Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Filsafat Sains

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Membela Interpretivisme

Dalam acara Philofest pertengahan Desember lalu, saya berdebat dengan Taufiqurrahman perihal pendekatan dalam ilmu sosial. Saya membela interpretivisme, sementara Taufiq membela naturalisme. Yah, sejujurnya, bisa jadi gara-gara arena debat itulah, kami harus mengambil posisi berseberangan secara ekstrem. Padahal mungkin dalam keseharian, dua pendekatan tersebut kami gunakan secara bergantian. Tergantung kebutuhan.   Dalam debat tersebut, saya memulainya dengan menjabarkan optimisme filsuf Prancis abad ke-19, Auguste Comte, yang menyatakan bahwa penjelasan-penjelasan ilmu alam kelak akan bisa juga menjelaskan dunia manusia. Dunia manusia, menurut Comte, selama ini hanya didekati dengan cara-cara teologis - metafisis yang menurutnya tidak memadai. Lebih persisnya, Comte percaya bahwa dunia manusia kelak akan dapat dijelaskan lewat studi tentang sistem organisme. Bahkan hal demikian dapat menjelaskan tidak hanya manusia secara individual maupun sosial, tapi juga gerak peradaban manusi...

Pseudosains

Mungkin tampak jelas bagi sebagian dari kita untuk membedakan mana yang sains dan mana yang bukan. Pawang hujan jelas bukan sains karena seorang pawang bisa bicara tentang "kekuatan pikiran" dan "alat pengendali langit" untuk mengatur turunnya hujan tanpa bisa ditunjukkan apakah fakta bahwa hujan turun atau tidak benar-benar tergantung dari "metode" yang ia praktikkan atau bukan. Katakanlah seorang pawang hujan sudah melakukan ritual ini itu dan ternyata hujan tidak terjadi, maka dengan demikian "metode"-nya tersebut bisa dianggap sahih. Namun di sisi lain, bisa juga kejadian: pawang hujan sudah melakukan ritual ini itu tapi hujan tetaplah terjadi. Jika ditanya, pawang hujan tersebut biasanya menjawab, "Awan sudah kepenuhan dan harus dikurangi bebannya, maka itu dia tidak bisa tidak menurunkan hujan." Apapun yang ia katakan, semuanya tidak bisa dibuktikan. Bahkan meskipun ia menceritakan metodenya secara rinci, toh tidak semua orang bi...

Tentang Membaca Pemikiran Latour

Untuk kepentingan sebuah forum, saya diharuskan membahas pemikiran Bruno Latour yang sebelumnya hanya saya terima tipis-tipis dari diskusi antar teman dan kuliah Bu Karlina Supelli. Saya menerima tantangan tersebut dengan hanya mempunyai waktu dua minggu. Iya, dua minggu untuk mengkaji pemikiran dari seorang filsuf yang saya tidak pernah akrabi sebelumnya. Mengapa saya bersedia? Mungkin karena forumnya tidak filsafat-filsafat amat, dan juga Latour adalah pemikir kontemporer yang baru meninggal bulan lalu, sehingga tentu mudah untuk mengakses video-video kuliahnya. Memang tidak sukar menemukan videonya yang cukup banyak itu, baik saat ia memberikan ceramah maupun menjawab wawancara, tetapi ternyata gagasannya tidak mudah juga untuk dicerna. Bahkan dalam beberapa hari pertama saya mulai menggeluti pemikiran filsuf Prancis itu, saya nyaris putus asa.  Setelah menyerah dengan buku primer, saya mengalihkan bacaan ke buku sekunder yang ditulis oleh Gerard de Vries. Pengantar yang diberik...

Sekilas Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu penting untuk dipelajari sebelum memasuki dunia penelitian. Dalam filsafat ilmu, kita membedakan terlebih dahulu dengan jernih perihal, misalnya, peristilahan ilmu, pengetahuan, ilmu pengetahuan, dan sains. Dalam filsafat ilmu juga kita belajar tentang arti dari teori, paradigma, metode, dan metodologi –hal-hal yang akan sering kita dengarkan pada pelajaran mengenai kualitatif nantinya-. Namun sebelum memasuki semua bangunan tersebut, ada fundamen yang harus terlebih dahulu dipahami, yaitu epistemologi.  Epistemologi  Bidang kajian filsafat konon ada tiga, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi yaitu belajar tentang hakikat, esensi, abstraksi, dan tentang “ada” dari sesuatu. Misalnya, bagaimana memandang manusia secara ontologis? Kita bisa memandang manusia sebagai apa yang dikatakan Martin Heidegger sebagai sebuah keterlemparan. “Ada”-nya manusia terlempar begitu saja tanpa sebuah rencana dan tanpa sebuah makna. Kita bisa juga pandang man...

Perkembangan Ilmu Sosial

Sebelum berbicara soal pendekatan kualitatif, terlebih dahulu kita harus bicara tentang kenyataan ilmu-ilmu sosial. Namun sebelum berbicara tentang kenyataan ilmu-ilmu sosial, ada baiknya juga kita bicara tentang kenyataan ilmu-ilmu alam.  Sejarah Singkat Ilmu Alam: Fase Mitos  Jika kita mencoba menalar dengan pikiran kita sendiri, mungkin manusia terlebih dahulu berkutat dengan misteri alam semesta ketimbang misteri tentang manusia. Kenapa? Karena segala kebutuhan hidupnya yang paling dasariah tentu saja ia dapatkan dari alam. Ia sangat bergantung pada sungai, tanah, hujan, pohon, tumbuhan, hingga hewan-hewan. Manusia mula-mula mencoba memecahkan bagaimana caranya agar segala sesuatu itu terkontrol dengan baik sehingga hidupnya sendiri menjadi sedikit demi sedikit lebih terprediksi. Bayangkan jika manusia hanya mengandalkan hewan buruan yang berkeliaran di hutan-hutan liar yang rimbun dan gelap, tentu saja ia tidak bisa memprediksi apakah hewan tersebut akan ada esok...