Skip to main content

Posts

Showing posts with the label dagang kuliner

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Sandaran

Setiap hari saya bergaul dengan para pekerja lapak yang sebagian besar diantaranya adalah perempuan. Obrolan yang terjadi bisa seputar omzet, candaan-candaan ringan, hingga curhat masalah pribadi. Masalah pribadinya begitu beragam, mulai dari korban KDRT, perselisihan dengan mantan suami, pacaran beda agama, sampai mengaku selingkuh karena tak cinta lagi pada suaminya. Persoalan-persoalan pribadi itu sudah tak perlu dibahas. Yang saya amati lebih pada: hampir semua dari mereka punya pasangan, bisa pacar atau suami, padahal usia beberapa dari mereka sangatlah muda. Ada yang masih 24 tahun, 22, bahkan 19 sudah menikah.  Mungkin fenomena semacam itu wajar saja, tetapi saya coba memandangnya dari sisi yang lain. Mereka seperti ada keharusan untuk selalu punya pasangan. Semacam cara untuk melepaskan diri dari kehidupan orang tua yang kelihatannya sulit (menurut pengakuan mereka) sekaligus sebagai sandaran psikologis atas kerja-kerja yang alienatif sebagai penunggu lapak....

Lingkaran

Kami yang terdiri dari beberapa pemilik dan pekerja lapak rutin nongkrong di sebuah warung di Batununggal nyaris setiap selesai foodcourt tutup. Apa yang dilakukan sepanjang nongkrong itu, ya begitu-begitu saja: bergosip, merokok, ngopi, makan paket sepuluh ribuan, dan kadang-kadang minum kalau sedang ada uang. Topik yang dibicarakan adalah seputaran omzet, kejadian tak biasa di foodcourt, kebijakan dari atas, atau kelakuan si ini si itu.  Memang dalam sejumlah momen, ada pembahasan yang agak dalam, seperti orientasi seksual, pengalaman-pengalaman unik, dan sejarah kegagalan percintaan. Tetapi pembahasan semacam itu tak terlalu sering. Mungkin dianggap memerlukan konsentrasi tambahan, sementara pikiran ini sudah mumet.  Dalam kondisi serumit apapun, merokok dan ngopi, kadang minum, adalah hal yang hampir wajib. Uang yang sedikit tak boleh disia-siakan untuk mengonsumsi barang-barang yang dipandang mampu menurunkan stres. Pengeluaran-pengeluaran pas nongkrong ini se...

Zoom In Zoom Out

Sejak terjun di dunia bisnis, saya menyadari sesuatu tentang dikotomi akademisi - praktisi. Memang kelihatannya praktisi ini adalah orang yang bergelut dengan kenyataan, langsung pada persoalan riil, menghadapi risiko nyata. Sementara akademisi, terutama di mata praktisi, tampak sebagai orang yang cuma bicara teori, "bacot doang", sementara masalah-masalah di lapangan seringkali berbeda dengan yang diteorikan (begitu ujar si praktisi). Memang ada benarnya. Ketika terjun berdagang, banyak hal baru yang saya pelajari, yang tak pernah saya bayangkan selama belasan tahun menjadi akademisi. Misalnya, soal perencanaan. Akademisi biasanya jago soal membuat rancangan, merumuskan dari A sampai Z, hingga memperhitungkan risiko terburuk, sehingga seolah setiap langkah akan mampu diantisipasi.  Namun dunia praktik tak selalu bisa dijalankan sesuai rancangan. Rancangan bisa terus berubah mengikuti keadaan. Bahkan keadaan ini juga seringkali sukar dimengerti. Sebagai contoh, sa...

Miniatur (2)

Di foodcourt, seluruh kompleksitas tersedia. Ada bos tenant halu yang mengklaim dirinya punya kekayaan 35 milyar, ada ibu pemilik sebuah dagangan yang mengaku tak cinta pada suaminya dan memilih untuk memadu kasih bersama pria dari masa lalunya, ada ibu solehah yang tekun membaca Herodotus, ada pasangan pedagang yang tak kunjung menikah karena beda agama, ada pekerja yang memiliki kekhasan orientasi seksual yang dalam desakan hari-hari kerja memaksa untuk libur satu hari saja demi meluapkan hasrat seksualnya, dan ada saya, yang oleh sebagian dari mereka dipanggil "si dosen", yang mengalami suatu pencerahan, karena akhirnya bergulat penuh dengan pengalaman manusia, setelah sekian lama berada di menara gading, berkutat dengan konsep bernama Kemanusiaan.  Saya sekarang paham bahwa ada interseksi antara kata-kata Dostoevsky yang kurang lebih berisi "Semakin saya cinta kemanusiaan secara umum, semakin sulit saya untuk cinta pada orang per orang," dan gagasan Levinas tent...

Miniatur

  Ada hal menarik dari kehidupan di Foodcourt Batununggal tempat saya menjajakan dagangan roti bakar dan roti kukus. Kehidupan, begitu saya menyebutnya, karena di tempat ini tidak hanya lalu lalang orang beli makanan untuk dibawa pulang atau disantap di tempat. Di Foodcourt ini juga, kami, antar pedagang dan pekerja, sering membuat momen untuk duduk bersama sejenak, berbicara tentang apa saja, keluh kesah tentang omzet, pengunjung yang tak kunjung mampir di kedainya, pengalaman berdagang sebelumnya, atau apa saja, termasuk soal hutang yang melilit hingga kehidupan asmara pribadi.  Di malam harinya, setelah pujasera tutup pukul delapan, beberapa dari kami meneruskan nongkrong di sebuah tempat di pinggiran komplek Batununggal. Terkadang kami beli minum supaya suasana lebih hangat, untuk kemudian menyanyi bersama, sebelum ditutup dengan curhat sambil diselipi candaan yang lumayan vulgar. Hal-hal semacam itu dilakukan nyaris setiap hari, menjadi rutinitas untuk melepas penat akiba...

Pulih

  Jalan beberapa hari jaga, saya mulai bosan. Rasanya berat sekali menunggui dagangan yang pembelinya terhitung sedikit. Lebih menderita lagi jika melihat barang dagangan sebelah lebih ramai dibeli. Hal yang menjadi hiburan adalah menulis terus menerus, supaya tidak terlihat bengong. Supaya tidak mati gaya.  Beberapa hari yang lalu, pas hari awal-awal saya mulai jaga, tiba-tiba saya punya keberanian untuk posting foto di Instagram. Setelah itu mulai merambah ke Facebook, lalu mulai semangat untuk posting sejumlah story di Instagram, mulai dari tentang jalannya kasus sejauh ini sampai kegiatan sehari-hari. Entah keberanian dari mana, tiba-tiba saya mem-posting story tentang tulisan-tulisan yang diturunkan dari berbagai website. Saya menuliskan, "Siapa yang mau tulisan saya? Gratis, akan saya kirimkan via e-mail". Ternyata banyak juga yang menginginkan tulisan-tulisan itu, ada lebih dari 90 orang.  Kemudian saya terpikir untuk membuat grup lagi di Whatsapp dan Telegram, ber...

Hari Pertama

    Hari ini adalah hari pertama saya berdagang di Foodcourt Batununggal. Kegiatan dagang ini memang sudah saya lakukan sejak sebulanan sebelumnya di Jalan Karawitan, tetapi baru hari ini saya mencoba untuk ikut menjaga lapak. Semalam, jujur saja, saya menangis. Kadang masih ada pikiran mengapa nasib saya jadi begini. Mengapa dari yang tadinya bisa bacot dan dapat uang lumayan, tiba-tiba harus menjajakan produk dan mengumpulkan "recehan".  Ketika dijalani, rasanya tak buruk-buruk amat. Saya bergaul bersama para pegawai penunggu kedai masing-masing dan lagi-lagi kagum pada bagaimana tubuh mereka begitu terlatih untuk menunggu. Mereka tak hanya terlatih untuk menunggu, tapi juga memastikan semuanya rapi dan bersih - hal yang begitu sulit saya lakukan. Tadinya saya membayangkan akan sibuk memasak, memainkan roti dengan lihai di atas wajan. Kenyataannya, yang sering terjadi adalah menunggu, bengong, dan berpikir keras bagaimana agar orang-orang bisa membeli. Saya baru sadar, ...

Aplikator dan Transparansi

  Sudah sebulan saya berbisnis makanan. Tentu saja saya mengaktifkan fitur online supaya dagangan lebih ramai. Memang lumayan, tiap hari ada saja yang beli lewat aplikator layanan jasa antar makanan, meskipun jumlahnya belum bisa dikatakan ramai. Karena perasaan yang begitu senang setiap adanya orderan, saya mencoba berbagai fitur promo dan diskon yang ditawarkan aplikator. Pikiran saya, "Ah, gapapa dipotong biaya promosi dan diskon agak lumayan, yang penting ramai pemesan dulu."  Memang promosi ini lumayan memberi dampak, karena bagaimanapun konsumen senang dengan potongan harga. Lama kelamaan, fitur promosi dan diskon ini makin menggiurkan. Ada yang menawarkan ruang untuk banner besar sehingga saat calon konsumen membuka aplikasi, langsung foto restoran saya yang terpampang. Bagaimana tidak menarik? Saya dengan latah mengklik saja karena yakin tampilan yang mencolok akan membuat makanan saya laku. Pembeli memang bertambah, tetapi apa yang terjadi? Suatu hari masuk biaya t...

Dosen vs Pedagang

Semenjak menyelami peran sebagai pedagang dalam beberapa minggu terakhir, saya mengalami perubahan perspektif yang lumayan serius. Saya menjalani peran sebagai dosen sejak tahun 2008 atau sekitar enam belas tahun. Selama itu juga saya merasa dosen adalah sebuah profesi yang keren dan terhormat. Tidak salah-salah amat, tetapi juga sebenarnya tidak terhormat-hormat amat. Dosen, terutama sejak era komersialisasi kampus, kadang bagi saya terlalu template , mengajar sesuai kurikulum dan kebiasaan yang telah digariskan oleh kelompok keahlian serta team teaching . Jika materi kuliah logika diambil dari bukunya Graham Priest misalnya, ya sebaiknya berpeganglah ke sana, jangan melenceng-lenceng amat. Kalau mau menambahkan suplemen, jangan sampai keterusan atau keasyikan berjalan sendiri di luar arahan.  Menariknya, dosen memang punya kuasa untuk didengarkan. Meskipun apa yang dibicarakan tidak jelas dan omong kosong, mahasiswa akan berusaha menyimak karena memerlukan nilai. Dosen pun tetap ...