Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2013

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Masalah Estetika

Dalam suatu kesempatan yang tidak akan pernah saya lupakan -ketika diminta mengajar estetika mendampingi dosen senior Zainal Abidin di jurusan psikologi-, saya mendapati sejumlah mahasiswa merumuskan sebuah kesimpulan: Estetika itu subjektif. Meski argumen mahasiswa-mahasiswa jurusan psikologi itu masuk akal, namun Kang Zainal merasa tidak puas. Ia kembali mencoba memancing: Apakah tidak ada sedikitpun objektivitas dalam keindahan? Apakah keindahan itu harus melulu relatif tergantung selera? Apakah ada keindahan yang lepas dari konteks ruang dan waktu? Terus menerus ia melontarkan pertanyaan ala Sokrates tersebut demi membidani kesadaran mandiri dari mahasiswanya. Terus terang, meski saya meyakini bahwa estetika tak mungkin subjektif semata, saya tidak bisa memberikan argumen yang tepat tentang keobjektifan estetika. Argumen para mahasiswa ini memang meyakinkan. Pertama-tama, mereka menunjukkan sejumlah karya seni mulai dari karya Picasso, Duchamp hingga Renoir, kemudian meminta...

Hegel

"Nalar adalah cara alam untuk melakukan kritik diri."  -Sir Muhammad Iqbal Kalimat di atas sungguh membingungkan saya hingga bertahun-tahun lamanya. Namun pelan-pelan misteri ini terkuak setelah mengetahui pengaruh filsuf Jerman era romantik, Georg Wilhelm Friedrich Hegel, yang cukup kental terhadap pemikiran-pemikiran Iqbal. Atas dasar kepenasaranan yang menahun tersebut, saya akhirnya memaksakan diri mempelajari pemikiran-pemikiran Hegel. Kenapa harus mengatakan terpaksa? Harus diakui, pemikiran Hegel dipaparkan dengan cara yang begitu rumit. Tulisannya termasuk yang paling susah dipahami. Saya pun pada akhirnya (merasa) memahami Hegel lebih banyak melalui kejadian-kejadian sekitar. Sebelum masuk ke tagline Iqbal di atas, mari renungkan terlebih dahulu: Dari mana asal kesadaran kita? Maksudnya, dari mana kita berpikir bahwa dunia hari ini sudah sedemikian kacau sehingga membutuhkan perubahan? Ketika seorang tiran membungkam mulut rakyat sehingga tidak ada lagi ce...

Seni dan Agama

Entah sejak era apa, kita akhirnya menemukan suatu dikotomi ketat antara seni, agama, sains, dan filsafat -biasa disebut empat pilar peradaban-. Keempatnya berpisah, ditekuni masing-masing, dan tidak jarang saling bertentangan. Saya mencurigai pemilahan ini adalah kerjaan para akademisi, tapi tak perlu kita bahas jauh-jauh pertentangan keempatnya. Seni dan agama, makin hari makin menunjukkan tabiat bermusuhan. Seni bahkan sering didaulat sebagai agama baru. Dalam arti, ia sama-sama mengandung denyut spiritualitas. Seorang seniman mungkin pada taraf tertentu ia mengenali gejolak dalam dirinya seperti kerinduan transendental terhadap hal besar di luar sana. Hal ini tentu saja mirip dengan tema spiritualitas dalam agama-agama. Bahkan ada kecenderungan, seni melakukannya secara lebih jujur dan pribadi. Ini sekaligus semacam kritik terhadap agama yang spiritualitasnya cenderung beramai-ramai. Problem dari beramai-ramai adalah: Apakah itu sungguh spiritualitas, atau cuma histeria massal...

Burnt by The Sun (1994): Intrik Politik di Tengah Kehangatan Keluarga

Jumat minggu lalu saya menonton film yang cukup berkesan di sebuah forum di Garasi10. Film tersebut berasal dari Rusia. Judulnya Burnt by The Sun atau dalam bahasa aslinya:  Utomlyonnye Solntsem. Film yang disutradarai oleh Nikita Mikhalkov tersebut meraih Oscar untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik tahun 1994.  Film ini awalnya sulit untuk diketahui arahnya kemana. Tidak terlihat semacam tokoh protagonis dan antagonis seperti umumnya film (yang langsung mengajak penonton untuk bersimpati ke tokoh tertentu). Nyaris sembilan puluh menit pertama dari total film dua jam setengah ini dihabiskan untuk menampilkan suasana keluarga besar yang penuh kehangatan dalam suasana liburan. Banyak pertanyaan dari saya tentang dimana letak konfliknya. Yang ada hanya bentuk kasih sayang sederhana antara Sergei Petrovich Kotov, Maroussia (istrinya), Nadia (anaknya), dan sejumlah saudara-saudaranya seperti Philippe, Vsevolod, Mokhova dan Kirik.  Kotov (diperankan oleh sang...