Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
29 Ramadhan 1433 H
Stand By Me adalah film garapan Rob Reiner yang mengadaptasi novella dari penulis kenamaan Stephen King berjudul The Body. Meski King akrab dengan cerita thriller, namun The Body ini -mirip dengan ceritanya yang diangkat menjadi film terkenal yang diperankan Morgan Freeman, The Shawshank Redemption - bertemakan drama. King mengaku bahwa diantara sekian banyak upaya pengadaptasian novelnya, Stand By Me ini adalah termasuk yang berhasil. Salah satu contoh upaya adaptasi yang dilakukan sutradara sekelas Stanley Kubrick sekalipun, oleh King disebut gagal ketika mengangkat The Shining ke layar lebar.
Stand By Me dianggap sukses oleh sebab akting brilian dari empat orang anak berusia sekitar dua belas tahun. Mereka adalah Wil Wheaton, River Phoenix, Jerry O'Connell, dan Corey Feldman yang bermain sebagai Gordie Lachance, Chris Chambers, Vern Tessio, dan Terry Duchamp. Keempatnya bertualang mencari jenazah dari anak bernama Ray Brower yang hilang dan menjadi pemberitaan luas di kota mereka, Castle Rock. Namun perjalanan mereka tidak nyaman. Selain oleh sebab dilakukan dengan berjalan kaki menyusuri rel kereta api dengan jarak cukup jauh, ada sekelompok remaja yang juga mencari keberadaan mayat Ray juga. Jumlah mereka lebih banyak dan mereka menggunakan mobil. Atas motif apa kedua kelompok ini mencari mayat Ray? Sederhana saja: Ingin dianggap sebagai pahlawan instan di Castle Rock.
Stand By Me kekuatannya sungguh terletak pada akting keempat anak itu yang pasti membuat tercengang-cengang. Ekspresinya begitu kuat dan mampu menonjolkan suatu karakteristik yang khas: Gordie yang pendiam namun menyimpan banyak kekuatan, Chris yang pemberani dan setia kawan, Vern yang lamban dan penakut, serta Terry yang tengil dan selalu mengagumi ayahnya sendiri sebagai pejuang Sekutu dalam pendaratan Normandia kala Perang Dunia kedua. Tidak salah jika para aktor cilik ini kemudian begitu laku bak kacang goreng setelah penampilan brilian mereka di Stand By Me. Meski demikian, tidak serta merta film ini digolongkan sebagai film bagi anak-anak. Stand By Me menyuguhkan cukup banyak percakapan filosofis, seperti antara Gordon dan Chris berikut ini:
Gordie: Do you think I'm weird?
Chris: Definitely.
Gordie: No man, seriously. Am I weird?
Chris: Yeah, but so what? Everybody's weird.
Rekomendasi: Bintang Empat

Comments
Post a Comment