Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Diambil dari www.dparamithap.tumblr.com “I know one thing: I know nothing.” —Part of a series on Socrates Tidak seperti filsuf-filsuf lain yang menunjukkan intelektualitasnya melalui pernyataan-pernyataan mereka yang kompleks dan rumit, Socrates justru “menyederhanakan” filsafat dengan mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang seolah-olah membuat dirinya tampak bodoh di hadapan orang lain. Namun, pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan tersebut dapat menelanjangi idealisme seseorang sehingga membuat orang itu berpikir ulang mengenai esensi dari prinsip yang ia yakini selama hidupnya. Hal ini kemudian disebut “ironi socrates” karena pada saat bertanya, ia tampak seperti orang yang benar-benar tidak tahu apa-apa. Bukan seperti orang yang sedang menguji kemampuan menjawab lawan bicaranya. Hidup di 469-399 SM, Socrates terkenal sebagai seorang pria bertubuh gemuk yang tidak tampan. Dengan berpakaian sederhana dan tanpa alas kaki ia sering berjalan-jalan di sekita...