Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
Dimulai Desember kemarin, saya tiba-tiba ingin belajar gambar. Gurunya siapa, tidak tahu. Tapi ketika sedang melihat-lihat linimasa di Facebook, tanpa sengaja saya memperhatikan akun seseorang yang sebenarnya sudah saya kenal sejak lama, yaitu R.E. Hartanto - biasa dipanggil Mas Tanto-. Ternyata, dari posting - posting -nya bisa disimpulkan, selain sebagai seorang seniman rupa yang cukup produktif, Mas Tanto juga senang mengajar gambar (untuk yang terakhir ini, memang saya baru tahu). Tanpa pikir panjang, saya sapa dia di fitur pesan Facebook dan kami langsung berbincang untuk sepakat soal harga, waktu les, dan materi belajarnya - yang ia sebut sebagai realisme optis ( optical realism )-. Oia, Mas Tanto, yang cukup nyentrik ini, menyebut program kursusnya sebagai "Klinik Rupa Dokter Rudolfo". Apa yang dipelajari pada mulanya? Awalnya, jujur saja, saya agak ragu. Bagaimana mungkin, tugas pertemuan pertama adalah belajar membuat garis melengkung sebanyak satu rim! Cara m...