Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
Sejak langganan TV Kabel, saya jadi rajin nonton saluran NBATV. Karena ya, kita tahu, sudah sejak lama saluran televisi lokal tidak lagi menayangkan pertandingan basket NBA. Saya memang bukan penggemar basket sejati, tapi keberadaan NBATV ini lumayan menghibur (ketika saluran lain sedang tidak seru). Berbeda dengan NBA yang pertandingannya umumnya dilakukan di pagi hari waktu Indonesia, ada juga Eurobasket yang ditayangkan pada saat dini hari (biasanya di saluran Eurosports). Jika bicara kualitas permainan, tentu saja NBA lebih menyenangkan untuk ditonton. Selain karena pemainnya lebih berkualitas (tanpa merendahkan kualitas pemain Eropa), NBA juga sukses mengemas kompetisinya menjadi panggung hiburan besar -alih-alih tayangan olahraga biasa-. Meski demikian, ada hal menarik yang dapat diperhatikan dari perbedaan antara dua kompetisi ini, yaitu sikap penonton dalam mendukung tim kesayangannya. Penonton NBA tentu saja ramai. Mereka kompak meneriakkan " Defense ! Defense !...