Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Renungan

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Tentang Menerima Kehidupan

Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu.  Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...

Susul Menyusul Teknologi

Di zaman AI ini, segala sesuatu tampak bisa lebih dipermudah. Seperti yang "curang" jika orang-orang dikit-dikit pake AI, bikin siapapun itu bisa nulis, desain, dan ngemenej apa-apa dengan bantuan AI. Saya sendiri menjalankan bisnis ayam crispy dengan banyak konsultasi pada AI yang sudah saya latih supaya bisa jadi Chief Finance Officer . Lebih murah? Jelas, lebih baik bayar GPT berlangganan ketimbang sewa jasa akuntan atau tambahan orang profesional lainnya. Apalagi ini cuma bisnis UMKM kecil-kecilan. Lebih praktis? Nah ini nanti dulu, AI memang pintar, tapi rentan juga melakukan kesalahan, terutama jika kita lepas begitu saja tanpa memberi batasan atau input informasi yang memadai. Kadang malah AI bisa berusaha meyakinkan kita bahwa dirinya benar, padahal ada itung-itungan yang bisa saja luput dan keliru.  Tapi ini bukan perkara yang sungguh-sungguh hendak dibahas dalam tulisan ini (soal kelemahan AI), melainkan soal cara pandang kita terhadap perubahan teknologi itu sendir...

Melewatkan Final Piala Dunia

Saya melewatkan final Piala Dunia 1994. Masih kecil. Baru masuk SD. Waktu itu saya diajak Papap tiduran depan televisi, tak ingat apa-apa kecuali ekspresi kecewa pemain berkucir berkostum biru. Iya, kami lebih banyak tertidur daripada nonton. Mungkin bagi Papap sendiri, Piala Dunia adalah peristiwa yang gak penting-penting amat. Beliau mengajak saya nonton karena ya ikut hype saja. Mungkin supaya Papap ada bahan obrolan di tengah tongkrongan teman-temannya yang hobi nonton sepakbola. Bagi Papap sepertinya masih lebih penting ngantor di pagi harinya. Waktu tidur lebih berharga daripada begadang nonton bola. Yang penting ada niat untuk setidaknya berada di depan televisi pas partai pemuncak.  Edisi Piala Dunia sesudah itu, saya tak pernah absen nonton final dari mulai 1998 sampai 2022. Saya ingat sundulan Zidane yang meruntuhkan mental tim Brasil; ingat betul Ronaldo yang dicukur seperti Gogon melesakkan dua gol ke gawang Oliver Khan; apalagi Itali pas juara dunia 2006, sampai sekar...

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Berjalan Kaki

Karena sedang tak ada kendaraan dan alasan kesehatan, hampir dua tahun belakangan ini saya kemana-mana berjalan kaki. Diusahakan minimal empat kilometer. Rute tetap biasanya PP rumah saya dan rumah Nadya yang memang pas segitu jaraknya. Selain itu, akibat kena cancel dan banyak kehilangan kesibukan lama, saya gak merasa perlu kendaraan karena mobilitas pun menurun drastis. Sehari-hari paling cari kafe untuk nulis, ngopi-ngopi, di rumah dengerin musik dan tiduran, pergi kirim makanan buat Nadya, beli rokok dan ke warteg, nge- date . Repeat . Jalan kaki menjadi semacam aktivitas yang dibuat-buat, setidaknya supaya hidup tak sekadar boboan di kamar.  Lama kelamaan, kebiasaan jalan kaki menjadi tidak sekadar menyusuri rute yang itu-itu saja. Belakangan, saya mulai mencari jarak yang lebih jauh. Misalnya, ngafe nya tak lagi di sekitaran rumah, tapi coba ke kafe di toko roti Djie Seng di Astana Anyar yang jaraknya tiga kilometer lebih. Awalnya melelahkan, kadang di tengah-tengah saya me...

Ronaldo

Beberapa hari lalu, pasca tersingkirnya Portugal di tangan Spanyol pada babak perdelapan besar, Cristiano Ronaldo menyatakan diri pensiun dari sepakbola internasional. Usianya 41. Banyak pemain sudah gantung sepatu jauh sebelum mencapai angka itu. Sementara itu Ronaldo malah jadi striker utama di level dunia. Jika dihadap-hadapkan dengan Messi, saya bukanlah penggemar Ronaldo. Selain itu, saya juga kurang suka pemain ini karena apa ya, kelihatannya belagu aja wkwk Saya pertama lihat permainan Ronaldo itu ketika direkrut awal-awal oleh Manchester United dari Sporting Lisbon. Waktu itu dia masih diplot di sayap kanan dan penilaian saya: Ini orang footwork oke, trik dahsyat, terus? Iya, Ronaldo muda memang banyak gaya. Namun dari musim ke musim, ketika ia mulai digeser ke posisi sayap kiri supaya bisa cut-inside dan menendang dengan kaki kanan favoritnya, permainannya tampak lebih efektif. Berbeda dengan posisi pertamanya yang membuat Ronaldo mesti menari-nari untuk melewati bek sayap la...

Brasil

Saya ingat pertama kali memutuskan suka sepakbola adalah pas Euro '96 dan memilih Itali sebagai tim favorit hingga hari ini. Namun saya baru sadar ada tim yang memainkan sepakbola indah itu ketika nonton pertandingan persahabatan Brasil lawan Denmark masih di tahun yang sama. Brasil menang 5-1 sebagai pemanasan menjelang Olimpiade Atlanta. Tadinya nonton sepakbola ya seru saja, bola ditendang ke sana ke mari, ada yang lari, ada yang mencetak gol. Tapi melihat Brasil, saya baru tahu: oh, main sepakbola ini bisa seperti menari-nari ya . Tim olimpiade Brasil waktu itu diperkuat pemain seperti Ronaldo, Rivaldo, Roberto Carlos, Juninho dan Bebeto. Brasil memang tidak meraih medali emas di Olimpiade Atlanta '96. Juaranya adalah Nigeria dengan tim muda yang brilian, mengalahkan Argentina yang di dalamnya ada Simeone, Crespo, dan Zanetti. Brasil sendiri tunduk dramatis di tangan tim Elang Super setelah sempat unggul 3-1, sebelum dibalikkan oleh gol-gol dari Ikpeba dan Kanu. Selecao ti...

Piala Dunia Kali Ini

Piala Dunia 2026 sudah separuh jalan dan saya baru bisa menuliskan ini. Piala Dunia selalu menjadi warna dari kehidupan saya. Saya ingat pengalaman paling pertama adalah ketika diajak Papap nonton final Piala Dunia 1994 yang ditayangkan di TVRI. Bukan nobar rame-rame, karena saya tahu Papap juga tidak suka-suka amat dengan sepakbola. Hanya nonton depan televisi dan kami berdua terlelap, bangun-bangun, Brazil dikabarkan juara, gara-gara penalti Roberto Baggio melambung ke angkasa. Saya tidak mengerti sepakbola saat itu, sampai mulai menggandrungi dua tahun kemudian, tepatnya Euro '96 dan entah kenapa, menjatuhkan pilihan tim favorit pada Itali. Dari sejak itu, hingga hari ini (bukankah tidak benar-benar ada alasan rasional di balik kenapa kita menjadi fanatik terhadap suatu tim sepakbola?). Piala Dunia 2006 tentu menjadi yang paling berkesan, karena Itali menjadi juara di sana, di Jerman. Pertandingan semifinal melawan tuan rumah lebih berkesan ketimbang finalnya sendiri melawan Pra...

Sebab Akibat dalam Hidup

Dalam suatu forum yang isinya ada Pidi Baiq, sudah lama sekali, mungkin lebih dari sepuluh tahun lalu di Gedung Indonesia Menggugat, saya ingat si Ayah mengatakan sesuatu yang kira-kira begini, "Gimana kita mau berharap dibagi rejeki sama orang, kalau kita sendiri gak pernah berbagi?" Klise dan moralis sih, tapi makin kemari, hal-hal demikian semakin relate bagi saya.  Anda sopan, kami segan . Begitulah prinsip yang sering saya dengar khususnya di kalangan ormas atau kelompok serupa penganut machoisme. Artinya, sopan adalah prasyarat dari segan. Saya hanya mau bersikap segan (pada Anda) jika Anda terlebih dahulu sopan (pada saya). Jika Anda tidak sopan (pada saya), tentu saya tidak perlu bersikap segan (pada Anda). Begitulah kira-kira hubungan sebab akibat yang termuat dalam kalimat tersebut.  Ini adalah hal yang mudah sekali kita temukan dalam percakapan sehari-hari: "Ngapain saya baik ke dia? Dia aja begitu sama saya," "Saya terpaksa begini, karena orang-or...

Persib dan Euforia

23 Mei kemarin Persib juara liga untuk ketiga kalinya berturut-turut dan belum pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya di Indonesia. Saya tentu senang, tapi tidak segembira ketika Persib juara Liga Dunhill tahun 1995 tatkala menumbangkan Petrokimia Putra yang diperkuat Jacksen F. Tiago dan Widodo C. Putro. Tahun 1995 itu saya masih SD tapi euforianya masih terbayang. Mungkin karena skuad Maung Bandung diisi oleh pemain lokal 100 persen, juga karena Liga Dunhill adalah liga profesional pertama di Indonesia yang menggabungkan kompetisi Perserikatan dan Galatama, sehingga tampak begitu prestisius saat itu (meski saya gak tahu-tahu amat bagaimana jalannya kompetisi Perserikatan dan Galatama).   Mungkin saja terjebak pada romantisme kelokalan itu, sehingga agak asing dengan skuad Persib belakangan yang kelihatannya cukup glamor dan tak lagi terjebak pada latar belakang kedaerahan. Secara umum, saya memang kian asing dengan sepakbola kekinian, mungkin karena era kebintangan indivi...

Bahasa

Bahasa, jika dilihat dari permukaan, hanyalah rangkaian bunyi yang keluar dari pita suara. Ia bisa diurai secara teknis: getaran udara, fonem yang diatur dalam sintaks, lalu dirangkai menjadi kalimat. Di atas kertas, bahasa tampak seperti alfabet yang disusun rapi, sebuah kode yang bisa dibaca dan diterjemahkan. Tetapi siapa yang bisa menyangkal bahwa bahasa jauh melampaui sekadar bunyi dan huruf?  Melalui bahasa, aku bisa merawat relasi—mengatakan "aku mencintaimu" yang menumbuhkan rasa hangat dalam dada orang lain. Dengan bahasa pula aku bisa menghancurkan relasi, cukup dengan sebuah kalimat pedas, sebuah fitnah, atau sebuah diam yang disengaja. Bahasa bisa menjadi obat: menenangkan yang resah, menuntun yang hilang arah. Tapi bahasa juga bisa menjadi racun: menusuk yang rapuh, meninggalkan luka yang terus berdarah meski tak terlihat.  Bahasa bukan hanya medium komunikasi, melainkan medium kekuasaan. Lewat bahasa, aku bisa memerintah dan diperintah. Lewat bahasa, orang-orang...

Tubuh yang Menua

Menjelang usia empat puluh, tubuh mulai memberi tanda-tanda kecil yang tak bisa lagi diabaikan. Stamina tak lagi sama seperti dulu: langkah terasa lebih berat, tidur yang dulu cukup empat jam kini tak lagi memadai, dan sakit-sakit kecil yang dulu hanya datang sesekali kini mulai menjadi pengunjung tetap. Rasa letih kadang datang bahkan sebelum pekerjaan benar-benar dimulai. Gairah untuk mengejar segala hal juga sudah tidak setajam masa dua puluhan; ada semacam jarak yang terbentuk, antara keinginan yang berlimpah dengan kemampuan tubuh yang kian terbatas.  Pada titik ini, kita mulai belajar tentang melepaskan. Melepaskan hal-hal yang tak bisa lagi dipaksakan. Melepaskan mimpi-mimpi yang dulu mungkin terlampau besar, tetapi kini harus disesuaikan dengan kenyataan. Melepaskan gengsi, ambisi, bahkan beberapa orang yang tidak lagi sejalan. Proses menua, dengan demikian, adalah proses perelahan: ikhlas satu demi satu, seperti daun yang jatuh dari pohon, tanpa penyesalan, hanya mengikuti...

Cemburu

Partner saya hampir tidak pernah menunjukkan rasa cemburu. Aneh memang, kadang hal itu terasa menyenangkan, tapi di sisi lain juga sedikit mengesalkan. Saya jadi berpikir ulang: sebenarnya apa dasar dari perasaan cemburu? Menurut saya, cemburu pada dasarnya lahir dari pengalaman diperlakukan tidak adil. Selama seseorang merasa dirinya diperlakukan secara adil, rasa cemburu seharusnya tidak muncul. Masalahnya, standar “adil” itu tidak pernah universal. Ada kalanya adil berarti perhatian yang dibagi rata, ada kalanya adil berarti eksklusivitas penuh, ada juga yang menoleransi berbagai ruang kebebasan selama kebutuhan dasar emosinya terpenuhi.  Partner saya, misalnya, tidak akan merasa cemburu hanya karena saya ngobrol atau bertemu dengan orang lain. Tetapi situasi berubah ketika perhatian saya mulai condong secara signifikan ke luar—misalnya saya memberi banyak waktu, energi, bahkan sampai memberi hadiah pada orang lain. Hal itu berimplikasi pada berkurangnya perhatian saya kepada di...

Psikiatri

Beberapa bulan terakhir, saya mulai berobat ke psikiater. Alasannya sederhana, tapi cukup mengganggu: tidur saya tidak lagi normal. Dalam semalam, saya hanya bisa terpejam dua atau tiga jam, dan selebihnya hanyalah rebahan dengan pikiran yang berkelana ke mana-mana. Kondisi itu perlahan menggerogoti stamina, membuat tubuh rapuh, dan emosi menjadi semakin tidak stabil.  Saya akhirnya memeriksakan diri ke psikiater di RS Imanuel. Setelah beberapa kali sesi, kesimpulannya adalah saya mengalami depresi, meskipun tidak sampai pada tahap akut. Dokter memberi saya obat, dan perlahan tidur saya mulai lebih teratur. Selain itu, saya juga memiliki kecenderungan gangguan kecemasan dan emosi yang meledak-ledak. Obat-obatan itu, yang sebelumnya saya pandang dengan was-was, ternyata benar-benar membantu saya lebih kalem, menurunkan intensitas badai kecil di kepala saya.  Dari pengalaman itu, saya mulai merenungkan sesuatu. Apa yang sering disebut sebagai “gejolak estetis” atau “inspirasi fi...

Monogami Inklusif

Saya dan NK menjalani sebuah bentuk relasi yang kami sebut sebagai monogami inklusif. Pada dasarnya, hubungan kami berakar pada komitmen monogami—saling mengasihi, merawat hidup satu sama lain, dan menempatkan pasangan sebagai rumah utama dalam perjalanan kehidupan. Namun, kami memberi ruang tertentu di mana masing-masing diperbolehkan untuk berkencan dengan orang lain. Ruang ini bukan berarti membuka ikatan begitu saja, melainkan dirancang dengan kesadaran, aturan, dan saling pengertian. Dalam praktiknya, ada sejumlah syarat yang menjadi pegangan kami. Prinsip pertama adalah keterbukaan: setiap orang yang terlibat dalam relasi ini harus mengetahui keberadaan pihak lain. Tidak ada ruang untuk sembunyi-sembunyi, karena justru kejujuran adalah fondasi yang membuat relasi ini sehat. Kedua, kami menjaga batas-batas. Artinya, meski diperbolehkan berkencan, ada garis yang tidak boleh dilanggar, baik secara emosional maupun fisik, sesuai dengan kesepakatan yang kami bangun bersama. Ketiga, ka...

Permainan

Sepakbola, basket, tenis, dan olahraga lainnya pada dasarnya adalah sebuah permainan. Ada bola, ada lapangan, ada aturan sederhana yang memungkinkan manusia bergerak, tertawa, berkeringat, dan merasa gembira. Tanpa kompetisi, olahraga itu hanyalah kegiatan penuh kesenangan, bagian dari naluri bermain manusia sejak kecil. Kita bisa membayangkan sekelompok anak yang menendang kaleng kosong di jalanan kampung, atau melempar bola kertas di kelas. Semua itu tidak membutuhkan piala, tidak ada klasemen, tidak ada tekanan untuk menjadi yang terbaik. Yang ada hanya tawa, teriakan, dan perasaan “asyik” saat tubuh bergerak bersama bola.  Namun ketika permainan itu berubah menjadi pertandingan resmi, atmosfernya berubah total. Bola yang tadinya sekadar benda untuk bersenang-senang menjadi sesuatu yang diperebutkan dengan serius. Pemain menampilkan wajah penuh konsentrasi, pelatih sibuk berteriak memberi instruksi, penonton menaruh harapan besar, sponsor menghitung keuntungan, dan media menyoro...

Anglikan

Tanggal 29 Mei 2025 kemarin, saya mengikuti ibadah Gereja Anglikan yang diadakan di sebuah apartemen di kawasan Pluit. Barangkali sebagian orang akan bertanya, “Kenapa ikut ibadah?” Jawaban saya sederhana: karena saya senang mempelajari keberagaman. Selain itu, beberapa waktu lalu saya sempat diusulkan untuk mengajar di sebuah sekolah tinggi yang didirikan oleh komunitas Anglikan di Cimahi. Jadi ada semacam dorongan, bukan hanya rasa ingin tahu, tapi juga keterkaitan praktis dengan kehidupan saya belakangan ini.  Sedikit sejarah: Gereja Anglikan lahir di Inggris pada abad ke-16, ketika Raja Henry VIII berselisih dengan Paus Roma. Dari sana, lahirlah sebuah gereja yang unik, yang di satu sisi masih mempertahankan banyak tradisi Katolik, namun di sisi lain juga menyerap semangat Reformasi Protestan. Anglikanisme kemudian berkembang luas, terutama di wilayah-wilayah bekas jajahan Inggris. Kini, komunitas Anglikan ada di berbagai negara, termasuk di Indonesia, meski jumlahnya tidak ter...

Kerja Pikiran dalam Berjudi (Suatu Peringatan)

Saya menuliskan ini bukan sebagai ajakan berjudi, melainkan justru ajakan untuk menjauhinya—dengan dalih yang sebisa mungkin rasional, bukan semata-mata karena larangan moral atau hukum agama. Berjudi memang sebuah kegiatan yang menggiurkan. Ada semacam ilusi jalan pintas: tanpa usaha keras, hanya dengan menebak atau berspekulasi, seseorang merasa bisa melipatgandakan uang yang ia miliki. Berspekulasi ini tidak banyak memerlukan keringat. Bagi sebagian orang, ia dibungkus dengan aktivitas yang tampak serius, disebut “analisis”, “strategi”, atau “perhitungan peluang”. Namun pada dasarnya yang lebih banyak bermain adalah insting, perasaan intuitif, dan dorongan untuk mencoba peruntungan. Bayangan sederhana itu selalu menempel: dengan satu tebakan tepat, uang lima puluh ribu bisa berubah menjadi seratus ribu, dua ratus lima puluh ribu, bahkan lima ratus ribu. Dan jika tebakan keliru? Ya, uang lima puluh ribu itu lenyap begitu saja. Sesimpel itu mindset yang ditanamkan perjudian.  Mas...

Fitnah

"Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan" Ungkapan ini sering dikutip, tapi mungkin jarang direnungkan sedalam-dalamnya. Baru setelah saya sendiri mengalaminya, saya bisa memahami maknanya dengan lebih nyata. Fitnah bukan sekadar kebohongan atau kabar miring; ia adalah pisau yang tak menumpahkan darah, racun yang bekerja pelan namun pasti, menghancurkan tanpa harus membunuh secara fisik.  Mengapa fitnah disebut lebih kejam daripada pembunuhan? Jika seseorang dibunuh, barangkali rasa sakit itu hanya sebentar, lalu kesadarannya lenyap—entah berpindah ke alam lain, atau hilang sama sekali. Tetapi dalam fitnah, seseorang tetap dibiarkan hidup, bahkan dipaksa terus bernapas, namun di dalam kehidupan yang berubah menjadi penjara. Ia hidup di tengah pandangan keliru orang-orang, hidup dengan stigma yang tak pernah ia pilih, hidup dengan hukuman yang tak pernah setimpal dengan perbuatannya.  Saya akhirnya tahu rasanya itu. Sejak peristiwa cancel culture setahun lalu, hidup saya berub...