Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
Sekitar tiga minggu yang lalu, saya dihibahi kucing oleh kawan di tempat kerja. Kucing tersebut, yang merupakan campuran Persia dan entah apa (saya tidak ingat namanya), oleh saya diberi nama Simone de Beauvoir dan sudah disetujui oleh istri dan anak (serta sang pemilik sebelumnya). Mon -demikian panggilannya- tampak stres ketika untuk pertama kalinya berada di mobil menuju rumah saya. Wajar, ia berpindah tuan. Segala sesuatunya menjadi hal yang kembali baru untuk Mon. Sesampainya di rumah, saya lupa. Saya kira ia kucing yang tenang dan santai. Tahu-tahu, karena stres, ia lari terbirit-birit dan kabur entah kemana. Untungnya, malamnya, ia tiba-tiba kembali dengan badan penuh air got. Ternyata Mon tahu jalan pulang, meski baru pertama kali dia berpindah kediaman. Singkat cerita: Kami sekeluarga memelihara Mon dengan sukacita. Ia memberi warna baru bagi rumah kami. Saya tiba-tiba harus mengunjungi berkali-kali tempat yang tidak pernah saya kenal di sebelum-sebelumnya: Pet Shop. ...