Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Setelah menulis Demotivasi I (2020) dan Demotivasi II (2021), rasanya saya perlu menggenapkan (atau mengganjilkan) jumlahnya menjadi tiga dengan menulis Demotivasi III - supaya mungkin lebih bagus terdengar sebagai trilogi ketimbang dwilogi (yang mengingatkan saya pada Padang Bulan -nya Andrea Hirata). Namun itu bukan artinya bahwa Demotivasi III adalah penutup. Bisa jadi, saya menulis lagi sampai IV, V, VI, dan seterusnya. Entahlah. Menulis yang pertama saja awalnya cuma sekadar impulsif, mencari cara bertahan hidup di masa pandemi, dan ternyata penjualannya tidak buruk, sehingga saya memutuskan menulis yang kedua, sekalian mengerucutkan renungan tentang demotivasi itu sendiri. Jadi, menulis hingga jilid tiga tidak pernah saya rancang sejak awal dan begitu saja terjadi. Dengan demikian, saya juga tidak berani memprediksi apakah Demotivasi akan ditutup di edisi tiga atau masih akan ada edisi-edisi berikutnya. Untuk jilid ketiga ini, saya mencoba mengambil beberapa jalur yang berbe...