Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Diambil dari www.dparamithap.tumblr.com “I know one thing: I know nothing.” —Part of a series on Socrates Tidak seperti filsuf-filsuf lain yang menunjukkan intelektualitasnya melalui pernyataan-pernyataan mereka yang kompleks dan rumit, Socrates justru “menyederhanakan” filsafat dengan mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang seolah-olah membuat dirinya tampak bodoh di hadapan orang lain. Namun, pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan tersebut dapat menelanjangi idealisme seseorang sehingga membuat orang itu berpikir ulang mengenai esensi dari prinsip yang ia yakini selama hidupnya. Hal ini kemudian disebut “ironi socrates” karena pada saat bertanya, ia tampak seperti orang yang benar-benar tidak tahu apa-apa. Bukan seperti orang yang sedang menguji kemampuan menjawab lawan bicaranya. Hidup di 469-399 SM, Socrates terkenal sebagai seorang pria bertubuh gemuk yang tidak tampan. Dengan berpakaian sederhana dan tanpa alas kaki ia sering berjalan-jalan di sekita...