Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Berita wafatnya Dwi Cahya Yuniman, yang akrab kami panggil Mas Niman, pada Senin sore, 15 September 2025, datang seperti petir di siang bolong. Begitu mendadak, begitu tak terduga. Pagi harinya ia masih sempat menuliskan ucapan selamat ulang tahun kepada seorang sahabat di grup, seakan memberi tanda kecil bahwa ia tetap hadir, sebelum akhirnya berpamitan untuk selamanya. Bagi banyak orang, Mas Niman bukan sekadar seorang pecinta musik. Ia adalah pusat gravitasi, sosok yang dengan caranya yang sederhana tapi penuh semangat berhasil mengikat orang-orang dalam lingkaran jazz yang hangat. Saya sendiri pertama kali mengenalnya lebih dari dua dekade lalu, di Common Room. Saat itu, Klab Jazz, komunitas yang didirikannya, tengah menyiapkan konser JazzAid: Jazz untuk Korban Tsunami. Dalam kesempatan itu, saya dan beberapa kawan diperkenalkan pada sebuah nama baru: KlabKlassik. Kami tampil dengan gitar klasik berempat. Formatnya agak janggal. Bukan ansambel, melainkan solo bergantian....