Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

30hari30film: The True Story of Che Guevara (2007)


12 Ramadhan 1433 H



Pernahkah menyaksikan film tentang Che Guevara berjudul Che yang disutradarai oleh Steven Soderbergh dalam dua edisi? Jika kesulitan memahami film tersebut, jangan menyalahkan alurnya yang terlalu lambat. Bisa jadi ini diakibatkan oleh ketiadaan fondasi mengenai sejarah perjalanan hidup Che Guevara sebelumnya. Untuk itu, selain membaca literatur, ada baiknya menyaksikan film dokumenter The True Story of Che Guevara agar menjadi suplemen sebelum menikmati sajian Che Guevara yang lebih reflektif via akting Benicio Del Toro dalam Che.

Dalam sembilan puluh menit, Maria Berry berupaya merangkum kehidupan Che dari ia kecil hingga kematiannya di Bolivia. Tidak hanya itu, Berry juga mewawancarai beberapa orang yang cukup paham kehidupan “si orang Argentina” tersebut seperti Jon Lee Anderson (Penulis biografi Che Guevara: A Revolutionary Life), Hugo Morales (pemimpin Bolivia yang menganut ideologi Marxis sebagaimana Che), serta beberapa eks gerilyawan maupun petani yang di masa kecilnya pernah menyaksikan sepak terjang Che.  

The True Story of Che Guevara memulai filmnya dari kenyataan bahwa Che menebar pengaruhnya secara luar biasa di seluruh penjuru dunia. Paling mudah, kita bisa menemukan lukisan wajahnya yang amat ikonik di berbagai tempat, mulai dari grafiti hingga sablonan kaos. Setelah itu, secara tegas film bercerita tentang kehidupan Che yang membentuk dia menjadi seorang revolusionis. Sebelum Che berkeliling Amerika Latin dan membantu pergerakan kaum petani dan buruh menggulikan penindasan kapitalisme, dikisahkan bahwa dirinya berasal dari keluarga yang justru berada. Pendidikannya pun cukup mapan. Che adalah mahasiswa lulusan kedokteran. Kemudian dikisahkan bagaimana ia bertemu dengan Fidel Castro dan membantu kelompok gerilyanya untuk menggulingkan pemerintah diktatorial Kuba di bawah Fulgencio Batista. Keberhasilan Revolusi Kuba ini memberi semangat bagi Che untuk memulai revolusi di pelbagai negeri di Amerika Latin. Namun Amerika Serikat, yang tidak menyukai pergerakan Che, memilih untuk menyudahinya di Bolivia lewat aksi CIA. Che, yang bernama asli Ernesto Guevara ini, mati dieksekusi pada tanggal 9 Oktober 1967.

Meski menyuguhkan informasi yang cukup padat, namun beberapa kali ilustrasi yang ditampilkan agak kurang merepresentasikan Che sebagaimana diceritakan (setidaknya secara fisik). Che Guevara yang diperankan Maria Ramirez Reyes, bertubuh agak tambun dan tidak menunjukkan suatu karisma seorang comandante. Hal tersebut baru terasa kentara jika sudah menyaksikan film Che yang digarap Steven Soderbergh dimana Che Guevara yang diperankan Benicio Del Toro tampak sangat karismatik sebagaimana yang kerapkali dituliskan dalam literatur. Adakah hal ini krusial? Ya dan tidak. Bagi mereka yang menganut ideologi dan cara pikir Che beserta proses pembentukan pola pikirnya, tentu saja hal tersebut tidak menjadi masalah. Tapi ada juga orang yang memulai penilaian terhadap suatu figur berdasarkan karismanya, seperti bagaimana RRC mengagungkan Mao Zedong, Uni Soviet mengagungkan Lenin, Kuba mengultuskan Castro, dan -jangan jauh-jauh- Indonesia menganggap Soekarno masih mempesona.

Rekomendasi: Bintang Tiga Setengah


Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...