Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Di suasana lebaran seperti sekarang ini, tidak semua orang menjadikan hal tersebut sebagai suatu momen yang seratus persen menyenangkan. Mungkin menyenangkan bagi mereka yang, tentu saja, puasanya tamat, dan selain itu pula, punya kehidupan sosial yang dapat dikatakan bagus dalam takaran masyarakat pada umumnya. Masyarakat pada umumnya itu, ya, mereka yang menganggap bahwa ukuran kepatutan hidup adalah sekolah yang tinggi, punya mobil dan rumah, pekerjaan yang bagus dan tentu saja: menikah – dan dilanjutkan dengan: punya anak -. Pada orang-orang yang sudah mencapai hal-hal itu, maka lebaran dan bertemu keluarga serta kerabat tidak harus menjadi momok yang menakutkan. Bahkan momen lebaran bisa digunakan untuk pamer dan membangga-banggakan diri. Sebaliknya, bagi mereka yang belum memenuhi kriteria sosial semacam itu, momen lebaran, tepatnya ketika kumpul bersama keluarga dan kerabat, adalah momen yang penuh penghakiman. Pertanyaan-pertanyaan tentang sekolah, harta, pekerjaan, hingga...