Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Ulas Pameran

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Pameran Penghormatan: Menghormati Siapa (Kritik atas Pameran "Homage to Setiawan Sabana")

  (Artikel yang diturunkan dari Bandung Bergerak)  Antara tanggal 9 hingga 14 Juni 2023, telah diadakan pameran berjudul Homage to Setiawan Sabana: Nusantara dan Setiawan Sabana di Exhibition Hall Universitas Kristen Maranatha, Bandung. Pameran yang diselenggarakan oleh FSRD Maranatha bekerjasama dengan Kampus Merdeka tersebut dilabeli pameran internasional yang melibatkan 122 seniman dari 12 negara. Sebelum membahas tentang pamerannya, penting kiranya untuk menjabarkan secara singkat tentang Setiawan Sabana, seniman yang namanya dijadikan penghormatan dalam pameran tersebut.  Setiawan Sabana (SS) adalah seniman asal Bandung yang lahir 10 Mei 1951 dan wafat 27 April 2023 lalu. SS mengabdikan dirinya di dunia seni rupa sebagai akademisi di FSRD ITB dan seniman dengan proyek karya difokuskan pada grafis dengan kertas sebagai mediumnya. Sebagai seniman, SS aktif berpameran baik di dalam maupun di luar negeri. Di Indonesia, SS pernah beberapa kali berpameran tunggal termasuk...

Bali is (Not) for Sale: Ramai-Ramai Mendirikan Villa di Tanah Dwi Sri

Bali is (Not) for Sale, Ramai-Ramai Mendirikan Villa di Tanah Dwi Sri (Tulisan kuratorial untuk pameran fotografi virtual Barmen Simatupang)  Pada kesempatan kali ini, kurator memulainya proses kurasi dengan mewawancarai fotografer. Alasannya, untuk lebih fokus dan detail terhadap apa yang menjadi latar belakang dan keinginan fotografer itu sendiri terkait pameran ini. Berikut adalah petikan wawancaranya:  Kurator (K):      Boleh diceritakan sedikit terkait latar belakang Bung Barmen ada di Bali untuk melakukan kegiatan foto ini? Apakah inisiatif pribadi atau ada hal lainnya?  Fotografer (F):   Itu adalah foto-foto tahun 2015 dan saya berada di sana dalam kaitannya dengan lokakarya foto jurnalistik di Ubud. Penyelenggaranya adalah Foundry Photojournalism. Lokakarya dilakukan selama tujuh hari, tetapi sebelum Lokakarya dimulai saya sudah tiba di Bali dua minggu sebelumnya. Saya menggunakan waktu yang ada untuk mengumpulkan informasi, mencari narasumber...

Memotret Wellington: Paradoks Kota Antara yang Asing dan Bahagia

Memotret Wellington: Paradoks Kota Antara yang Asing dan Bahagia (Tulisan kuratorial untuk pameran fotografi virtual Barmen Simatupang) Hal menarik dari perkotaan mungkin adalah ini: apapun yang kita katakan sebagai esensi sebuah kota, hal sebaliknya juga adalah benar. Artinya, kota bisa jadi adalah sesuatu yang tanpa esensi atau esensi dari perkotaan adalah serba paradoksnya. Jika kita katakan Jakarta sebagai kota yang megah dengan segala gedung tingginya, maka di waktu yang bersamaan, Jakarta juga benar jika kita katakan sebagai kota yang kumuh dengan segala bangunan rentan semi-permanen. Jika kita katakan Bandung sebagai kota yang cantik dengan segala taman kota dan citra Paris van Java-nya, Bandung juga benar jika kita katakan sebagai kota yang kian sesak tanpa diimbangi oleh penambahan infrastruktur. Demikian halnya dalam konteks fotografi jalanan (perkotaan) yang dilakukan oleh Barmen Simatupang di Wellington, Selandia Baru. Dari foto ke foto, perasaan kita akan bercampur adu...

Sisifus di Ijen

Sisifus di Ijen (Tulisan kuratorial untuk pameran fotografi virtual Barmen Simatupang) Ada pertanyaan yang kerap mengusik ketika saya mengunjungi suatu tempat, di manapun itu: manakah aspek yang paling representatif dari suatu tempat, sehingga saya sudah dapat dikatakan “pernah ke tempat itu”? Kalau kita ke Singapura misalnya, orang akan dengan mudah mengatakan: “Berkunjung ke Singapura tidak lengkap jika belum mengunjungi dan berfoto di Merlion.” Demikian halnya dengan ke Jakarta, mungkin kita dianggap sudah kesana jika sudah mengunjungi Monas. Namun bisa dikatakan, bahwa representasi dari suatu tempat biasanya berhubungan dengan ikon yang dikonstruksi sedemikian rupa agar memang “layak” untuk menjadi representasi. Representasi sebuah tempat seolah jangan dibiarkan untuk tampil apa adanya karena khawatir liar, banal, dan malah jadinya “kurang representatif”. Kelihatannya apa yang menjadi kekhawatiran saya tersebut, adalah juga yang mengusik Barmen Simatupang saat melihat citra ...

Paku dan Hal-Hal yang Tidak Perlu Kita Ketahui Tentangnya

(Ditulis sebagai pengantar pameran Ridwan S. Iwonk di Festival Merawat Beda yang diselenggarakan oleh Komuji Indonesia, 22 September – 6 Oktober 2020 di Rumah Komuji, Bandung) Mari membicarakan paku dari berbagai perspektif. Misalnya, kondisi negeri kita sekarang ini, punya andil benda bernama paku di dalamnya. Iya, kita mencoblos gambar para wakil rakyat, dengan paku yang tajam, seolah-olah kita tancapkan harapan ke dada mereka. Selain itu, jangan lupakan juga dunia klenik di Indonesia, yang menjadikan paku sebagai benda penting untuk dimasukkan pada tubuh orang yang disantet (kelihatannya belum ada perkakas lain yang lebih seram untuk menggantikan paku). Lebih serius lagi, spiritualitas umat Kristiani dibangun salah satunya oleh benda bernama paku, yang digunakan sedemikian kejamnya, sehingga meneteskan begitu banyak darah Sang Mesias yang bersimbah di sepanjang Via Dolorosa . Darah itu bukan sembarang darah, melainkan darah yang menebus dosa umat manusia.  Kita paksakan untuk me...

Pameran Mind Reflection Andra Semesta: Dari Sinestesia hingga Magi Mandala

Sekitar sebulan lalu, saya diundang oleh seorang kawan, fotografer bernama Galih Sedayu, untuk menjadi pembicara tentang topik "Peran Seni Rupa dalam Industri Kreatif". Diskusi yang diadakan di Lawangwangi Art Space tersebut juga turut mengundang seniman Tisna Sanjaya. Namun bukan tentang diskusi yang ingin saya bahas dalam tulisan ini, melainkan pameran Andra Semesta yang berjudul Mind Reflection . Diskusi memang diadakan di tengah-tengah pameran tersebut, dan memang dirancang sebagai bagian dari pameran.  Andra Semesta adalah seniman rupa lulusan Wimbledon College of Arts. Apa yang menjadi proyek melukisnya sangat bertalian dengan musik. Apa maksudnya? Ada dua kemungkinan hubungan Andra dengan musik dalam hal ini: Andra menjadikan musik sebagai stimulus geraknya. Irama musik yang menggiring kemana ia harus menggerakan kuas (atau juga tangan kosong) dan irama musik juga yang membisikkan warna apa yang harus ia pilih untuk digoreskan di atas kanvas.  Ini yang lebih ...

Mengintip Asia Lewat Seni Rupa: Catatan Perjalanan di Guangzhou

Menginjak negeri Tirai Bambu adalah impian sejak lama. Dari dulu, saya mengagumi Tiongkok sebagai negeri dengan sejarah yang panjang, kebudayaan yang mendunia, filsafat yang luhur, serta masyarakat yang mau bekerja keras. Kesempatan itu datang ketika kami mendapat undangan dari Guangzhou Academy of Fine Arts untuk hadir dan berpartisipasi dalam Asian Silk Link Art Exhibition, sebuah pameran yang dihadiri oleh sejumlah negara di Asia.  Perjalanan udara dari Jakarta ke Guangzhou membutuhkan waktu kurang lebih lima jam. Setibanya di Baiyun International Airport, kami langsung diantar oleh panitia menuju hotel yang jaraknya sekitar satu jam perjalanan. Di sepanjang jalan tersebut, saya melewati gedung-gedung tinggi dengan lampu-lampunya yang gemerlap dan Sungai Mutiara yang berlalu lalang kapal pesiar di atasnya. Secara reflek, saya mengambil beberapa foto dengan menggunakan kamera ponsel dan sudah membayangkan untuk mengunggahnya di media sosial dengan menggunakan wi-fi penginap...

Merenungkan Usia Lewat Sajian Rupa

Menulis tentang pameran bapak, bukanlah suatu hal yang mudah. Memang, saya dituntut untuk menulis secara objektif. Namun apa mau dikata, terhadap anggota keluarga sendiri, tentu ada perasaan-perasaan subjektif yang tidak bisa dihindari. Meski demikian, saya akan tetap mencobanya, dimulai dengan menyebut bapak dengan nama aslinya: Setiawan Sabana.  Tanggal sepuluh Mei kemarin, Setiawan genap berusia 66 tahun. Jika demikian adanya, maka berpameran di usia tersebut tentu saja tergolong langka - apalagi, pameran tunggal -. Pameran tunggal kali ini digelar di Galeri Tapak, Shah Alam, Malaysia. Pembukaan dilakukan pada tanggal tiga belas Mei dengan sederhana dan tanpa seremoni berlebihan kecuali sekadar makan-makan. Pameran bertajuk Paperium: Tapak Rupa Jejak Usia tersebut memamerkan karya-karya Setiawan yang seperti biasa sudah menjadi cirinya: seni rupa kertas. Karya-karya Setiawan yang ditampilkan di Galeri Tapak ditampilkan dalam perspektif dua dimensi dan tiga dimensi (in...

Karena Keramik dan Mitos Keduanya Sama: Tak Tercipta dari Ruang Hampa

    (Ditulis sebagai pengantar kuratorial untuk pameran keramik Mythologies: The Holy Myth of A Clay pada tanggal 20 - 26 Mei 2017 di Galeri Pusat Kebudayaan Prancis - Bandung [IFI - Bandung]) Konon, salah satu penanda lahirnya filsafat adalah beralihnya pemikiran manusia dari fase mitos ke fase logos . Demikian yang sering disepakati orang Barat ketika menyebut filsuf pertamanya, Thales dari Miletos yang lahir sekitar tahun 500 sebelum masehi. Mengapa? Katanya, itu disebabkan oleh pernyataan Thales yang terkenal, yaitu “Alam semesta ini terbuat dari air”. Pernyataan tersebut dianggap lebih bermutu daripada serangkaian kepercayaan mitis tentang dewa-dewi sebagai asal mula sebagai sesuatu. Maka itu, dalam perjalanan pemikiran Barat –terutama di masa-masa Yunani Kuno, Renaisans, dan sebentangan zaman modern-, gaya berpikir mitis disebut-sebut sebagai gaya berpikir yang ketinggalan.  Namun belakangan mulai timbul pertanyaan: Apakah rasionalitas murni terbebas dari m...

Betawi dalam Sarnadi Adam

"Kalau orang Betawi itu.." Entah berapa kali saya mendengar Pak Sarnadi Adam memulai kalimat dengan kata-kata itu. Meski cuma enam hari berjumpa dalam rangka pameran Asian Silk Link Art Exhibition di Guangzhou, Tiongkok, Pak Sarnadi berhasil membuat saya tertarik untuk mengenal lebih jauh tentang Betawi. Siapakah Pak Sarnadi? Cukup ketik di Google nama "Sarnadi Adam" maka akan ada 3200-an entri terkait nama ini dan hampir semuanya mengaitkan beliau dengan ke-Betawi-an. Secara spesifik bahkan disebutkan bahwa Sarnadi Adam adalah seorang "pelukis Betawi", "maestro seni lukis Betawi", hingga "pelukis Betawi yang go international ".  Tapi tentu, tiada yang lebih menguntungkan daripada punya kesempatan berbincang langsung dengan Pak Sarnadi selama enam hari -daripada sekadar baca-baca tentangnya di internet-. Saya jadi tahu, bahwa Pak Sarnadi pernah berambut gondrong; saya jadi tahu, bahwa setiap dua tahun sekali, Pak Sarnadi berpamer...

Memahami Dunia Melalui Tubuh

(Dimuat dalam katalog pameran tunggal Setiawan Sabana yang berjudul Lakon Tubuh)     Hampir setiap tradisi pemikiran, punya pendapatnya sendiri mengenai tubuh. Dalam Buddhisme misalnya, tubuh dan jiwa adalah satu dan tidak bisa dipisahkan –sama dengan apa yang dipikirkan oleh filsuf Prancis, Maurice Marleau-Ponty yang mengatakan bahwa, “Manusia adalah tubuh yang mer-ruh, dan ruh yang menubuh”-. Pemikir Yunani, Plato, mengatakan bahwa tubuh adalah penjara jiwa. Artinya, yang inti dari manusia, sebenarnya, adalah jiwanya –senada dengan tradisi Islam yang menyebutkan bahwa jiwa kita pernah melakukan perjanjian primordial dengan Tuhan di surga sana, sebelum menjadi lupa karena pengaruh tubuh dan ketertarikannya pada dunia-. Michel Foucault, seorang pemikir posmodern asal Prancis, malah berkata sebaliknya. Katanya, justru jiwa adalah penjara bagi tubuh. Mengapa? Karena tubuh kadang tidak leluasa bergerak oleh sebab jiwa yang terus gelisah menginginkan sesuatu.  Namun ...