Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
27 Ramadhan 1433 H
Frenzy adalah film thriller yang digarap oleh spesialisnya: Alfred Hitchcock. Diadaptasi dari novel berjudul Goodbye Piccadilly, Farewell Leicester Square karya Arthur La Bern, Frenzy berkisah tentang pembunuh berantai berjuluk necktie murderer. Label tersebut disematkan karena korban kerapkali mati dalam keadaan telanjang dan hanya mengenakan dasi di lehernya. Sebelumnya, korban yang selalu wanita muda tersebut, diperkosa terlebih dahulu sebelum kemudian dicekik dengan dasi.
Pembukaan film ini langsung menjanjikan. Korban wanita telanjang dengan dasi di lehernya, mengapung di tengah sungai yang sedang dikerumuni publik. Publik Kota London menjadi heboh dan mewaspadai berkeliarannya seorang pembunuh berantai diantara mereka. Lain cerita, ada kisah tentang Richard Blaney (Jon Finch), mantan pramusaji bar yang sedang dirundung malang. Ia dipecat oleh bosnya oleh sebab tuduhan sering mengambil minuman sendiri dari bar tanpa pernah membayar. Dalam keadaan terkatung-katung tanpa pekerjaan dan juga tanpa tempat tinggal, Blaney tiba-tiba dituduh polisi maupun media sebagai necktie murderer yang menghebohkan itu. Sisanya bisa ditebak: Bagaimana Hitchcock mempermainkan perasaan penonton tentang apakah Blaney pada akhirnya terbukti bersalah atau tidak.
Frenzy menyuguhkan beberapa kali adegan yang amat tipikal dari Hitchcock. Misalnya, ketika terjadi pembunuhan, alih-alih disorot kejadiannya, Hitchcock malah menjauhkan kameranya dari lokasi. Meski tidak ditampakkan, hal tersebut tetap menimbulkan asosiasi bahwa pembunuhan sedang terjadi. Jika dibandingkan karya agung sang sutradara semisal Psycho ataupun Vertigo, Frenzy terhitung mengecewakan. Puncak dari film ini tidak menunjukkan kekhasan Hitchcock yang biasanya melakukan kejutan alias twist ending. Percayalah, satu menit akhir dari film ini akan membuat kecewa pada keseluruhan ceritanya.
Rekomendasi: Bintang Dua
Comments
Post a Comment