Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
30 Ramadhan 1433 H
Rekomendasi: Bintang Lima
Battleship Potemkin adalah film bisu yang disutradarai oleh Sergei Eisenstein. Sutradara asal Uni Soviet itu membuat Battleship Potemkin, selain memang dalam rangka propaganda revolusi, tapi juga untuk memperlihatkan bagaimana teknik montage atau editing, dapat memberikan suatu respon emosional bagi penontonnya. Banyak adegan dari karya berdurasi sekitar tujuh puluh menit ini diadopsi oleh beberapa film ternama seperti The Untouchables (disutradarai Brian de Palma) dan Brazil (Terry Gilliam).
Battleship Potemkin berkisah tentang pemberontakan para awak kapal perang Potemkin yang dipicu oleh ketidakpuasan terhadap makanan di kapal yang sudah busuk. Warga Odessa yang simpati terhadap pemberontakan ini, kemudian dibantai oleh tentara Tsar di adegan "tangga Odessa" yang fenomenal. Cerita ini dibagi dalam lima bagian: Men and Maggots, Drama on The Deck, A Dead Man Calls for Justice, The Odessa Staircase, dan The Rendezvous with The Squadron.
Battleship Potemkin menunjukkan suatu kekuatan orisinil yang bisa diproduksi oleh film: Bahwa kekuatannya bukan dari musik, bukan dari aktor, dan bukan dari skenario (karena tiga hal ini adalah sumbangsih dari seni non-film), melainkan dari teknik editing serta pengadegan yang sering diistilahkan dengan mise en scene. Para sutradara mesti terlebih dahulu melampaui dua teknik terakhir ini sebelum mereka memberi sentuhan tambahan yang diperolehnya dari "sumber eksternal". Selain itu, secara jujur Battleship Potemkin juga diakui sebagai suatu bentuk propaganda. Hal yang agaknya mengukuhkan pendapat mereka yang percaya bahwa seni haruslah punya fungsi persuasi -jika kata propaganda terlalu keras-. Art for art's sake dianggap kredo yang terlalu idealis dan tidak punya guna apa-apa bagi masyarakat. Battleship Potemkin adalah film yang terlampau penting untuk dilewatkan. Ini adalah harta tak ternilai dalam sejarah sinema.
Rekomendasi: Bintang Lima
Comments
Post a Comment