Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
Di suasana lebaran seperti sekarang ini, tidak semua orang menjadikan hal tersebut sebagai suatu momen yang seratus persen menyenangkan. Mungkin menyenangkan bagi mereka yang, tentu saja, puasanya tamat, dan selain itu pula, punya kehidupan sosial yang dapat dikatakan bagus dalam takaran masyarakat pada umumnya. Masyarakat pada umumnya itu, ya, mereka yang menganggap bahwa ukuran kepatutan hidup adalah sekolah yang tinggi, punya mobil dan rumah, pekerjaan yang bagus dan tentu saja: menikah – dan dilanjutkan dengan: punya anak -. Pada orang-orang yang sudah mencapai hal-hal itu, maka lebaran dan bertemu keluarga serta kerabat tidak harus menjadi momok yang menakutkan. Bahkan momen lebaran bisa digunakan untuk pamer dan membangga-banggakan diri. Sebaliknya, bagi mereka yang belum memenuhi kriteria sosial semacam itu, momen lebaran, tepatnya ketika kumpul bersama keluarga dan kerabat, adalah momen yang penuh penghakiman. Pertanyaan-pertanyaan tentang sekolah, harta, pekerjaan, hingga...