Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2018

Tentang Menerima Kehidupan

Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu.  Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...

Teks Musik: Suatu Pengantar

Ditulis sebagai Suplemen "Workshop Penulisan Musik" di Jendela Ide, Sabuga, 20 April 2018   Mendefinisikan Musik  Sebelum membahas literasi ataupun penulisan musik, agaknya tidak berlebihan jika kita membahas hal paling mendasar yaitu: apa itu musik? Kita bisa pertama-tama menyepakati hal ini: pada dasarnya, segala sesuatu dalam alam semesta ini bergerak dalam ritmik (orang berjalan, gerak awan, ikan berenang, dan sebagainya). Segala sesuatu juga punya keselarasan atau harmoni dengan lainnya, misalnya: matahari pagi dengan bangun manusia dari tidurnya, kehidupan ikan dan ekosistem di sekitarnya, dan sebagainya. Selain itu, melodi juga dapat kita dengar di alam semesta ini: cuitan burung, bunyi deru knalpot, sampai ke senandung orang di kamar mandi. Sebuah buku tahun 1963 berjudul ABC of Music karya Imogen Holst kira-kira merangkum seluruh deskripsi tersebut dan mendefinisikan musik sebagai "gabungan antara melodi, harmoni, dan ritmik".  Apakah suda...

Membaca (Kembali) Media Baru dan Sangkut Pautnya dengan Etika

Ditulis untuk kegiatan diskusi Moro Referensi di UNISBA, 9 April 2018. Masifnya perkembangan media baru ( new media ) dalam satu hingga dua dekade belakangan ini, telah membuat ketergantungan baru bagi kehidupan manusia kontemporer. Demikian tergantungnya, hingga sudah menjadi semacam kebutuhan primer (anak “zaman now ” pernah mengibaratkan kebutuhan itu dalam ekspresi “sandang, pangan, colokan” alih-alih ekspresi lama yaitu “sandang, pangan, papan” - menunjukkan bahwa keterhubungan daring lebih penting dari mempunyai tempat tinggal -).  Demikian tergantungnya, hingga masyarakat hari ini menganggapnya sebagai apa yang dikatakan Martin Heidegger sebagai “perpanjangan tubuh” kita sendiri. Misalnya, Kita sudah menganggap media sosial sebagai dunia sosial kita yang hakiki, kita sudah menganggap obrolan melalui Whatsapp sebagai obrolan yang hakiki, kita sudah menganggap menyaksikan representasi pertunjukan via Youtube adalah pengalaman menghadiri live performance secara ...