Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2014

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Ketidakmungkinan Identitas

Kemarin saya berbincang dengan seorang penulis dan budayawan bernama Ahda Imran. Kami berbincang di Taman Cibeunying soal seni tradisi, kebudayaan, dan identitas. Katanya, kaum puritan, yang menginginkan segala seni mesti mengacu pada akarnya ( pure , murni), sering lupa bahwa sebenarnya akar itu sendiri tidak pernah ada yang murni. "Ada yang memainkan lagu ciptaan Mang Koko dengan cara yang lain sekali dan kemudian dikritik sebagai re-interpretasi yang keliru. Mungkin sang pengritik lupa bahwa jikapun Mang Koko masih hidup, ia juga pasti mengaku bahwa inspirasinya berasal dari sesuatu di luar," ungkap Kang Ahda. "Identitas itu hanya ada bagi orang mati," kata Rocky Gerung di suatu forum dua tahun silam, dalam rangka menjawab pertanyaan saya mengenai: Kenapa posmodernisme itu bukannya dijadikan peluang untuk menumbuhkan identitas kita? Kenapa ketika kita bicara tentang posmodernisme, kita malah kembali menoleh pada pemikiran-pemikiran Barat seperti Lyotard, Fouc...

Sekilas Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu penting untuk dipelajari sebelum memasuki dunia penelitian. Dalam filsafat ilmu, kita membedakan terlebih dahulu dengan jernih perihal, misalnya, peristilahan ilmu, pengetahuan, ilmu pengetahuan, dan sains. Dalam filsafat ilmu juga kita belajar tentang arti dari teori, paradigma, metode, dan metodologi –hal-hal yang akan sering kita dengarkan pada pelajaran mengenai kualitatif nantinya-. Namun sebelum memasuki semua bangunan tersebut, ada fundamen yang harus terlebih dahulu dipahami, yaitu epistemologi.  Epistemologi  Bidang kajian filsafat konon ada tiga, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi yaitu belajar tentang hakikat, esensi, abstraksi, dan tentang “ada” dari sesuatu. Misalnya, bagaimana memandang manusia secara ontologis? Kita bisa memandang manusia sebagai apa yang dikatakan Martin Heidegger sebagai sebuah keterlemparan. “Ada”-nya manusia terlempar begitu saja tanpa sebuah rencana dan tanpa sebuah makna. Kita bisa juga pandang man...