Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2014

Tentang Menerima Kehidupan

Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu.  Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...

Norwegian Wood: Absurd, Erotis, dan Eksistensial

Pertama kali saya mendengar nama Haruki Murakami adalah dari seorang kawan bernama Heru Hikayat. Tidak banyak yang diceritakan Mas Heru soal siapa Murakami ini. Ia cuma bilang bahwa Murakami adalah seorang penulis yang juga rajin mengikuti kompetisi maraton. Pernah Mas Heru mengirimi beberapa cerita pendek yang ditulis oleh Murakami tapi saya mengabaikannya. Namun entah kenapa, di suatu Sabtu ketika saya sedang berjalan-jalan di toko buku, ada buku Norwegian Wood  terpajang di jajaran buku unggulan. Ada energi aneh yang menarik saya untuk membelinya.  Buku ini memang mempunyai energi yang aneh sekali. Jika kamu ingin tahu apa yang diceritakan dalam Norwegian Wood , maka saya akan mengatakan bahwa buku ini tidak lebih dari sekadar percintaan remaja usia 20-an. Dua orang saling mencintai, lalu terdapat orang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya sehingga suasana menjadi repot. Namun yang menjadi titik berat Murakami adalah bagaimana ia menceritakan kisah cinta itu. Meski...

Gadis Kretek: Antara Kretek, Sejarah, dan Stereotip (Saya) yang Terselamatkan

Harus diakui bahwa saya bukanlah penikmat karya sastra lokal, kecuali jika itu menyoal karya-karya dari angkatan lama. Skeptisitas saya sebenarnya boleh dibilang tidak beralasan. Mungkin lebih tepatnya disebabkan karena trauma setelah membaca Dwilogi Padang Bulan, Sembilan Matahari,  dan Negeri Lima Menara yang banyak berkelit dengan kemahatahuan si penulis padahal ujung-ujungnya menyisipkan pesan yang pasti laku di negeri kita: Tentang sikap pantang menyerah agar cita-cita kita, setinggi apapun, dapat tercapai.  Ketika saya disodori  Gadis Kretek  oleh rekan kerja untuk dibaca, saya tidak langsung mengiyakan. Saya bertanya ini-itu terlebih dahulu sekadar memastikan bahwa buku karya Ratih Kumala ini bukanlah buku motivasi. Katanya, baca saja, akan menegangkan terus sampai halaman terakhir. Ternyata memang iya, novel Gadis Kretek setebal 274 halaman tersebut memang pandai sekali menciptakan kepenasaranan bagi pembacanya. Dari awal hingga akhir sulit sekali ...