Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
Beberapa tahun lalu, saya pernah berkonsultasi ke psikolog pernikahan. Ada sofa empuk, aroma teh hangat, dan tatapan yang penuh perhatian di seberang saya. Namun yang paling membekas justru bukan nasihat panjang atau petuah bijak. Psikolog itu, ternyata, lebih seperti sebuah cermin. Ia mendengarkan dengan penuh kesabaran, menyisipkan pertanyaan-pertanyaan yang sederhana, lalu perlahan menggali lebih dalam. Tetapi apa yang ia dengar, ia tanyakan, dan ia gali, pada dasarnya hanyalah pikiran dan perasaan saya sendiri. Ia memantulkan kembali, dan saya melihat diri saya dari sudut yang berbeda. Dari situ saya mulai bertanya-tanya: mungkinkah kehadiran orang lain seperti teman, sahabat, pasangan juga punya fungsi serupa? Kita sering mengira kita bercerita untuk memberi tahu orang lain apa yang kita alami, padahal diam-diam kita sedang berbicara kepada diri sendiri. Umpan balik mereka memang penting, tetapi inti dari percakapan itu adalah pantulan. Kata-kata kita keluar, membentur dindin...