Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

30hari30film: Dune (1984)

23 Ramadhan 1433 H



Dune adalah film garapan David Lynch yang merupakan kerjasama pertamanya dengan aktor Kyle MacLachlan. MacLachlan ini kelak akan tampil di sejumlah film Lynch termasuk serial Twin Peaks. Dune diambil dari novel dengan judul yang sama karangan Frank Herbert. Meski gagal di pasaran, film Dune termasuk dalam kategori cult yang digemari karena estetikanya yang agak surealistik. Tak lama setelah kemunculan filmnya, Dune muncul dalam format video game yang cukup populer.

Dune mengambil latar waktu masa depan. Berkisah tentang perebutan kekayaan alam bernama spice melange yang bisa membuat orang yang mengonsumsinya bisa mengalami perjalanan astral, panjang umur, dan punya perluasan kesadaran. Sumber dari spice melange itu adalah planet bernama Arrakis yang dikuasai oleh Kaisar Shaddam Corrino IV (Paul Ferrer). Rempah-rempah yang berada di planet Arrakis terancam diperebutkan oleh dua kubu yaitu Kubu Atreides dan Kubu Harkonnen. Harkonnen –yang dipimpin oleh Baron Vladimir Harkonnen (Kenneth McMillan)- secara militer lebih kuat, namun Atreides punya putra mahkota yang punya visi kenabian bernama Paul Atreides (Kyle MacLachlan). Paul dinantikan oleh orang-orang Fremen yang menghuni planet Arrakis. Konon, Paul inilah yang kelak akan menyelamatkan para Fremen dari gejolak konflik di planetnya.

Proses penggarapan film ini diakui Lynch kurang menggembirakan. Bahkan ia sendiri mengaku kurang puas dengan hasilnya. Dalam versi film Dune tertentu, ia menghilangkan nama dirinya sebagai sutradara dan menggantinya dengan Alan Smithee –nama yang biasa dipakai bagi sutradara yang kecewa karena proses kreatifnya banyak diintervensi-. Walhasil, Dune memang lebih terasa seperti B-movie ketimbang film epik luar angkasa lainnya seperti Star Wars (Sebetulnya, Lynch sendiri nyaris ditawari untuk menyutradarai Star Wars VI: Return of Jedi).

Namun film ini bisa dinikmati barangkali jika pertama, terbiasa dengan film-film cult. Kedua, memahami estetika Lynch yang memang surealistik dan kadang absurd, misalnya: Sumber kekuatan tembakan para Fremen yang akan maksimal jika meneriakkan kata, “Mu’adib!” Jika tidak memenuhi dua syarat di atas, mungkin kita akan cukup sulit mengapresiasi Dune. Film ini kurang seru untuk genre action, kurang canggih untuk genre science fiction, kurang dramatis untuk genre drama, dan kurang rumit dari segi skenario (terlalu mudah ditebak). Akting para pemainnya pun biasa-biasa saja. Film ini bagi sutradara sekelas David Lynch -yang sudah melahirkan film sureal jempolan semacam Eraserhead, Elephant Man, Blue Velvet, ataupun The Lost Highway- boleh dibilang suatu kegagalan.  

Rekomendasi : Bintang Dua Setengah

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...