Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2012

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Awal Uzhara

Baru saja, pagi tadi, saya bertemu seorang tua bernama Pak Awal Uzhara. Ia adalah dosen di Jurusan Sastra Rusia yang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di Rusia untuk salah satunya kuliah di bidang perfilman dokumenter. Usianya saya kira 75 tahun, tapi ternyata ia lebih tua lagi. Hal itu terungkap dari cerita yang ia paparkan sendiri, "Waktu saya bekerja di Radio Moskow tahun 1995, usia saya enam puluh tahun.." Artinya, jika dihitung, maka usia beliau sekarang 82 tahun! Tentu saja kita tidak sedang membahas usia seseorang. Apa yang membuat saya sedemikian tertarik adalah tentang bagaimana pose Pak Awal ketika saya temui di perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UNPAD. Ia sedang membaca, tenang sekali, di bawah sorot lampu baca. Tangannya meraba-raba kertas untuk membantu dirinya memerhatikan detail baris demi baris. Sesekali beliau memberikan sedikit coretan di atasnya entah berisi catatan apa. Apa yang dilakukan Pak Awal secara persis saya tidak paham, tapi yang pasti ...

Jiwa yang Sangat Dalam

"...Janganlah hanya memetiki dedaunan, Atau menyibukkan diri dengan rerantingan. " Novel Musashi karya Eiji Yoshikawa, yang sedari saya kecil menghiasi rak buku di rumah, tak pernah sekalipun saya sentuh. Sampai akhirnya, beberapa bulan silam, saya mendengar Heru Hikayat, seorang kawan yang kurator, menyinggung nama Musashi dalam suatu diskusi. Saya bilang dalam diri, "Hey, rasanya novel itu menghiasi ingatan masa kecil saya. Apa tidak sebaiknya saya baca agar setidaknya ibu bangga karena novel kesayangannya dibaca sang anak?" Singkat cerita, ibu mengatakan bahwa novel itu sudah hilang entah kemana. Saya akhirnya membeli di sebuah mal di Jakarta. Novel terkenal ini masih bertebaran dan mudah ditemukan. Dua bulan lebih saya baru sanggup menyelesaikannya. Penyebabnya dua hal: Saya memang bukan pembaca novel tebal. Ini adalah tahap dimana saya merasa perlu belajar membaca novel yang ketebalannya seperti KBBI. Sehingga, saya belum terbiasa mengatur tempo ...