Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2026

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Sebab Akibat dalam Hidup

Dalam suatu forum yang isinya ada Pidi Baiq, sudah lama sekali, mungkin lebih dari sepuluh tahun lalu di Gedung Indonesia Menggugat, saya ingat si Ayah mengatakan sesuatu yang kira-kira begini, "Gimana kita mau berharap dibagi rejeki sama orang, kalau kita sendiri gak pernah berbagi?" Klise dan moralis sih, tapi makin kemari, hal-hal demikian semakin relate bagi saya.  Anda sopan, kami segan . Begitulah prinsip yang sering saya dengar khususnya di kalangan ormas atau kelompok serupa penganut machoisme. Artinya, sopan adalah prasyarat dari segan. Saya hanya mau bersikap segan (pada Anda) jika Anda terlebih dahulu sopan (pada saya). Jika Anda tidak sopan (pada saya), tentu saya tidak perlu bersikap segan (pada Anda). Begitulah kira-kira hubungan sebab akibat yang termuat dalam kalimat tersebut.  Ini adalah hal yang mudah sekali kita temukan dalam percakapan sehari-hari: "Ngapain saya baik ke dia? Dia aja begitu sama saya," "Saya terpaksa begini, karena orang-or...