Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
Dalam suatu forum yang isinya ada Pidi Baiq, sudah lama sekali, mungkin lebih dari sepuluh tahun lalu di Gedung Indonesia Menggugat, saya ingat si Ayah mengatakan sesuatu yang kira-kira begini, "Gimana kita mau berharap dibagi rejeki sama orang, kalau kita sendiri gak pernah berbagi?" Klise dan moralis sih, tapi makin kemari, hal-hal demikian semakin relate bagi saya. Anda sopan, kami segan . Begitulah prinsip yang sering saya dengar khususnya di kalangan ormas atau kelompok serupa penganut machoisme. Artinya, sopan adalah prasyarat dari segan. Saya hanya mau bersikap segan (pada Anda) jika Anda terlebih dahulu sopan (pada saya). Jika Anda tidak sopan (pada saya), tentu saya tidak perlu bersikap segan (pada Anda). Begitulah kira-kira hubungan sebab akibat yang termuat dalam kalimat tersebut. Ini adalah hal yang mudah sekali kita temukan dalam percakapan sehari-hari: "Ngapain saya baik ke dia? Dia aja begitu sama saya," "Saya terpaksa begini, karena orang-or...