi gila Higuita di Wembley pada pertandingan persahabatan tahun 1995. Higuita, yang membela timnas Kolombia, menghalau sepakan tanggung Jamie Redknapp, gelandang Inggris, dengan sebuah tendangan di belakang kepala yang diberi nama tendangan kalajengking ( scorpion kick ).  Seperti umu...

How to Become a Tyrant (2021): Diktator Bersalin Rupa

Sebenarnya film dokumenter ini sudah agak lama saya tonton, mungkin sekitar tiga atau empat bulan yang lalu. Namun entah kenapa, saya baru terpikir untuk menuliskannya sekarang, dengan ingatan yang agak samar-samar. How to Become a Tyrant (2021) adalah docu-series produksi Netflix yang menceritakan kiprah para diktator yaitu Adolf Hitler, Saddam Hussein, Idi Amin, Joseph Stalin, Muammar Gaddafi, dan dinasti Kim. Dengan masing-masing penayangan antara 25 sampai 30 menit, dokumenter ini sangat informatif dengan narasi yang dibuat agak satir, seolah-olah para diktator tersebut punya semacam buku pedoman sebagai acuan tertulis dalam melanggengkan kekuasaan absolutnya. Bagi saya pribadi, How to Become a Tyrant , yang dinaratori oleh Peter Dinklage, memberikan banyak informasi dan juga renungan. Renungan paling mula-mula tentu bayangan akan kengerian totalitarianisme, yang membuat saya memikirkan segala cara agar para pemimpin fasis tidak pernah naik ke tampuk kepemimpinan lagi, di manapun...

Rocco, Antara Eros dan Agape

Di suatu malam, saat sedang memilih-milih film apa yang akan ditonton di Netflix, tiba-tiba saya tertarik pada film dokumenter berjudul Rocco (2016). Tentu saja saya tidak pura-pura tidak tahu tentang tokoh yang diceritakan dalam film tersebut. Rocco Siffredi adalah bintang film porno asal Italia yang aktif sejak tahun 1987 dan tampil pada sekitar 1300 film. Apakah saya menonton film-filmnya? Jelas, apalagi salah satu yang paling fenomenal dan sudah saya ketahui sejak SMA: Tarzan X .  Film dokumenter yang disutradarai oleh Thierry Demaizière dan Alban Teurlai tersebut bercerita tentang perjalanan Rocco di industri film porno. Rocco sebenarnya sempat mengumumkan pengunduran dirinya tahun 2004, tetapi ia kembali lagi tahun 2009, hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti permanen dari bermain film porno pada tahun 2015, di usia sekitar 51 tahun. Dalam film Rocco , meski terdapat beberapa adegan film porno yang dikaburkan, fokusnya lebih ditujukan pada pergulatan batin Rocco, yang ber...

Hacksaw Ridge dan Kosmopolitanisme

Hampir di waktu bersamaan saat saya menonton Hacksaw Ridge (2016) di Netflix, saya juga tengah menyiapkan materi presentasi tentang kosmopolitanisme-nya Kwame Anthony Appiah untuk Kelas Isolasi. Sekilas, kedua hal ini tidak berkaitan sama sekali - Hacksaw Ridge bercerita tentang prajurit Kristen yang taat bernama Desmond Doss, sementara kosmopolitanisme adalah gagasan hidup bersama dalam dunia yang penuh perbedaan. Namun ternyata, melalui Hacksaw Ridge , saya bisa dengan cepat memahami gagasan Appiah dalam teksnya yang berjudul Ethics in a World of Strangers (2006).  Hacksaw Ridge berkisah tentang prajurit yang ingin terjun di medan Perang Dunia II bersama Amerika, tetapi karena dogma Kristen-nya, Doss enggan memegang senjata dan membunuh siapapun. Ia hanya ingin menjadi medis di medan pertempuran. Niatnya ini menjadi bahan celaan teman-teman dan juga komandannya. Mereka menganggap Doss mengada-ada: mana mungkin tidak membunuh di medan perang? Setelah melalui serangkaian prosed...

(Mencoba) Memahami Ted Kaczynski

Beberapa hari terakhir ini, saya mengisi waktu luang dengan menonton film dokumenter tentang Ted Kaczynski yang berjudul Unabomber: In His Own Words . Film dokumenter tahun 2020 ini menceritakan tentang Ted Kaczynski, doktor matematika lulusan Universitas Michigan yang bertransformasi menjadi apa yang disebut FBI sebagai "teroris domestik". Ted melakukan serangkaian teror bom selama tujuh belas tahun, dari mulai tahun 1978 hingga tahun 1995, melukai 23 orang dan menewaskan tiga orang. Film dokumenter yang terdiri dari empat episode tersebut mengambil sudut pandang dari Ted sendiri berdasarkan hasil wawancara, serta sudut pandang lain seperti dari tetangga Ted, adik yang kemudian melaporkannya, David Kaczynski, sejumlah agen FBI, para korban, serta beberapa orang lainnya yang dianggap berkaitan.  Film tersebut menarik dan cukup berimbang dalam memberikan perspektif. Di satu sisi, Ted digambarkan sebagai seseorang yang mengalami masalah mental, tetapi di sisi lainnya, kejeniusa...

Otentisitas > Pengalaman Estetik (?)

Made You Look: A True Story About Fake Art Beberapa hari yang lalu, dalam rangka persiapan mengisi forum tentang seni rupa kontemporer, saya menonton dan membaca beberapa hal terkait seni, baik yang berhubungan langsung dengan seni rupa kontemporer maupun yang tidak langsung. Saya membuka Netflix dan tertarik dengan film dokumenter berjudul Made You Look: A True Story About Fake Art (2020). Mungkin tidak berhubungan langsung dengan seni rupa kontemporer, tetapi saya menemukan sejumlah hal menarik (dan pada akhirnya bisa dihubung-hubungkan).  Film dokumenter yang disutradarai oleh Barry Avrich ini menceritakan tentang kasus lukisan palsu yang menyerang galeri Knoedler di New York, terkait berbagai transaksi yang dilakukan oleh presiden galeri, Ann Freedman, antara tahun 1994 sampai 2009. Lukisan yang dijualnya antara lain karya-karya Jackson Pollock, Mark Rothko, dan Robert Motherwell. Ann Freedman mendapatkan lukisan-lukisan tersebut dari orang bernama Glafira Rosales yang menjual...

Operation Finale (2018): Tentang Iblis yang Tampil Biasa

Operation Finale (2018) Memang benar saya tergila-gila dengan film yang berhubungan dengan Perang Dunia II. Beragamnya pilihan acara yang ditawarkan Netflix sementara ini tidak menarik minat saya. Ujung-ujungnya tetap saja yang ditonton adalah film yang ada kaitannya dengan Nazi-Nazi-an. Kali ini saya memilih film Operation Finale , film tahun 2018 yang bercerita tentang momen-momen penangkapan Adolf Eichmann di Argentina.  Kesan pertama saya tentang Operation Finale ini adalah tone -nya yang tidak kelam seperti film lainnya yang serupa, sebut saja Schindler's List , Downfall , ataupun The Boys in Striped Pajamas . Film ini hampir seperti film "pada umumnya" dengan tampilan yang tidak dibuat-buat agar dramatis dan muram. Bagi saya yang terbiasa dengan penggambaran gelap pada film-film berbau Perang Dunia II, Operation Finale ini awalnya saya duga akan mengecewakan.  Ternyata, dari waktu ke waktu, suasana yang "diharapkan" mulai terbangun, terutama saat sosok Ad...

Downfall (2004): Menengok Sisi Lain Sang Diktator

Downfall (2004)   Sudah lama saya ingin menonton film Downfall (2004) setelah entah berapa kali menonton parodinya di YouTube. Bahkan sempat dalam beberapa minggu, ritual saya sebelum tidur adalah menonton parodi Downfall hingga mengantuk. Parodi-parodi tersebut begitu lucu dan kreatif, hingga kadang terlalu kejam karena nilai-nilai dalam filmnya menjadi terdistorsi. Dalam adegan-adegan yang mestinya tegang, secara otomatis saya langsung ingat versi parodinya sehingga alih-alih ikut tegang, malah jadi tertawa geli.  Downfall adalah film yang menceritakan tentang babak akhir Perang Dunia II saat baik pasukan Sekutu maupun pasukan Uni Soviet sudah makin mendekat ke Berlin. Adolf Hitler, pemimpin partai Nazi yang terkenal dengan kediktatorannya, menyusun strategi pamungkas bersama para jenderalnya untuk mengatasi serbuan tersebut. Sebagaimana film yang mengangkat tema perang, Downfall juga menyajikan adegan tembak menembak dan pengeboman. Namun bukan itu yang menjadi fokus utam...

The Irishman (2019): Kegelisahan Gangster di Usia Senja

The Irishman (2019) Setelah lama tidak menonton film yang durasinya panjang-panjang, akhirnya saya memutuskan untuk menonton The Irishman (2019). Mengapa saya memilih film bertema mafia tersebut? Dari dulu memang saya mengagumi karya-karya Martin Scorsese dari mulai Taxi Driver (1976), Raging Bull (1980), Goodfellas (1990) hingga Casino (1995). Selain itu, saya juga penasaran melihat bagaimana akting Al Pacino, Robert de Niro dan Joe Pesci di usia 70-an akhir.   The Irishman adalah film yang berpusat pada Frank Sheeran (Robert de Niro), pengantar daging turunan Irlandia yang menjadi eksekutor bagi kelompok mafia Russell Bufalino (Joe Pesci). Dianggap bagus dalam menjalankan tugas-tugasnya, Frank kemudian dihubungi oleh presiden serikat Teamster bernama Jimmy Hoffa (Al Pacino) untuk menyelesaikan beberapa masalahnya. Hoffa sendiri, meski mempunyai posisi legal, sering berurusan dengan mafia sehubungan dengan Teamster yang banyak membawahi buruh-buruh di bidang transportasi da...