Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
(Ditulis sebagai suplemen diskusi "Manusia Paripurna", 28 Juli 2019 di Rumah Komuji) Ketika membicarakan tentang konsep "manusia paripurna", agaknya tidak banyak tokoh dalam filsafat Barat yang membicarakannya secara gamblang. Kebanyakan dari mereka menyisipkannya dalam suatu pemikiran tentang etika, mengenai nilai-nilai yang seyogianya dipegang oleh manusia. Misalnya, Aristippus menganggap bahwa kebaikan tertinggi dimulai dari kepuasan ragawi. Sementara Diogenes sebaliknya, kebaikan tertinggi adalah penolakan terhadap kemelekatan dan sikap sinis pada dunia. Atau jika melompat ke zaman Pencerahan di abad ke-18, Immanuel Kant mengatakan bahwa kebaikan tertinggi seyogianya mengandaikan bahwa apa yang kita lakukan punya maksim universal. Namun seorang filsuf di era antara romantik dan modern ada yang dengan berani bicara tentang "manusia paripurna". Namanya Friedrich Nietzsche (1844 - 1900) dan ia bicara tentang konsep übermensch atau...