Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Soal Papap saya mungkin cukup sering menceritakannya. Sekarang saya akan cerita tentang almarhumah, yang wafat tahun 2018. Selama hidup, memang saya lebih dekat dengan Papap ketimbang Mamah. Alasannya, entah kenapa ya, saya merasa Mamah itu adalah sosok yang terlalu suka mengalah, seperti terlampau permisif. Saya lebih kompatibel dengan sifat Papap yang ambisius dan intens pada apa yang dikerjakannya. Namun dalam renungan akhir-akhir ini, saya justru merasa lebih paham tentang sifat-sifat almarhumah. Mamah adalah sosok perempuan dengan beban ganda. Sambil bekerja sebagai pengajar di jurusan Sastra Jepang, Universitas Padjadjaran, tempatnya mengabdi selama lebih dari 25 tahun, Mamah juga mengurus rumah tangga, tepatnya tiga anggota keluarga lain yang kesemuanya laki-laki: Papap, Engkang, dan saya. Tak hanya itu, Mamah juga mengelola segala hal yang bersifat " public relation " dengan pihak eksternal seperti keluarga besar, rekan-rekan kerja, tetangga, hingga orang-orang yan...