Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2013

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Django Unchained (2012): Tarantino Menggila Lagi

  Meski mengandalkan estetika film "kelas B", Tarantino jelas bukan sutradara "kelas B". Sejak film pertamanya yang berjudul Reservoir Dogs (1992), Tarantino menunjukkan dirinya bisa membuat film yang terkesan murahan -karena latar yang minimalis, adegan yang dominan berdarah-darah, aktor yang sedikit, musik yang ready-use , dan dialog yang amat keseharian- namun cukup konseptual, berprinsip, dan referensial. Dalam arti kata lain, ia menjadikan estetika "kelas B" ini sebagai pilihan pribadinya, bukan karena desakan dana yang minim. Walhasil, atas karakteristik filmnya yang khas dan boleh dibilang idealistik, Tarantino mempunyai penggemarnya sendiri. Kita tidak bisa menyamakan popularitas Tarantino ini dengan sutradara Hollywood spesialis box office seperti Steven Spielberg atau Peter Jackson. Namun ia jelas akan dikenang sebagai seseorang yang kokoh memegang teguh gaya estetikanya seperti seorang David Lynch. Maka itu, kemunculan Django Unchained ...

Akechi Mitsuhide dan Raja-Filsuf Platonis

Dalam bukunya yang berjudul The Republic , Plato menulis tentang konsep raja-filsuf. Konsep tersebut kurang lebih berarti: Seorang filsuf seyogianya menjadi raja. Dan seorang raja, ia harus sanggup menjadi filsuf. Definisi "filsuf" ini tentu saja paling mengundang perdebatan. Karena kenyataannya, mereka yang menjadi pemimpin seringkali mencitrakan dirinya sebagai cendekiawan. Tidak perlu dibahas bagaimana para politisi di Indonesia sangat senang berburu gelar akademik untuk mendapatkan suatu posisi penting di ruang lingkup kekuasaan. Gelar Magister dan Doktor menjadi "syarat wajib" agar pencitraannya terlihat seolah-olah ia memenuhi konsep raja-filsuf Platonis. Namun apakah filsuf identik dengan kepintaran? Tentu saja, berdasarkan arti katanya saja, tidak. Filsuf berarti orang yang mencintai kebijaksanaan (hal yang mana akan menimbulkan perdebatan lagi tentang apa itu kebijaksanaan!). Plato barangkali hendak berbicara tentang raja yang memahami segala sesuatu, ...