Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

30hari30film: Stand By Me (1986)

29 Ramadhan 1433 H
 


 

Stand By Me adalah film garapan Rob Reiner yang mengadaptasi novella dari penulis kenamaan Stephen King berjudul The Body. Meski King akrab dengan cerita thriller, namun The Body ini -mirip dengan ceritanya yang diangkat menjadi film terkenal yang diperankan Morgan Freeman, The Shawshank Redemption - bertemakan drama. King mengaku bahwa diantara sekian banyak upaya pengadaptasian novelnya, Stand By Me ini adalah termasuk yang berhasil. Salah satu contoh upaya adaptasi yang dilakukan sutradara sekelas Stanley Kubrick sekalipun, oleh King disebut gagal ketika mengangkat The Shining ke layar lebar.


Stand By Me dianggap sukses oleh sebab akting brilian dari empat orang anak berusia sekitar dua belas tahun. Mereka adalah Wil Wheaton, River Phoenix, Jerry O'Connell, dan Corey Feldman yang bermain sebagai Gordie Lachance, Chris Chambers, Vern Tessio, dan Terry Duchamp. Keempatnya bertualang mencari jenazah dari anak bernama Ray Brower yang hilang dan menjadi pemberitaan luas di kota mereka, Castle Rock. Namun perjalanan mereka tidak nyaman. Selain oleh sebab dilakukan dengan berjalan kaki menyusuri rel kereta api dengan jarak cukup jauh, ada sekelompok remaja yang juga mencari keberadaan mayat Ray juga. Jumlah mereka lebih banyak dan mereka menggunakan mobil. Atas motif apa kedua kelompok ini mencari mayat Ray? Sederhana saja: Ingin dianggap sebagai pahlawan instan di Castle Rock.

Stand By Me kekuatannya sungguh terletak pada akting keempat anak itu yang pasti membuat tercengang-cengang. Ekspresinya begitu kuat dan mampu menonjolkan suatu karakteristik yang khas: Gordie yang pendiam namun menyimpan banyak kekuatan, Chris yang pemberani dan setia kawan, Vern yang lamban dan penakut, serta Terry yang tengil dan selalu mengagumi ayahnya sendiri sebagai pejuang Sekutu dalam pendaratan Normandia kala Perang Dunia kedua. Tidak salah jika para aktor cilik ini kemudian begitu laku bak kacang goreng setelah penampilan brilian mereka di Stand By Me. Meski demikian, tidak serta merta film ini digolongkan sebagai film bagi anak-anak. Stand By Me menyuguhkan cukup banyak percakapan filosofis, seperti antara Gordon dan Chris berikut ini:

Gordie: Do you think I'm weird? 
Chris: Definitely. 
Gordie: No man, seriously. Am I weird? 
Chris: Yeah, but so what? Everybody's weird.

Rekomendasi: Bintang Empat

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...