Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Dari Luar

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Kelas Filsafat (Pertemuan 4): Sokrates

Diambil dari www.dparamithap.tumblr.com “I know one thing: I know nothing.”  —Part of a series on Socrates  Tidak seperti filsuf-filsuf lain yang menunjukkan intelektualitasnya melalui pernyataan-pernyataan mereka yang kompleks dan rumit, Socrates justru “menyederhanakan” filsafat dengan mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang seolah-olah membuat dirinya tampak bodoh di hadapan orang lain. Namun, pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan tersebut dapat menelanjangi idealisme seseorang sehingga membuat orang itu berpikir ulang mengenai esensi dari prinsip yang ia yakini selama hidupnya. Hal ini kemudian disebut “ironi socrates” karena pada saat bertanya, ia tampak seperti orang yang benar-benar tidak tahu apa-apa. Bukan seperti orang yang sedang menguji kemampuan menjawab lawan bicaranya.  Hidup di 469-399 SM, Socrates terkenal sebagai seorang pria bertubuh gemuk yang tidak tampan. Dengan berpakaian sederhana dan tanpa alas kaki ia sering berjalan-jalan di sekita...

Kelas Filsafat (Pertemuan 3): Eksistensialisme Soren Kierkegaard

Diambil dari www.dparamithap.tumblr.com Setelah diliburkan selama dua minggu akibat berlangsungnya ujian tengah semester juga adanya kesibukan sang pengajar sebagai musisi bandung masa kini (iya, musisi bandung yang sedang sibuk manggung sana-sini katanya), kelas filsafat telah kami laksanakan kembali pada Kamis, 2 Mei 2013 yang lalu. Pertemuan ketiga ini dilakukan setengah jam lebih lambat dari biasanya, sekitar pukul 11.15, akibat Manda dan saya sendiri yang bangun dan datang ke kampus dengan terlambat (pengakuan dosa). Kelas yang biasanya kami selenggarakan di perpustakaan FIB kali ini terpaksa harus direlokasi karena entah kenapa pada Kamis yang lalu perpustakaan begitu penuh dengan para mahasiswa yang sepertinya sedang mengerjakan tugas. Agar mendapatkan suasana baru yang lebih tenang, kami memutuskan untuk berdiskusi outdoor, di bangku-bangku biru samping pakilun, persis di depan kansas. Peserta kelas filsafat kali ini kembali ke formasi awal—Kang Syarif, Manda, dan saya....

Kelas Filsafat (Pertemuan 2): Eksistensialisme Friedrich Nietzsche

  Diambil dari www.dparamithatp.tumblr.com Kelas filsafat kami ini tidak lagi saya sebut “ilegal”. Karena dengan menyematkan “ilegal”, berarti saya mengakui eksistensi sistem yang “legal”. Padahal sebenarnya kami tidak butuh mengakui apapun untuk menyelenggarakan kelas filsafat ini. Hajar we, bebaskeun! (Terima kasih pada Kimung yang sudah menyadarkan saya akan hal ini, hehe). Pertemuan kedua kami dalam kelas filsafat berlangsung pada 11 April 2013. Lagi-lagi di hari Kamis, pukul 10.45 WIB, di perpustakaan FIB yang begitu tenang. Bedanya, kali ini kami tidak hanya bertiga—Kang Syarif, Manda, dan saya. Ada tambahan empat orang personil yaitu Ibu Susi (dosen Sastra Rusia yang juga mengepalai perpustakaan FIB) dan tiga orang murid Kang Syarif dari Sastra Inggris. Pokok bahasan kami masih dalam tema eksistensialisme namun kali ini kami membahas tokoh yang berbeda yaitu Friedrich Nietzsche. Nietzsche dilahirkan di akhir abad 19, dalam keluarga dengan latar belaka...

Kelas Filsafat Ilegal (Pertemuan 1): Eksistensialisme Jean Paul Sartre

  Diambil dari www.dparamithatp.tumblr.com Setelah melalui beragam kompromi sejak beberapa minggu ke belakang, akhirnya pada 4 April 2013 kami berhasil merealisasikan wacana “kelas filsafat ilegal” bersama salah seorang intelektual muda Bandung yang juga berprofesi sebagai dosen di Universitas Padjadjaran, Kang Syarif Maulana. Mengapa dikatakan “ilegal”? Karena kelas filsafat ini kami lakukan secara gerilya di luar jam perkuliahan, tanpa berbayar, dan hanya didasari oleh “panggilan jiwa” yang begitu kuat. Oh betapa mulia! Pertemuan pertama “kelas filsafat ilegal” yang berlangsung di perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya ini dihadiri oleh tiga orang saja yakni Kang Syarif, Manda, dan saya. Meskipun hanya bertiga, kami tetap menjalankan diskusi dengan bersemangat dan penuh atensi. Atmosfir perpustakaan FIB yang begitu tenang sangat mendukung kondusifitas pertemuan kami. Tema yang diangkat pada kesempatan kali ini adalah eksistensialisme yang secara spesifik dicetu...