Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2014

Tentang Menerima Kehidupan

Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu.  Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...

Kita dan Ivan Dmitrich

Ivan Dmitrich Gromov adalah salah satu tokoh dalam cerpen Ruang Inap no. 6 yang ditulis oleh Anton Chekhov. Ia adalah orang yang menjadi gila oleh sebab rasa takutnya pada sekeliling. Ivan Dmitrich sesungguhnya mahasiswa yang cerdas dan rajin membaca. Namun sejak keluarganya mengalami keruntuhan ekonomi, kejiwaannya mengalami degradasi sedikit demi sedikit. Ia menjadi takut dijebloskan ke penjara. Ia merasa orang-orang tengah berkomplot untuk menjebloskannya ke penjara. Ketika terjadi peristiwa pembunuhan di kotanya, ia merasa bahwa orang-orang menuduh ia yang menjadi pembunuhnya. Bunyi dering atau denting pintu gerbang membuatnya terperanjat dan berkeringat dingin. Tukang tungku yang rutin memindahkan tungku di dapur ia curigai sebagai polisi yang menyamar sebagai tukang tungku. Ivan Dmitrich tak terhindarkan lagi untuk dijebloskan, bukan ke penjara, melainkan ke tempat perawatan orang-orang sakit jiwa yang dinamakan dengan Ruang Inap no. 6. Sekilas mungkin kamu setuju bahwa Ivan...

Terima Kasih, Ruang Kecil!

Orang dulu bilang, banyak anak banyak rejeki. Anak saya tidak banyak, cuma satu, tapi rejekinya ada. Rejeki terbaiknya tentu saja rasa bahagia. Rejeki lainnya, misal soal pekerjaan. Tiba-tiba saja saya diterima sebagai dosen tetap di salah satu perguruan tinggi swasta setelah beberapa tahun mengajar kesana kemari dengan status honorer. Tapi agaknya terlalu naif jika saya dengan terburu-buru mengaitkan rejeki ini dengan suatu kepercayaan metafisik "banyak anak, banyak rejeki" -meskipun secara kausal, ada benarnya juga-.  Saya merasa bahwa segala proses menuju dosen tetap yang boleh dikata tidak mudah tersebut, terbantu banyak sekali dari bagaimana saya pernah bergaul di komunitas-komunitas yang ada di ruang kecil seperti Tobucil, Garasi10, KlabKlassik, Madrasah Falsafah, Klab Filsafat Tobucil, ataupun Layarkita. Tidak hanya sebatas itu bantuan mereka. Saya juga merasa sudah dibekali secara cukup oleh komunitas-komunitas tersebut sebelum memulai menjajaki karir dan pergaula...

Ruang Inap no. 6: Kegilaan dan Moralitas

"Ya, saya sakit. Tapi kan berpuluh, beratus, orang gila berlalu-lalang dengan bebas, karena kepicikan Anda tidak mampu membedakan mereka dari orang sehat. Kenapa saya dan orang-orang malang ini mesti duduk di sini menggantikan semuanya, sebagai kambing hitam. Anda, Pembantu Dokter, pengawas, dan semua babi rumahsakit, dalam hubungan susila lebih rendah tak terkira daripada masing-masing kami, tapi kenapa kami yang duduk di sini, dan kalian tidak? Di mana logikanya?" - Ivan Dmitrich Gromov dalam Ruang Inap no. 6   Setiap saya berkesempatan berjumpa dengan Pak Awal Uzhara, ia tidak henti-hentinya membicarakan cerpen Ruang Inap no. 6 . Katanya, "Ini jenis karya naturalisme tinggi yang bagus sekali." Rekomendasi Pak Awal tentu saja tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Ia mengaku "mengenal" Anton Chekhov mulai dari rentetan karya hingga riwayat hidupnya. Ketika akan memulai membaca cerpen tersebut, saya tidak mempersiapkan apa-apa. Maksudnya, saya melakuka...