Skip to main content

Posts

Showing posts with the label kehidupan urban

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Berjalan Kaki

Karena sedang tak ada kendaraan dan alasan kesehatan, hampir dua tahun belakangan ini saya kemana-mana berjalan kaki. Diusahakan minimal empat kilometer. Rute tetap biasanya PP rumah saya dan rumah Nadya yang memang pas segitu jaraknya. Selain itu, akibat kena cancel dan banyak kehilangan kesibukan lama, saya gak merasa perlu kendaraan karena mobilitas pun menurun drastis. Sehari-hari paling cari kafe untuk nulis, ngopi-ngopi, di rumah dengerin musik dan tiduran, pergi kirim makanan buat Nadya, beli rokok dan ke warteg, nge- date . Repeat . Jalan kaki menjadi semacam aktivitas yang dibuat-buat, setidaknya supaya hidup tak sekadar boboan di kamar.  Lama kelamaan, kebiasaan jalan kaki menjadi tidak sekadar menyusuri rute yang itu-itu saja. Belakangan, saya mulai mencari jarak yang lebih jauh. Misalnya, ngafe nya tak lagi di sekitaran rumah, tapi coba ke kafe di toko roti Djie Seng di Astana Anyar yang jaraknya tiga kilometer lebih. Awalnya melelahkan, kadang di tengah-tengah saya me...

Sebab Akibat dalam Hidup

Dalam suatu forum yang isinya ada Pidi Baiq, sudah lama sekali, mungkin lebih dari sepuluh tahun lalu di Gedung Indonesia Menggugat, saya ingat si Ayah mengatakan sesuatu yang kira-kira begini, "Gimana kita mau berharap dibagi rejeki sama orang, kalau kita sendiri gak pernah berbagi?" Klise dan moralis sih, tapi makin kemari, hal-hal demikian semakin relate bagi saya.  Anda sopan, kami segan . Begitulah prinsip yang sering saya dengar khususnya di kalangan ormas atau kelompok serupa penganut machoisme. Artinya, sopan adalah prasyarat dari segan. Saya hanya mau bersikap segan (pada Anda) jika Anda terlebih dahulu sopan (pada saya). Jika Anda tidak sopan (pada saya), tentu saya tidak perlu bersikap segan (pada Anda). Begitulah kira-kira hubungan sebab akibat yang termuat dalam kalimat tersebut.  Ini adalah hal yang mudah sekali kita temukan dalam percakapan sehari-hari: "Ngapain saya baik ke dia? Dia aja begitu sama saya," "Saya terpaksa begini, karena orang-or...

Persib dan Euforia

23 Mei kemarin Persib juara liga untuk ketiga kalinya berturut-turut dan belum pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya di Indonesia. Saya tentu senang, tapi tidak segembira ketika Persib juara Liga Dunhill tahun 1995 tatkala menumbangkan Petrokimia Putra yang diperkuat Jacksen F. Tiago dan Widodo C. Putro. Tahun 1995 itu saya masih SD tapi euforianya masih terbayang. Mungkin karena skuad Maung Bandung diisi oleh pemain lokal 100 persen, juga karena Liga Dunhill adalah liga profesional pertama di Indonesia yang menggabungkan kompetisi Perserikatan dan Galatama, sehingga tampak begitu prestisius saat itu (meski saya gak tahu-tahu amat bagaimana jalannya kompetisi Perserikatan dan Galatama).   Mungkin saja terjebak pada romantisme kelokalan itu, sehingga agak asing dengan skuad Persib belakangan yang kelihatannya cukup glamor dan tak lagi terjebak pada latar belakang kedaerahan. Secara umum, saya memang kian asing dengan sepakbola kekinian, mungkin karena era kebintangan indivi...

Tentang Makan Malam Kami

Makan malam kami 9 April kemarin terasa spesial. Selain karena diadakan dalam rangka ulang tahun Nadya, juga karena restorannya istimewa. Namanya AOM Steak House di Pasirkaliki. Bukan tipe restoran dengan harga yang bisa kami jangkau sehari-hari. Saat kami masuk, kami disambut musik live dengan genre jazz. Ada kontrabas di sana, tapi ternyata cuma pajangan karena pemain basnya lebih memilih pake bas elektrik. Saya dan Nadya duduk persis di depan band nya, kami duduk sebelahan karena memang format duduknya seperti itu (hal yang sebenarnya Nadya jarang mau lakukan karena katanya suka kagok kalau makan). Cahayanya temaram, bikin tidak banyak hal yang harus dilihat di tempat itu kecuali antara kita sendiri, meja makan, dan band di hadapan.  Nadya memesankan makanan, dua menu pembuka, saya lupa namanya. Minumnya teh dan jus. Setelah itu menu utama, Nadya steak, saya spaghetti. Sebelum mulai makan menu utama, saya memberikannya rangkaian mawar merah. Dia tahu aku akan memberikan itu, tap...

Yang Tuna Nada, Yang Berjaya

(artikel diturunkan dari Pop Hari Ini )    Media sosial adalah tempat orang bisa mengunggah konten apapun untuk dikonsumsi publik. Meski demikian, konten-konten tertentu, yang mengganggu kenyamanan pandangan, sadis, bikin eneg dan risih, tentu bisa dilaporkan ramai-ramai untuk kemudian dihapus oleh admin media sosial. Nah, tapi kenapa yang kerap dilaporkan dan diturunkan itu hanya hal-hal yang mengganggu pandangan mata? Bagaimana dengan konten yang mengganggu pendengaran alias bikin telinga tidak nyaman? Rasanya jarang orang melakukan report ramai-ramai hanya karena mereka tidak suka pada aspek audio dari suatu konten. Alasannya mungkin sederhana: Kalau tidak suka suaranya, tinggal di- skip saja kontennya, atau di- mute saja audionya. Menariknya, alasan yang sama belum tentu bisa diterapkan pada konten visual (hal yang mengganggu mata kadangkala tidak hanya di- skip , tapi juga sekaligus di- report ).  Salah satu conton konten yang mengganggu pendengaran adalah orang m...

Musik Latar di Kafe: Gangguan Menyenangkan dan Pemecah Keheningan

(artikel diturunkan dari Pop Hari Ini )  Sebagai orang yang mencari nafkah dari menulis, faktor suasana merupakan hal yang krusial dalam membangun mood agar bisa menuangkan kata-kata ke dalam tulisan dengan lancar. Atas dasar itu, saya sering mencari kafe yang nyaman dengan pertimbangan tidak hanya makanan dan kopinya yang enak ataupun suasananya yang tenang, melainkan juga musik apa yang biasa diputar. Musik ini, bagi saya, sangat mempengaruhi mood dan konsentrasi.  Kafe yang memutar musik populer seperti misalnya Tulus atau Adhitia Sofyan tentu bagus dan membuat suasana menjadi hidup. Namun hati-hati dengan popularitas sebuah lagu, yang bisa jadi malah menghanyutkan kita untuk ikut bernyanyi, alih-alih berkonsentrasi memeras gagasan. Menulis melibatkan proses berpikir dan proses berpikir tidak jarang dilakukan dengan cara “berdialog dengan diri sendiri”. Bagaimana mungkin bisa berdialog dengan lancar jika ada “gangguan menyenangkan” berupa nyanyian misalnya: “ Ku percaya s...

Bahasa

Bahasa, jika dilihat dari permukaan, hanyalah rangkaian bunyi yang keluar dari pita suara. Ia bisa diurai secara teknis: getaran udara, fonem yang diatur dalam sintaks, lalu dirangkai menjadi kalimat. Di atas kertas, bahasa tampak seperti alfabet yang disusun rapi, sebuah kode yang bisa dibaca dan diterjemahkan. Tetapi siapa yang bisa menyangkal bahwa bahasa jauh melampaui sekadar bunyi dan huruf?  Melalui bahasa, aku bisa merawat relasi—mengatakan "aku mencintaimu" yang menumbuhkan rasa hangat dalam dada orang lain. Dengan bahasa pula aku bisa menghancurkan relasi, cukup dengan sebuah kalimat pedas, sebuah fitnah, atau sebuah diam yang disengaja. Bahasa bisa menjadi obat: menenangkan yang resah, menuntun yang hilang arah. Tapi bahasa juga bisa menjadi racun: menusuk yang rapuh, meninggalkan luka yang terus berdarah meski tak terlihat.  Bahasa bukan hanya medium komunikasi, melainkan medium kekuasaan. Lewat bahasa, aku bisa memerintah dan diperintah. Lewat bahasa, orang-orang...

Tubuh yang Menua

Menjelang usia empat puluh, tubuh mulai memberi tanda-tanda kecil yang tak bisa lagi diabaikan. Stamina tak lagi sama seperti dulu: langkah terasa lebih berat, tidur yang dulu cukup empat jam kini tak lagi memadai, dan sakit-sakit kecil yang dulu hanya datang sesekali kini mulai menjadi pengunjung tetap. Rasa letih kadang datang bahkan sebelum pekerjaan benar-benar dimulai. Gairah untuk mengejar segala hal juga sudah tidak setajam masa dua puluhan; ada semacam jarak yang terbentuk, antara keinginan yang berlimpah dengan kemampuan tubuh yang kian terbatas.  Pada titik ini, kita mulai belajar tentang melepaskan. Melepaskan hal-hal yang tak bisa lagi dipaksakan. Melepaskan mimpi-mimpi yang dulu mungkin terlampau besar, tetapi kini harus disesuaikan dengan kenyataan. Melepaskan gengsi, ambisi, bahkan beberapa orang yang tidak lagi sejalan. Proses menua, dengan demikian, adalah proses perelahan: ikhlas satu demi satu, seperti daun yang jatuh dari pohon, tanpa penyesalan, hanya mengikuti...

Cemburu

Partner saya hampir tidak pernah menunjukkan rasa cemburu. Aneh memang, kadang hal itu terasa menyenangkan, tapi di sisi lain juga sedikit mengesalkan. Saya jadi berpikir ulang: sebenarnya apa dasar dari perasaan cemburu? Menurut saya, cemburu pada dasarnya lahir dari pengalaman diperlakukan tidak adil. Selama seseorang merasa dirinya diperlakukan secara adil, rasa cemburu seharusnya tidak muncul. Masalahnya, standar “adil” itu tidak pernah universal. Ada kalanya adil berarti perhatian yang dibagi rata, ada kalanya adil berarti eksklusivitas penuh, ada juga yang menoleransi berbagai ruang kebebasan selama kebutuhan dasar emosinya terpenuhi.  Partner saya, misalnya, tidak akan merasa cemburu hanya karena saya ngobrol atau bertemu dengan orang lain. Tetapi situasi berubah ketika perhatian saya mulai condong secara signifikan ke luar—misalnya saya memberi banyak waktu, energi, bahkan sampai memberi hadiah pada orang lain. Hal itu berimplikasi pada berkurangnya perhatian saya kepada di...

Psikiatri

Beberapa bulan terakhir, saya mulai berobat ke psikiater. Alasannya sederhana, tapi cukup mengganggu: tidur saya tidak lagi normal. Dalam semalam, saya hanya bisa terpejam dua atau tiga jam, dan selebihnya hanyalah rebahan dengan pikiran yang berkelana ke mana-mana. Kondisi itu perlahan menggerogoti stamina, membuat tubuh rapuh, dan emosi menjadi semakin tidak stabil.  Saya akhirnya memeriksakan diri ke psikiater di RS Imanuel. Setelah beberapa kali sesi, kesimpulannya adalah saya mengalami depresi, meskipun tidak sampai pada tahap akut. Dokter memberi saya obat, dan perlahan tidur saya mulai lebih teratur. Selain itu, saya juga memiliki kecenderungan gangguan kecemasan dan emosi yang meledak-ledak. Obat-obatan itu, yang sebelumnya saya pandang dengan was-was, ternyata benar-benar membantu saya lebih kalem, menurunkan intensitas badai kecil di kepala saya.  Dari pengalaman itu, saya mulai merenungkan sesuatu. Apa yang sering disebut sebagai “gejolak estetis” atau “inspirasi fi...

Monogami Inklusif

Saya dan NK menjalani sebuah bentuk relasi yang kami sebut sebagai monogami inklusif. Pada dasarnya, hubungan kami berakar pada komitmen monogami—saling mengasihi, merawat hidup satu sama lain, dan menempatkan pasangan sebagai rumah utama dalam perjalanan kehidupan. Namun, kami memberi ruang tertentu di mana masing-masing diperbolehkan untuk berkencan dengan orang lain. Ruang ini bukan berarti membuka ikatan begitu saja, melainkan dirancang dengan kesadaran, aturan, dan saling pengertian. Dalam praktiknya, ada sejumlah syarat yang menjadi pegangan kami. Prinsip pertama adalah keterbukaan: setiap orang yang terlibat dalam relasi ini harus mengetahui keberadaan pihak lain. Tidak ada ruang untuk sembunyi-sembunyi, karena justru kejujuran adalah fondasi yang membuat relasi ini sehat. Kedua, kami menjaga batas-batas. Artinya, meski diperbolehkan berkencan, ada garis yang tidak boleh dilanggar, baik secara emosional maupun fisik, sesuai dengan kesepakatan yang kami bangun bersama. Ketiga, ka...

Permainan

Sepakbola, basket, tenis, dan olahraga lainnya pada dasarnya adalah sebuah permainan. Ada bola, ada lapangan, ada aturan sederhana yang memungkinkan manusia bergerak, tertawa, berkeringat, dan merasa gembira. Tanpa kompetisi, olahraga itu hanyalah kegiatan penuh kesenangan, bagian dari naluri bermain manusia sejak kecil. Kita bisa membayangkan sekelompok anak yang menendang kaleng kosong di jalanan kampung, atau melempar bola kertas di kelas. Semua itu tidak membutuhkan piala, tidak ada klasemen, tidak ada tekanan untuk menjadi yang terbaik. Yang ada hanya tawa, teriakan, dan perasaan “asyik” saat tubuh bergerak bersama bola.  Namun ketika permainan itu berubah menjadi pertandingan resmi, atmosfernya berubah total. Bola yang tadinya sekadar benda untuk bersenang-senang menjadi sesuatu yang diperebutkan dengan serius. Pemain menampilkan wajah penuh konsentrasi, pelatih sibuk berteriak memberi instruksi, penonton menaruh harapan besar, sponsor menghitung keuntungan, dan media menyoro...

Kerja Pikiran dalam Berjudi (Suatu Peringatan)

Saya menuliskan ini bukan sebagai ajakan berjudi, melainkan justru ajakan untuk menjauhinya—dengan dalih yang sebisa mungkin rasional, bukan semata-mata karena larangan moral atau hukum agama. Berjudi memang sebuah kegiatan yang menggiurkan. Ada semacam ilusi jalan pintas: tanpa usaha keras, hanya dengan menebak atau berspekulasi, seseorang merasa bisa melipatgandakan uang yang ia miliki. Berspekulasi ini tidak banyak memerlukan keringat. Bagi sebagian orang, ia dibungkus dengan aktivitas yang tampak serius, disebut “analisis”, “strategi”, atau “perhitungan peluang”. Namun pada dasarnya yang lebih banyak bermain adalah insting, perasaan intuitif, dan dorongan untuk mencoba peruntungan. Bayangan sederhana itu selalu menempel: dengan satu tebakan tepat, uang lima puluh ribu bisa berubah menjadi seratus ribu, dua ratus lima puluh ribu, bahkan lima ratus ribu. Dan jika tebakan keliru? Ya, uang lima puluh ribu itu lenyap begitu saja. Sesimpel itu mindset yang ditanamkan perjudian.  Mas...

Fitnah

"Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan" Ungkapan ini sering dikutip, tapi mungkin jarang direnungkan sedalam-dalamnya. Baru setelah saya sendiri mengalaminya, saya bisa memahami maknanya dengan lebih nyata. Fitnah bukan sekadar kebohongan atau kabar miring; ia adalah pisau yang tak menumpahkan darah, racun yang bekerja pelan namun pasti, menghancurkan tanpa harus membunuh secara fisik.  Mengapa fitnah disebut lebih kejam daripada pembunuhan? Jika seseorang dibunuh, barangkali rasa sakit itu hanya sebentar, lalu kesadarannya lenyap—entah berpindah ke alam lain, atau hilang sama sekali. Tetapi dalam fitnah, seseorang tetap dibiarkan hidup, bahkan dipaksa terus bernapas, namun di dalam kehidupan yang berubah menjadi penjara. Ia hidup di tengah pandangan keliru orang-orang, hidup dengan stigma yang tak pernah ia pilih, hidup dengan hukuman yang tak pernah setimpal dengan perbuatannya.  Saya akhirnya tahu rasanya itu. Sejak peristiwa cancel culture setahun lalu, hidup saya berub...

Ambiguitas Syukur

Ketika sebuah kebakaran melanda lingkungan sekitar rumah, pertanyaan yang kerap muncul dari orang lain biasanya sederhana: “Bagaimana keadaanmu?” Jawaban yang spontan keluar sering kali adalah, “Alhamdulillah, tidak terdampak.” Kalimat syukur ini terdengar tulus, seolah hanya bentuk pengakuan akan keselamatan diri sendiri. Namun, jika direnungkan lebih jauh, ucapan itu juga mengandung dimensi lain yang jarang disadari: “Alhamdulillah, bukan saya yang terdampak, tetapi orang lain.” Artinya, rasa syukur yang kita lafalkan dalam situasi tersebut tidak pernah sepenuhnya murni; ia selalu parsial, terkait dengan perbedaan nasib antara kita dan orang lain.  Dalam titik ini, syukur menjadi cermin yang memperlihatkan sisi egosentris manusia—kita lega karena selamat, tetapi sekaligus menyinggung bahwa ada orang lain yang harus menanggung derita.  Lalu, apakah memang demikian cara kerja konsep syukur? Jika syukur selalu lahir dari perbandingan, bukankah itu menandakan adanya bias moral d...

Bos Terakhir

Hari ini, entah bagaimana, saya baru sadar: ini adalah hari ulang tahun cancel culture saya. Setahun lalu, tepat di tanggal ini, sebuah kehebohan di platform X meledak seperti bom kembang api—indah bagi yang menonton, tapi membakar habis hidup saya dalam hitungan hari. Rasanya aneh, lucu sekaligus getir, mengingat bagaimana dunia maya bisa begitu cepat mengubah peta hidup seseorang. Tapi tidak, saya tidak ingin membahas detail peristiwa itu. Sudahlah. Itu bab lama yang sudah saya lipat dan simpan di laci paling bawah.  Sekarang, saya menjalani kehidupan yang sama sekali baru. Kehidupan yang, sejujurnya, tidak sepenuhnya damai—terutama karena dijalani bersama pasangan saya. Kami sering bertengkar. Sering sekali. Kadang saya heran, bagaimana bisa dua orang yang begitu sering saling adu argumen masih memutuskan untuk sama-sama setiap harinya. Tapi nyatanya, kami tetap bertahan sejak memutuskan untuk bersama sekitar Desember 2024… atau mungkin September? Entahlah, saya bahkan lupa tan...

Transaksi dan Kesendirian

Sejak kena cancel, saya kemana-mana lebih sering sendiri. Atau, paling jauh, bersama kekasih saya. Lingkar sosial yang dulu luas, kini terasa seperti balon yang perlahan dikempiskan. Tidak meledak, hanya mengempis—membuat ruangnya semakin sempit, membuat saya semakin sering duduk sendirian di sudut kafe atau berjalan sendiri di tengah keramaian. Tapi yang menarik, kesendirian ini di perkotaan ternyata tak jadi masalah besar. Ada satu kunci sederhana: punya uang untuk bertransaksi.  Kehidupan kota punya logika yang aneh tapi efisien. Orang tak peduli siapa kita, atau apa yang menimpa kita di media sosial, selama kita bisa membayar. Pelayan tetap mengantar kopi tanpa komentar, kasir tetap tersenyum seadanya saat kita membeli rokok, driver tetap mengantarkan pesanan tanpa menanyakan masa lalu. Keramaian kota membuat gosip memantul cepat, tapi juga cepat hilang. Orang-orang asing itu, pada dasarnya, tidak punya alasan untuk menyimpan amarah personal terhadap kita.  Saya mulai meny...

Jejak

Usia saya tahun ini empat puluh. Angka yang, entah kenapa, membuat saya mulai memikirkan jejak. Jejak yang sudah ditinggalkan pada tanah kehidupan, tapi terutama jejak di hati orang lain. Baik atau buruk, halus atau dalam, sebagian jejak itu pasti ada. Hanya saja, siapa yang bisa memastikan bentuknya? Kita jarang benar-benar tahu, langkah mana yang menorehkan luka, dan langkah mana yang meninggalkan kesan indah.  Ada jejak yang menimbulkan marah, kecewa, bahkan dendam. Ada juga jejak yang entah bagaimana, menjadi kenangan hangat bagi seseorang. Masalahnya, kita nyaris tak pernah memegang peta yang menunjukkan di mana semua jejak itu berada. Kita berjalan, berbicara, bertindak, lalu berlalu, sementara di belakang, tanah itu merekam. Dan suatu hari, orang lain menemukan jejak kita di sana untuk lalu memutuskan apakah itu sesuatu yang layak disimpan atau dilupakan.  Tahun lalu, hidup memberi saya pelajaran keras ketika saya terseret gelombang cancel culture . Dalam badai itu, say...

Ritual

Bagi banyak orang, kata ritual langsung mengingatkan pada aktivitas keagamaan. Ada doa yang dibaca di waktu tertentu, gerakan yang diulang dengan teratur, aturan yang dijaga ketat. Semuanya dilakukan dengan tujuan yang sama: mendekatkan diri kepada Tuhan. Di baliknya, ada keyakinan bahwa disiplin tubuh akan melahirkan disiplin pikiran, dan dari keduanya akan tumbuh intensitas—komunikasi yang lebih padat dengan entitas yang kita percayai sebagai penjamin. Seolah, dengan mengulang pola yang sama setiap hari, kita sedang membangun jembatan yang kokoh antara dunia kita yang rapuh dan sesuatu yang kekal.  Tapi mengapa perlu ritual? Mengapa tidak kita lakukan saja sesekali, sesuai kondisi hati, dengan cara-cara yang kita kehendaki? Bukankah doa yang lahir dari ketulusan spontan juga sahih? Pertanyaan ini sering muncul dari orang-orang yang merasa lebih nyaman mengekspresikan iman atau harapan mereka secara bebas. Namun, jika kita jujur, suasana hati jarang setia. Ketulusan bisa menguap d...

Topeng

Kita sering mendengar cibiran tentang orang yang “bermuka dua”. Maksudnya jelas: di depan kita bersikap manis, di belakang kita mungkin berkata lain. Tapi jika dipikir-pikir, tuduhan “bermuka dua” itu meremehkan kenyataan yang lebih kompleks. Orang jarang hanya punya dua wajah. Kita punya belasan, mungkin puluhan. Setiap wajah adalah topeng yang kita kenakan untuk memenuhi tuntutan lingkungan dan kondisi sosial yang berbeda.  Topeng itu bukan selalu kebohongan, melainkan keterampilan bertahan hidup. Saat bekerja di bidang yang penuh tekanan seperti menghadapi klien yang kasar, menegosiasikan kontrak, atau memimpin tim yang sulit diatur. Dalam kondisi-kondisi demikian, kadang kita tidak bisa membawa seluruh empati dan kelembutan yang kita miliki. Terlalu banyak belas kasih di ruang yang penuh kompetisi bisa membuat kita dimanfaatkan. Sebaliknya, di rumah atau dengan orang terdekat, kita mungkin menanggalkan topeng keras itu dan mengenakan yang lebih ramah, hangat, atau rapuh.  ...