Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
21 Ramadhan 1433 H
Persona adalah film bergaya
film-noir dari sutradara legendaris
asal Swedia, Ingmar Bergman. Bergman cukup terkenal dengan karya-karya filmnya
yang absurd, filosofis, dan secara spesifik sering menyinggung tentang silence of God. Untuk memahami film-film
Bergman, penonton agaknya tidak bisa menontonnya hanya mengandalkan pengindraan
semata. Mesti ada sedikit suplemen, wawasan, atau kebiasaan berpikir filosofis
agar terlacak pesan apa yang dimaui sang sutradara. Hal tersebut tentu saja
berlaku juga untuk film Persona.
Persona, film berdurasi 85 menit ini berpusat pada dua orang saja. Pertama,
adalah perawat bernama Alma (Bibi Anderson) dan
pasiennya, Elisabet
Vogler (Liv Ullman), seorang artis. Vogler sehat secara fisik dan mental, namun
hal yang menyebabkan dia dirawat adalah satu: ia tak pernah bicara sepatah pun.
Sebaliknya, suster Alma
begitu ekstrovert. Selalu berbicara, bercerita, dan mengisahkan apa saja pada
sang pasien. Vogler tak pernah menanggapi, namun ia merespon dengan senyum dan
terkadang sentuhan.
Persona, yang merupakan film favorit penulis Susan
Sontag, merupakan film dengan latar minimalis: Selain keberadaan musik yang
hanya muncul sesekali, total pemeran dalam film tersebut hanya lima
orang, dengan penampil yang lain, -selain suster
Alma dan Elisabet Vogler- cuma muncul kurang dari semenit. Tidak
hanya percakapannya yang mengandung pesan kuat, melainkan juga pengambilan
gambarnya yang berulang kali menyejajarkan dan menyimetriskan wajah suster Alma dan Elisabet
Vogler. Apa artinya? Jangan-jangan, -interpretasi yang paling sederhana-
keduanya adalah orang
yang sama, namun dengan dua kepribadian yang berbeda.
Namun seperti biasanya film-film
Bergman, kita tidak akan mendapati jawaban semacam ini seperti halnya
menyaksikan film Fight Club dari
David Fincher. Meskipun sama-sama membicarakan alter-ego, namun Persona
lebih menyisakan misteri dan mengundang banyak diskusi. Misalnya, bagaimana
menjelaskan adegan pembuka film yang isinya merupakan montase dari mulai tangan
yang dipaku hingga penis yang sedang ereksi! Harus diakui, meski film ini susah dicerna, namun kita
bisa tetap merasakan sensasi kegelapannya.
Rekomendasi: Bintang Lima
Comments
Post a Comment