Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
17 Ramadhan 1433 H
Monty Python adalah kelompok komedi yang dikenal pada mulanya tampil dalam bentuk sketch comedy. Sketch comedy adalah penampilan pendek sekitar satu hingga sepuluh menit yang disiarkan biasanya di televisi. Kelompok yang digawangi oleh Graham Chapman, Terry Gilliam, John Cleese,
Eric Idle, Michael Palin, dan Terry Jones ini, popularitasnya di dunia
hiburan sering disamakan dengan kelompok musik The Beatles. Film Monty Python and The Holy Grail adalah penampilan perdana kelompok yang berdiri tahun 1969 tersebut di layar lebar, setelah sebelumnya hanya tampil dalam format sketch comedy dan miniseri bernama Flying Circus.
Monty Python and The Holy Grail mengambil latar abad pertengahan. Ceritanya adalah tentang perjalanan Raja Arthur yang mencari ksatria untuk direkrut. Ia kemudian mendapatkan empat ksatria lainnya yaitu Sir Bedevere the Wise, Sir Lancelot the Brave, Sir Robin the Not-Quite-So-Brave-As-Sir-Lancelot dan Sir Galahad the Pur. Di tengah jalan, mereka mendapatkan titah dari Tuhan untuk mencari cawan suci (holy grail). Perjalanan mencari cawan suci itu memberikan banyak "celah komedi" yang dieksploitasi dengan baik oleh sang sutradara merangkap pemain, Terry Gilliam.
Monty Python and The Holy Grail rasanya bukan film komedi biasa. Ia memasukkan unsur animasi dan cut-scene yang kreatif. Lawakan yang dilontarkannya pun terdengar cerdas dan tidak banyak unsur slapstick -ini tidak aneh mengingat para anggotanya adalah lulusan Oxford dan Cambridge, kecuali Terry Gilliam yang orang Amerika-. Pada jamannya, garapan kelompok Monty Python ini cukup avant-garde, sehingga tak jarang mereka disebut juga sebagai pengusung genre komedi sureal. Bagi yang ingin menikmati komedi tidak hanya sebagai sarana tertawa, tapi juga terkandung di dalamnya unsur kecerdasan dan kreativitas, maka kelompok legendaris ini wajib untuk diapresiasi.
Rekomendasi: Bintang Empat

Comments
Post a Comment