Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2021

Melewatkan Final Piala Dunia

Saya melewatkan final Piala Dunia 1994. Masih kecil. Baru masuk SD. Waktu itu saya diajak Papap tiduran depan televisi, tak ingat apa-apa kecuali ekspresi kecewa pemain berkucir berkostum biru. Iya, kami lebih banyak tertidur daripada nonton. Mungkin bagi Papap sendiri, Piala Dunia adalah peristiwa yang gak penting-penting amat. Beliau mengajak saya nonton karena ya ikut hype saja. Mungkin supaya Papap ada bahan obrolan di tengah tongkrongan teman-temannya yang hobi nonton sepakbola. Bagi Papap sepertinya masih lebih penting ngantor di pagi harinya. Waktu tidur lebih berharga daripada begadang nonton bola. Yang penting ada niat untuk setidaknya berada di depan televisi pas partai pemuncak.  Edisi Piala Dunia sesudah itu, saya tak pernah absen nonton final dari mulai 1998 sampai 2022. Saya ingat sundulan Zidane yang meruntuhkan mental tim Brasil; ingat betul Ronaldo yang dicukur seperti Gogon melesakkan dua gol ke gawang Oliver Khan; apalagi Itali pas juara dunia 2006, sampai sekar...

Gin

GIN Gingin Gumilang pernah menjadi mahasiswa di kelas waktu saya masih mengajar di Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran. Saya lupa tahun berapa itu, mungkin sekitar tahun 2010 atau 2011. Gin, begitu dipanggilnya, duduk di pojokan, orangnya pendiam, tetapi saya tahu di kepalanya menyimpan banyak pemikiran. Suatu hari, saya mengumumkan di kelas bahwa akan ada konser gitar klasik di IFI Bandung dan tentu saja, saya hanya berbasa-basi saja, tidak berharap kalau mereka, yang umumnya kost di Jatinangor, akan datang ke Bandung hanya untuk menonton gitar klasik. Ternyata ada satu orang yang datang ke IFI, ya Gin itulah. Sejak itu saya terkesan. Rupanya wawasannya juga luas. Saya ingat ia tiba-tiba membicarakan Freud di kelas, di tengah mahasiswa-mahasiswa yang yah, duduk di sana hanya berharap bisa lulus saja, tanpa peduli ilmu apa yang didapat. Saya kemudian terpikir, rasanya tepat kalau Gin diajak bergaul lebih luas, keluar dari "sangkar" yang membuat...

Hidup untuk Menulis

Menulis memang sudah menjadi hobi sejak lama. Namun rasanya tidak pernah terpikirkan bahwa saya akan benar-benar hidup dari sini. Saya pernah hidup dari musik, mengajar sebagai dosen, dan saya pikir dua hal itulah yang akan menjadi sumber penghidupan hingga ke depannya. Sejak tidak lagi bekerja sebagai dosen tetap mulai tahun 2017, pekerjaan saya tidak pernah ada yang stabil. Memang saya bekerja di beberapa universitas, tapi hanya sebagai pengajar honorer saja. Di masa-masa itu, saya melamar ke berbagai perusahaan yang membutuhkan jasa penulisan dan rasanya saya sudah mencicipi beragam jenis pekerjaan menulis. Misalnya , saya pernah bekerja sebagai penulis berita olahraga dengan honor Rp4.000 per berita dengan jumlah 300 kata. Bahkan saya juga pernah menulis untuk rumah judi online, dengan honor lebih rendah lagi yaitu Rp3.500 per artikel yang isinya adalah prediksi pertandingan. Honor yang lumayan adalah ketika tulisan saya dimuat oleh sebuah kanal media populer, di situ saya me...