Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
Bagaimana menerjemahkan " mindfulness "? Saya tidak menemukan persisnya. "Perhatian" adalah kata yang muncul jika kita memasukannya di Google Translate, tapi saya yakin kata tersebut tidak memadai, meski perhatian menjadi salah satu unsur penting di dalam konsep mindfulness . Akhirnya, setelah membaca buku berjudul Mindfulness for Dummies (2010), sepertinya terjemahan 'pemusatan pikiran' lumayan cocok, meski sebelumnya sempat terpikir 'kepenuhan pikiran'. Namun soal translasi ini mungkin tidak perlu menjadi soal, karena lebih penting kita masuki gagasan pokok dari mindfulness itu sendiri (eh, saya ternyata lebih nyaman untuk tidak menerjemahkannya). Oh ya, di sini, selain berusaha menjabarkan secara sekilas (sangat sekilas) tentang apa itu mindfulness , yang akan saya lakukan justru berusaha mengritiknya. Dalam buku Mindfulness for Dummies tersebut, terdapat beberapa unsur penting yang membentuk gagasan tersebut yaitu kesadaran ( awareness ), perh...