Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
(Hasil diskusi dengan Dwihandono Ahmad yang dituliskan sebagai suplemen kelas Egoisme dan Altruisme dalam Seni Rupa yang diselenggarakan oleh NuArt Sculpture Park bersama Rakarsa Foundation, Sabtu, 25 September 2021) Egoisme dan Altruisme Egoisme dan altruisme merupakan konsep yang sering dipertentangkan dalam koridor etika normatif. Sebelum masuk ke dalam pembahasan berkenaan dengan egoisme dan altruisme, penting kiranya untuk mengulas tentang apa itu etika normatif. Etika normatif ini adalah cabang pembahasan dari etika atau filsafat moral. Selain etika normatif, ada juga meta-etika dan etika terapan. Masing-masingnya dapat dijelaskan dalam uraian singkat berikut ini: Meta-etika adalah cabang kajian etika yang membahas terkait hakikat dari kata “baik”, “wajib”, dan sebagainya. Dapat dikatakan bahwa meta-etika membahas suatu struktur di balik pembahasan mengenai etika. Contoh dalam pernyataan sehari-hari: “Kita terus-terusan membahas apa yang baik, tetapi kata ‘baik’ itu sendiri...