Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

30hari30film: The Hidden Fortress (1958)


22 Ramadhan 1433 H


The Hidden Fortress –atau dalam versi Jepang disebut dengan Kakushi Toride no San Akunin- adalah film yang digarap oleh sutradara legendaris Jepang, Akira Kurosawa. The Hidden Fortress dibuat empat tahun setelah Kurosawa membuat salah satu filmnya yang terkenal, Seven Samurai. Film ini diakui George Lucas sebagai inspirasi terbesarnya dalam melahirkan salah satu film paling epik dalam sejarah Hollywood: Star Wars.

Pembukaan film berdurasi 139 menit ini mengingatkan pada bagian awal Star Wars IV: A New Hope yakni dua robot bernama C-3PO dan R2-D2 yang sedang berbincang sambil berjalan di tengah gurun. Di The Hidden Fortress, yang tengah bercakap-cakap adalah dua petani bernama Tahei (Minoru Chiaki) dan Matasichi (Kamatari Fujiwara). Kedua petani yang sering tidak akur ini, menemukan emas secara tidak sengaja di dekat sungai. Penemuan emas itu diketahui oleh seorang samurai ternama, Rokurota Makabe (Toshiro Mofune) yang juga merupakan pengawal dari Putri Yuki (Misa Uehara) dari keluarga Akizuki.

Emas tersebut sangat penting bagi keluarga Akizuki dan harus diantarkan ke istana mereka segera. Rokurota tidak membiarkan dua petani tersebut pergi, ia mengajak Tahei dan Matasichi agar keduanya tidak membocorkan rahasia penting ini ke orang luar. Petualangan mengantar emas ke istana inilah yang sangat menarik sekaligus mendebarkan. Pergulatan seru antara keberanian Rokurota dengan kebodohan kedua petani yang sering tergoda untuk kabur dan membawa emas.

Film ini menyuguhkan banyak adegan seru yang ditopang sinematografi luar biasa. Contohnya adalah ketika Rokurota mengejar tentara musuh dengan kuda. Untuk ukuran teknologi tahun 1950-an, Kurosawa berhasil menyuguhkan suatu teknik pengambilan gambar sekaligus montage yang dahsyat –membuat penonton merasa berada di atas laju derap kuda yang mengikuti aksi Rokurota-. The Hidden Fortress juga penuh kandungan filosofis, misalnya ketika Putri Yuki menyanyikan kembali lagu yang ia dengarkan pada Festival Api. Lirik lagu tersebut menggetarkan, mengandung pesan kehidupan yang mendalam. Selain itu, music scoring yang digarap oleh Masaru Sato pun begitu berhasil menopang adegan sehingga kokoh dan berkesan. Meski pada mulanya didominasi terlalu banyak dialog, namun film ini bisa dibilang sempurna. Film The Hidden Fortress adalah seperti harta karun keluarga Akizuki: Bernilai tinggi –harus ditemukan dan apresiasi bagi siapapun pecinta film berkualitas-.

Rekomendasi: Bintang Lima

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...