Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2011

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

KlabKlassik Edisi Playlist: Merayakan Runtuhnya Subjek-Objek

Edmund Husserl (1859-1938), seorang matematikawan asal Jerman, suatu hari pernah merumuskan demikian: Bahwa dunia keilmuan masa itu, dengan segala dalil subjek-objeknya, justru telah gagal menjelaskan dunia keseharian (lebenswelt ). Ilmu positif telah gagal menjelaskan pernyataan-pernyataan personal seperti, "Hari yang sendu," "Air yang suci," "Cinta yang mendalam," hingga "Tuhan yang dekat denganku." Para saintis lupa bahwa dalam dunia keseharian, apa yang dialami oleh subjek sebagai ada, itu justru yang lebih esensial ketimbang dunia yang dikonstruksi oleh distingsi subjek-objek yang miskin. Pak Bambang pernah mencontohkan pemikiran Edmund Husserl ini dengan sangat baik. Bahwa air, bagi dunia positif dirumuskan dalam H20. Tapi fenomenologi (ilmu yang kemudian dikembangkan oleh Husserl), mengatakan bahwa sah-sah saja jika air kemudian mempunyai makna yang berbeda-beda bagi individu yang berbeda-beda pula. Air bisa sangat luas, bisa sangat perso...

Dari Kakek pada Cucunya

Baguslah nak, kau suka sepakbola. Kau rajin begadang hingga terlambat sekolah. Sekarang duduklah disini di teras sambil menanti partai malam ini. Kakek akan cerita tentang tim terbaik sepanjang masa. Kau, nak, tak mungkin tak tahu Barcelona, (secara) itu tim favoritmu. Barcelona hari ini, selalu kalah dari Real Madrid. Mereka kerap berperingkat dua. Akan kakek ceritakan bagaimana Barcelona dahulu, tahun 2000-an kala kakek muda. Mereka bukan pesepakbola, nak. Mereka adalah sekelompok anak muda yang bermain bola bersama. Kau tahu bedanya? Ya, mereka mencintai permainannya. Hati mereka ada di kaki-kakinya. Kakek ingat bagaimana mereka masa itu berjaya. Madrid mengeluarkan triliunan rupiah namun tetap sulit menumbangkannya. Kakek ingat masa itu ada pemain bernama Cristiano Ronaldo dari Madrid yang belagunya minta ampun. Ia sempat jadi pemain terbaik dunia, namun di hadapan putra-putra Catalonia ia nyaris tak berdaya, kalau kakek boleh sebut tak bernyawa. Pelatihnya bernama Pep Guardiola ya...

Masih Pentingkah Sekolah?

  Jika bicara sekolah, maka kita sepakat sedang membicarakan suatu lembaga pendidikan. Namun membicarakan sekolah juga, mesti disepakati kita tengah membicarakan unsur yang mana, berhubung sekolah bukanlah sejenis persona, melainkan suatu sistem besar dan rumit. Isinya ada administrasi, fasilitas, staf, guru-dosen, siswa-mahasiswa, sistem belajar mengajar, sistem kelulusan, dan lain sebagainya. Sekolah di Indonesia juga jelas berbeda dengan sekolah di Prancis misalnya, dalam banyak segi. Dalam tulisan ini, ketika saya menyebut kata "sekolah", maka saya bermaksud membicarakan sistem belajar mengajar dan sistem kelulusannya. Dan berhubung saya tidak banyak tahu tentang sekolah di luar Indonesia, maka taruhlah setiap kata sekolah adalah mengacu pada sekolah di Indonesia. Selesai menamatkan strata satu dan strata dua dalam beberapa tahun terakhir ini, saya mulai merenungkan arti sekolah. Apa pentingnya? Adakah saya bertambah pintar, sesuai cita-cita dulu saya masuk SD pertama kal...