Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Pelajaran Filsafat

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Psychologismus-Streit dan Asal-Usul Perpecahan Aliran Kontinental dan Analitik dalam Filsafat

  Di akhir abad ke-19, diawali dari usaha pemisahan psikologi dari filsafat, muncul istilah Psychologismus-Streit atau "perselisihan psikologisme". Apa itu psikologisme? Psikologisme adalah pandangan bahwa segala konsep/ gagasan dalam filsafat (batasan pengetahuan, sistem logika, dan lain-lain) dapat ditarik penjelasannya pada pengalaman mental atau proses psikologis (Vrahimis, 2013: 9). Posisi psikologi yang kian mantap dengan penelitian empiriknya membuat filsafat mesti mendefinisikan kembali tugas dan posisinya: jika segala problem filsafat bisa direduksi pada aspek mental, masih adakah sesuatu yang disebut sebagai filsafat "murni"?  Menariknya, perselisihan ini tidak hanya di ranah perdebatan intelektual, tapi juga terbawa-bawa hingga ke ranah politik. Pada tahun 1913, 107 filsuf, beberapa diantaranya adalah Edmund Husserl, Paul Natorp, Heinrich Rickert, Wilhelm Windelband, Alois Riehl, dan Rudolf Eucken menandatangani petisi yang menuntut menteri kebudayaan Jer...

Kata Carolyn Korsmeyer tentang Estetika

Berkat Mbak Ikhaputri Widiantini, dosen filsafat Universitas Indonesia, saya jadi mengenal pemikir bernama Carolyn Korsmeyer yang bagi saya, menawarkan sudut pandang yang berbeda tentang estetika. Keterlibatan saya dengan gagasan Korsmeyer dipicu oleh undangan dari forum LogosFest untuk mempresentasikan topik tentang keadilan dan kesetaraan gender dalam seni - topik yang sebelum-sebelumnya kurang akrab bagi saya, tetapi kemudian digeluti juga seiring waktu, terutama dalam setahun belakangan. Pandangannya tentang estetika dituangkan Korsmeyer dalam buku yang berjudul Gender and Aesthetics: an introduction (2004). Sejumlah poin yang dirasa menarik akan dituangkan dalam tulisan ini. Korsmeyer menjabarkan terlebih dahulu definisi keindahan yang ditarik dari abad ke-18, terutama mengacu pada pandangan Edmund Burke (1727 - 1797) dan Immanuel Kant (1724 - 1804). Burke mengatakan bahwa keindahan suatu objek ditarik dari ekstrapolasi tubuh perempuan, terutama dari bagian dada dan leher (2004: ...

Kata Georg Simmel tentang Sifat yang Hanya Muncul Akibat Uang

Georg Simmel adalah sosiolog asal Jerman yang terkenal salah satunya karena menulis buku berjudul The Philosophy of Money (1900). Di dalam buku yang tebalnya kira-kira enam ratusan halaman tersebut, Simmel menuliskan pandangannya mengenai uang dari sudut pandang filsafat, psikologi dan sosiologi. Menariknya, Simmel tidak terlalu membahasnya dari sisi ekonomi ataupun memandangnya secara kritis seperti Marx. Secara garis besar, Simmel malah terkesan pesimistik: menunjukkan bahwa kita tidak mungkin lepas dari uang dan bahkan semakin canggih perkembangan akal budi manusia, justru makin menerima macam-macam uang yang tidak rasional!  Sebagai contoh, pada mulanya, uang merupakan sertifikat yang merepresentasikan cadangan logam mulia di suatu wilayah. Namun lama-kelamaan, hubungan uang dengan apa yang direpresentasikannya ini diputus dan nilai uang menjadi dijamin hanya oleh otoritas. Artinya, hanya kepercayaan pada otoritas saja yang membuat uang menjadi bernilai dan bagi Simmel, ini ju...

Anarkisme dan Kristianitas Menurut Jacques Ellul

  Jacques Ellul (1912 – 1994) adalah pemikir Prancis yang banyak memfokuskan gagasannya pada teknologi, media dan anarkisme. Sebagai seorang Kristiani, ia kerap mendasarkan berbagai argumennya pada Alkitab, termasuk yang dibahas dalam tulisan ini, yaitu terkait anarkisme. Dalam bukunya yang berjudul Anarchism and Christianity , Ellul mengurai bahwa anarkisme tidak hanya kompatibel dengan Kristianitas melainkan lebih dari itu, di dalam Kristianitas, sudah terkandung secara inheren gagasan-gagasan anarkisme.  Anarkisme, singkatnya, adalah aliran pemikiran yang menghendaki penghapusan otoritas dan hierarki. Dalam mencapai tujuannya tersebut, para pemikir anarkisme punya pandangan yang berbeda-beda. Ellul sendiri memilih untuk setia pada jalur non-kekerasan sebagai jalur yang dianggap sejalan dengan ajaran Yesus. 1 Koheren dengan pandangan anti-otoritas dan anti-hierarki-nya anarkisme, Ellul dengan tegas menolak partisipasi politik dalam bentuk apapun. 2 Namun ia sendiri mene...

Thoreau di Walden

Henry David Thoreau merupakan pemikir Amerika yang menjadi bagian dari gerakan “Pemikiran Baru” ( New Thought ) bernama transendentalisme yang dimulai awal abad ke-19 sebagai usaha pencarian spiritual yang lepas dari agama-agama yang sudah “mapan”. William James menyebutnya sebagai “ the religion of healthy-mindedness ”. Prinsip dasar transendentalisme adalah mandiri dan independen. Kebaikan dan kemurnian ada secara inheren di dalam diri setiap orang yang sejalan dengan alam, tidak boleh ditekan oleh masyarakat atau institusi manapun. Terkait keselarasan dengan alam, Ralph Waldo Emerson sebagai salah satu pendiri transendentalisme menegaskannya dalam Nature : “ In the woods, we return to reason and faith. There I feel that nothing can befall me in life, — no disgrace, no calamity, (leaving me my eyes,) which nature cannot repair. Standing on the bare ground, — my head bathed by the blithe air, and uplifted into infinite space, — all mean egotism vanishes. I become a transparent eye-b...

Selayang Pandang Ekonomi Syariah

 (Ditulis sebagai suplemen untuk Kelas Santai Menelusuri Kepentingan Diri, 19 Juni 2021)    Ekonomi syariah secara sederhana diartikan sebagai kegiatan memenuhi kebutuhan yang sesuai dengan hukum-hukum dalam agama Islam, yang kedudukan tertingginya ada pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pertanyaannya, mengapa mesti ada ekonomi yang berbasis agama? Tidakkah usaha pemenuhan kebutuhan diri bisa dilihat sebagai sesuatu yang kodrati, sehingga tidak memerlukan suatu acuan yang transendental? Atau jikapun perlu ada acuan, tidakkah cukup untuk mengacu bahwa dalam usaha memenuhi kebutuhan diri, orang hanya tinggal menakar apakah usahanya ini mengganggu kepentingan orang lain atau tidak?  Pembahasan tentang ekonomi syariah bisa dimulai dari pembahasan tentang ekonomi kapitalisme dan hubungan di antara keduanya. Hal tersebut hanya bisa dijawab dengan pertama-tama mendefinisikan apa itu kapitalisme sendiri. Segala bentuk pertukaran barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan tidak bisa ...

Utilitarianisme

(Ditulis sebagai suplemen untuk Kelas Santai Menelusuri Kepentingan Diri, 5 Mei 2021) Pembahasan tentang utilitarianisme memang harus menyinggung pemikir asal Inggris, John Stuart Mill (1806 – 1873). Dalam buku berjudul Utilitarianism (1863), ia merumuskan dengan cukup rinci pandangan moral utilitarianisme yang berlandaskan pada prinsip kegunaan. Sebelum Mill, sebenarnya sudah ada Jeremy Bentham (1748 – 1832) yang meletakkan prinsip dasar utilitarianisme dalam buku berjudul An Introduction to the Principles of Morals and Legislation (1789). Menurut Bentham, utilitarianisme adalah “kebahagiaan sebesar mungkin bagi jumlah yang sebesar mungkin” (“ the greatest happiness for the greatest number ”). Saat ditanya, kebahagiaan semacam apa yang dimaksud? Bentham menjawabnya dengan argumen hedonisme: mendekati rasa nikmat ( pleasure ) dan menjauhi rasa sakit ( pain ). Sampai titik itu, kelihatannya Bentham sudah cukup kokoh dalam merumuskan utilitarianisme, sampai kemudian ia bergerak lebih ja...

Merkantilisme

(Ditulis sebagai suplemen untuk Kelas Santai Menelusuri Kepentingan Diri, 21 April 2021)   Merkantilisme adalah paham tentang nasionalisme ekonomi yang berkepentingan membangun negara yang kuat dan sejahtera. Sistem ini umumnya mendominasi pemikiran dan kebijakan di Eropa Barat dari mulai abad ke-16 hingga akhir abad ke-18. Tujuan dari aliran pemikiran ini adalah untuk mendapatkan keuntungan berlimpah dari transaksi ekspor - impor yang berujung pada kesejahteraan domestik. Transaksi tersebut, contohnya, adalah berupa impor bahan mentah untuk diolah menjadi barang jadi dan dijual kembali sehingga negara mendapatkan surplus. Contoh dari penerapan pemikiran merkantilisme ini adalah keberadaan British East India Company atau EIC (1600 – 1874) dan Dutch East India Company atau VOC (1602 – 1799) yang berdagang dengan cara ekspansi ke banyak negara (untuk mendapatkan bahan mentah). Meski berstatus sebagai perusahaan dagang, mereka didukung penuh oleh negara dan bahkan diberi senjata. Pada...

Mengajar Filsafat untuk Anak

MENGAJAR FILSAFAT UNTUK ANAK Kurang dari setahun lalu, saya bertemu secara virtual dengan Aurea Rahel dari Omah Sindo, semacam komunitas homeschooler. Setelah sepakat mengadakan kelas filsafat pendidikan yang ditujukan terutama untuk orangtua dari para homeschooler dan berjalan selama delapan pertemuan, kami kemudian membicarakan rencana berikutnya untuk menggelar kelas filsafat bagi anak. Seperti apa itu kelas filsafat bagi anak? Jujur, saya tidak tahu, dan sama sekali tidak terbayang. Selama mengajar filsafat, murid-murid saya pada umumnya adalah mahasiswa. Kalaupun ada yang di bawah itu, paling muda adalah seumuran SMA. Sementara definisi anak yang ingin disasar Mbak Rahel adalah hingga sepuluh tahun! Pertanyaan besarnya adalah apakah mereka bisa belajar filsafat? Bukankah ini adalah pelajaran "rumit" yang berbahaya bahkan bagi orang dewasa sekalipun? Jika di pendidikan formal di Indonesia, bahkan filsafat ini bisa jadi baru diajarkan di program pascasarjana, saat ora...

Kelas Isolasi, Kiprahnya Sejauh Ini

Kelas Isolasi adalah proyek yang dibuat oleh Al Nino Utomo, mahasiswa semester tujuh di Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan, dengan saya, yang diinisiasi di sebuah tempat di wilayah BKR, Bandung, pada 19 Maret 2020. Waktu itu idenya adalah kelas filsafat daring sebagai respons terhadap situasi pandemi yang mulai masuk ke Indonesia pada pertengahan bulan Maret 2020. Tidak banyak yang kami bicarakan saat itu, selain bahwa proyek ini harus segera dimulai, karena di tengah kepanikan orang di masa pandemi, kami harus membuat suatu kelas yang mungkin dapat mengalihkan orang dari kepanikan itu.  Kebetulan, saya memang sudah lama berpikir tentang kelas filsafat daring. Bahkan sudah pernah dengan lengkap membuat skemanya, hingga terpikir dinamai dengan "kelas insom". Mengapa "kelas insom"? Karena waktu belajarnya yang di atas jam sembilan, yang sedemikian rupa sehingga mereka yang mahasiswa kemudian menjadi telat untuk bangun pagi dan masuk kuliah. Ta...

Kelas Kajian Eksistensialisme: Nietzsche Ya Nietzsche

*) Ditulis sebagai pengantar Kelas Kajian Eksistensialisme: Friedrich Nietzsche di Garasi10, 8 Januari 2018. Nietzsche dan Eksistensialisme  Ketika membicarakan para pemikir eksistensialisme, nama Friedrich Nietzsche (1844 - 1900) tidak selalu secara otomatis dikait-kaitkan. Alasannya, kemungkinan, selain dia tidak sering membawa-bawa kata “eksistensi” dalam tulisan-tulisannya, Nietzsche juga tampak sebagai pemikir yang soliter dan berdikari di tengah sejarah pemikiran - artinya, ia tidak mudah digolongkan pada “isme-isme” apapun. Nietzsche ya Nietzche-.  Pertanyaannya, mengapa ia tampak sebagai pemikir yang soliter dan berdikari? Ada beberapa penyebab: Pertama, Nietzsche benar-benar otentik. Ia menulis dalam suatu rasa muak yang kuat terhadap zaman, sehingga kita yang membacanya, turut merasakan mual di perut. Tulisannya benar-benar mencerminkan suatu kemarahan yang hebat dan merusak - yang membuat siapapun rasanya tidak mungkin membaca Nietzsche dalam seka...