Skip to main content

Posts

Showing posts with the label filsafat lingkungan

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Tentang Membaca Pemikiran Latour

Untuk kepentingan sebuah forum, saya diharuskan membahas pemikiran Bruno Latour yang sebelumnya hanya saya terima tipis-tipis dari diskusi antar teman dan kuliah Bu Karlina Supelli. Saya menerima tantangan tersebut dengan hanya mempunyai waktu dua minggu. Iya, dua minggu untuk mengkaji pemikiran dari seorang filsuf yang saya tidak pernah akrabi sebelumnya. Mengapa saya bersedia? Mungkin karena forumnya tidak filsafat-filsafat amat, dan juga Latour adalah pemikir kontemporer yang baru meninggal bulan lalu, sehingga tentu mudah untuk mengakses video-video kuliahnya. Memang tidak sukar menemukan videonya yang cukup banyak itu, baik saat ia memberikan ceramah maupun menjawab wawancara, tetapi ternyata gagasannya tidak mudah juga untuk dicerna. Bahkan dalam beberapa hari pertama saya mulai menggeluti pemikiran filsuf Prancis itu, saya nyaris putus asa.  Setelah menyerah dengan buku primer, saya mengalihkan bacaan ke buku sekunder yang ditulis oleh Gerard de Vries. Pengantar yang diberik...

Thoreau di Walden

Henry David Thoreau merupakan pemikir Amerika yang menjadi bagian dari gerakan “Pemikiran Baru” ( New Thought ) bernama transendentalisme yang dimulai awal abad ke-19 sebagai usaha pencarian spiritual yang lepas dari agama-agama yang sudah “mapan”. William James menyebutnya sebagai “ the religion of healthy-mindedness ”. Prinsip dasar transendentalisme adalah mandiri dan independen. Kebaikan dan kemurnian ada secara inheren di dalam diri setiap orang yang sejalan dengan alam, tidak boleh ditekan oleh masyarakat atau institusi manapun. Terkait keselarasan dengan alam, Ralph Waldo Emerson sebagai salah satu pendiri transendentalisme menegaskannya dalam Nature : “ In the woods, we return to reason and faith. There I feel that nothing can befall me in life, — no disgrace, no calamity, (leaving me my eyes,) which nature cannot repair. Standing on the bare ground, — my head bathed by the blithe air, and uplifted into infinite space, — all mean egotism vanishes. I become a transparent eye-b...

(Mencoba) Memahami Ted Kaczynski

Beberapa hari terakhir ini, saya mengisi waktu luang dengan menonton film dokumenter tentang Ted Kaczynski yang berjudul Unabomber: In His Own Words . Film dokumenter tahun 2020 ini menceritakan tentang Ted Kaczynski, doktor matematika lulusan Universitas Michigan yang bertransformasi menjadi apa yang disebut FBI sebagai "teroris domestik". Ted melakukan serangkaian teror bom selama tujuh belas tahun, dari mulai tahun 1978 hingga tahun 1995, melukai 23 orang dan menewaskan tiga orang. Film dokumenter yang terdiri dari empat episode tersebut mengambil sudut pandang dari Ted sendiri berdasarkan hasil wawancara, serta sudut pandang lain seperti dari tetangga Ted, adik yang kemudian melaporkannya, David Kaczynski, sejumlah agen FBI, para korban, serta beberapa orang lainnya yang dianggap berkaitan.  Film tersebut menarik dan cukup berimbang dalam memberikan perspektif. Di satu sisi, Ted digambarkan sebagai seseorang yang mengalami masalah mental, tetapi di sisi lainnya, kejeniusa...

COVID-19 dan Antroposentrisme

  Kira-kira sejak minggu ketiga Juni, istri dan saya dinyatakan positif terkena virus SARS-CoV-2 atau lebih dikenal dengan COVID-19. Awal-awal badan mulai terasa kurang sehat, saya tidak langsung was-was bahwa ini adalah gejala yang berhubungan dengan COVID-19. Sekitar tiga hari sejak masa-masa kurang enak badan itu, saya sadar indera perasa hilang saat minum kopi. Besoknya, saya tidak bisa mencium bau kayu putih sama sekali dan akhirnya memutuskan untuk tes PCR. Hasilnya sudah bisa kami duga, bahwa kami terkena virus yang sedang marak tersebut. Bagi saya yang memiliki komorbid, dampak virus ini cukup serius. Setiap harinya, ada saja hal yang tidak mengenakkan mulai dari pegal-pegal, demam tinggi, batuk-batuk hampir sepanjang hari, kehilangan indra pengecap dan penciuman sehingga kurang berselera untuk makan, hingga saturasi yang naik turun (meski tidak sampai terlalu rendah).  Akhirnya masa-masa sulit itu dilewati selama kurang lebih dua minggu dan kami sekarang sudah berkegi...

Pandemi dan Demotivasi

Pandemi dan Demotivasi (Dimuat di majalah Gita Sang Surya vol. 16, No. 2, Maret - April 2021) Setahun lebih pandemi Covid-19 berada di negeri kita dan belum juga ada tanda-tanda perbaikan keadaan. Bayangan kita bahwa pandemi akan berakhir di tahun 2021 ternyata tidak terbukti. Kita akhirnya menyadari bahwa virus memahami ruang dan waktu dengan cara yang berbeda sehingga bagi mereka, pergantian tahun tidak harus sama dengan pergantian keadaan. Bahkan sekarang ini, meski vaksin sudah tersedia, tetap sukar diperkirakan kapan pandemi ini benar-benar usai dan bahkan kita dihantui kemungkinan bahwa pandemi masih akan berlangsung hingga tahun-tahun ke depan. Kehancuran yang terjadi akibat pandemi ini tidak hanya menyerang wilayah kesehatan, melainkan juga hampir di segala bidang termasuk pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sosial. Berbagai harapan dan optimisme yang tadinya mampu memberi napas panjang di tengah kehidupan yang serba sulit ini, ternyata tidak membuahkan hasil sehingga orang mu...

Menimbang Tawaran Ekologi Radikal Pentti Linkola

MENIMBANG TAWARAN EKOLOGI RADIKAL PENTTI LINKOLA (Artikel untuk serial webinar Ecophilosophy, 12 Juni 2021 bertema Pendekatan Radikal untuk Krisis Lingkungan) Membaca tulisan Pentti Linkola dalam Can Life Prevail? (2011) menimbulkan suatu perasaan yang seperti terombang-ambing. Di satu sisi, kita disuguhi oleh gambaran indah terkait lanskap suasana pedesaan di Finlandia, tetapi di sisi lain, kita diajak untuk memasuki alam pikirannya yang radikal dan penuh kemarahan. Linkola mencintai alam, tetapi bukan mencintai dengan jargon klise seperti: “Ayo kita pelihara lingkungan demi anak cucu kita.” Pandangan semacam itu, bagi Linkola, masih dikotori oleh kepentingan manusia sebagai pusat. Bagi Linkola, manusia hanyalah salah satu spesies yang ada di bumi ini, dan ia tidak lebih tinggi dari spesies lain yang juga hidup bersama kita. Menghabiskan hampir seluruh hidupnya di pedesaan, Linkola melihat bagaimana alam terus menerus mengalami degradasi akibat ulah manusia. Pertanyaannya:...