Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
(Ditulis sebagai suplemen diskusi "Manusia Paripurna", 28 Juli 2019 di Rumah Komuji) Ketika membicarakan tentang konsep "manusia paripurna", agaknya tidak banyak tokoh dalam filsafat Barat yang membicarakannya secara gamblang. Kebanyakan dari mereka menyisipkannya dalam suatu pemikiran tentang etika, mengenai nilai-nilai yang seyogianya dipegang oleh manusia. Misalnya, Aristippus menganggap bahwa kebaikan tertinggi dimulai dari kepuasan ragawi. Sementara Diogenes sebaliknya, kebaikan tertinggi adalah penolakan terhadap kemelekatan dan sikap sinis pada dunia. Atau jika melompat ke zaman Pencerahan di abad ke-18, Immanuel Kant mengatakan bahwa kebaikan tertinggi seyogianya mengandaikan bahwa apa yang kita lakukan punya maksim universal. Namun seorang filsuf di era antara romantik dan modern ada yang dengan berani bicara tentang "manusia paripurna". Namanya Friedrich Nietzsche (1844 - 1900) dan ia bicara tentang konsep übermensch atau...