Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
30 Ramadhan 1433 H
Rekomendasi: Bintang Lima
Battleship Potemkin adalah film bisu yang disutradarai oleh Sergei Eisenstein. Sutradara asal Uni Soviet itu membuat Battleship Potemkin, selain memang dalam rangka propaganda revolusi, tapi juga untuk memperlihatkan bagaimana teknik montage atau editing, dapat memberikan suatu respon emosional bagi penontonnya. Banyak adegan dari karya berdurasi sekitar tujuh puluh menit ini diadopsi oleh beberapa film ternama seperti The Untouchables (disutradarai Brian de Palma) dan Brazil (Terry Gilliam).
Battleship Potemkin berkisah tentang pemberontakan para awak kapal perang Potemkin yang dipicu oleh ketidakpuasan terhadap makanan di kapal yang sudah busuk. Warga Odessa yang simpati terhadap pemberontakan ini, kemudian dibantai oleh tentara Tsar di adegan "tangga Odessa" yang fenomenal. Cerita ini dibagi dalam lima bagian: Men and Maggots, Drama on The Deck, A Dead Man Calls for Justice, The Odessa Staircase, dan The Rendezvous with The Squadron.
Battleship Potemkin menunjukkan suatu kekuatan orisinil yang bisa diproduksi oleh film: Bahwa kekuatannya bukan dari musik, bukan dari aktor, dan bukan dari skenario (karena tiga hal ini adalah sumbangsih dari seni non-film), melainkan dari teknik editing serta pengadegan yang sering diistilahkan dengan mise en scene. Para sutradara mesti terlebih dahulu melampaui dua teknik terakhir ini sebelum mereka memberi sentuhan tambahan yang diperolehnya dari "sumber eksternal". Selain itu, secara jujur Battleship Potemkin juga diakui sebagai suatu bentuk propaganda. Hal yang agaknya mengukuhkan pendapat mereka yang percaya bahwa seni haruslah punya fungsi persuasi -jika kata propaganda terlalu keras-. Art for art's sake dianggap kredo yang terlalu idealis dan tidak punya guna apa-apa bagi masyarakat. Battleship Potemkin adalah film yang terlampau penting untuk dilewatkan. Ini adalah harta tak ternilai dalam sejarah sinema.
Rekomendasi: Bintang Lima
Comments
Post a Comment