Skip to main content

Posts

Showing posts with the label gender

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Merenungkan Cyborg Manifesto

Cyborg Manifesto adalah esai karya Donna Haraway yang dirilis tahun 1985 dengan tebal sekitar delapan puluh halaman. Dalam tulisannya ini, Haraway, pemikir asal Amerika kelahiran tahun 1944, mengajak kita mempertanyakan ulang batas-batas antara konsep manusia, hewan, mesin, fisikal - non fisikal, hingga sampai pada renungan tentang persoalan identitas yang disematkan oleh pemikiran gender tradisional. Haraway melakukan itu semua lewat presentasinya mengenai cyborg sebagai fenomena pascahumanisme. Cyborg sendiri didefinisikan oleh Haraway sebagai organisme sibernetik, percangkokan antara mesin dan organisme, makhluk yang berasal dari realitas sosial sekaligus fiksi. Haraway memperhatikan dunia di sekelilingnya, bahwa pada masa itu, literatur fiksi ilmiah dipenuhi konsepsi tentang cyborg - makhluk yang sekaligus hewan dan mesin, yang membuat ambigu gagasan tentang natur dan kultur. Cyborg, lanjutnya, telah mengubah apa yang disebut dengan "pengalaman perempuan" pada akhir abad...

Kata Carolyn Korsmeyer tentang Estetika

Berkat Mbak Ikhaputri Widiantini, dosen filsafat Universitas Indonesia, saya jadi mengenal pemikir bernama Carolyn Korsmeyer yang bagi saya, menawarkan sudut pandang yang berbeda tentang estetika. Keterlibatan saya dengan gagasan Korsmeyer dipicu oleh undangan dari forum LogosFest untuk mempresentasikan topik tentang keadilan dan kesetaraan gender dalam seni - topik yang sebelum-sebelumnya kurang akrab bagi saya, tetapi kemudian digeluti juga seiring waktu, terutama dalam setahun belakangan. Pandangannya tentang estetika dituangkan Korsmeyer dalam buku yang berjudul Gender and Aesthetics: an introduction (2004). Sejumlah poin yang dirasa menarik akan dituangkan dalam tulisan ini. Korsmeyer menjabarkan terlebih dahulu definisi keindahan yang ditarik dari abad ke-18, terutama mengacu pada pandangan Edmund Burke (1727 - 1797) dan Immanuel Kant (1724 - 1804). Burke mengatakan bahwa keindahan suatu objek ditarik dari ekstrapolasi tubuh perempuan, terutama dari bagian dada dan leher (2004: ...