Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
15 Ramadhan 1433
Facing Ali adalah film dokumenter yang berkisah tentang perjalanan hidup petinju Muhammad Ali (eks Cassius Clay) dari sudut pandang orang-orang yang pernah menjadi lawan bertandingnya. Mereka yang diwawancarai adalah Joe Frazier, George Foreman, George Chuvalo, Sir Henry Cooper, Larry Holmes, Ken Norton, Ron Lyle, Ernie Shavers, Ernie Terrell dan Leon Spinks. Hampir seluruh eks lawan Ali di ring tinju ini rata-rata sudah berumur lima puluh hingga enam puluhan. Meski demikian, ingatannya tentang bagaimana mereka bertarung melawan Ali masihlah segar bugar.
Facing Ali yang disutradarai oleh Pete McCormack ini, tidak hanya berkisah tentang bagaimana Ali di atas ring. George Chuvalo, salah satu orang yang pernah bertanding melawan Ali, dengan fasih bercerita juga bagaimana sikap politik dan gerakan-gerakan kemanusiaan yang dilakukan Ali. Misalnya, Ali pernah menolak wajib militer dan mengutuk Perang Vietnam lewat pernyataannya yang terkenal: "I ain't got no quarrel with them Viet Cong... They never called me nigger.". Masuknya Ali menjadi Islam (atas dorongan mentornya, Elijah Muhammad dari Nation of Islam) juga menjadi salah satu topik yang diangkat dalam film tersebut.
Yang tak kalah menarik dari Facing Ali adalah bagaimana para petinju veteran yang diwawancara tersebut, -dalam tubuhnya yang menua- memperagakan gerakan tinju sewaktu bertarung melawan Ali -dengan diselingi rekaman lampau pertandingan yang sesungguhnya-. Facing Ali bukanlah semata-mata film dokumenter tentang Muhammad Ali, tapi juga soal bagaimana para eks lawan Ali itu bercerita tentang latar belakang kehidupan sosial dan ekonomi seorang petinju, yang kata Chuvalo, "Seorang petinju pastilah berasal dari keluarga miskin. Orang kaya tidak akan mau bertinju.". Seperti kata Ron Lyle: "Jika aku tidak pernah bertanding melawan Muhammad Ali, aku tidak akan pernah punya uang. Kamu tidak akan bisa duduk disini mewawancaraiku sebagai seorang petinju legendaris. Bertarung melawan Ali menjadi penyelamat hidupku."
Rekomendasi: Bintang Empat Setengah
Comments
Post a Comment