Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Sepakbola

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Melewatkan Final Piala Dunia

Saya melewatkan final Piala Dunia 1994. Masih kecil. Baru masuk SD. Waktu itu saya diajak Papap tiduran depan televisi, tak ingat apa-apa kecuali ekspresi kecewa pemain berkucir berkostum biru. Iya, kami lebih banyak tertidur daripada nonton. Mungkin bagi Papap sendiri, Piala Dunia adalah peristiwa yang gak penting-penting amat. Beliau mengajak saya nonton karena ya ikut hype saja. Mungkin supaya Papap ada bahan obrolan di tengah tongkrongan teman-temannya yang hobi nonton sepakbola. Bagi Papap sepertinya masih lebih penting ngantor di pagi harinya. Waktu tidur lebih berharga daripada begadang nonton bola. Yang penting ada niat untuk setidaknya berada di depan televisi pas partai pemuncak.  Edisi Piala Dunia sesudah itu, saya tak pernah absen nonton final dari mulai 1998 sampai 2022. Saya ingat sundulan Zidane yang meruntuhkan mental tim Brasil; ingat betul Ronaldo yang dicukur seperti Gogon melesakkan dua gol ke gawang Oliver Khan; apalagi Itali pas juara dunia 2006, sampai sekar...

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Ronaldo

Beberapa hari lalu, pasca tersingkirnya Portugal di tangan Spanyol pada babak perdelapan besar, Cristiano Ronaldo menyatakan diri pensiun dari sepakbola internasional. Usianya 41. Banyak pemain sudah gantung sepatu jauh sebelum mencapai angka itu. Sementara itu Ronaldo malah jadi striker utama di level dunia. Jika dihadap-hadapkan dengan Messi, saya bukanlah penggemar Ronaldo. Selain itu, saya juga kurang suka pemain ini karena apa ya, kelihatannya belagu aja wkwk Saya pertama lihat permainan Ronaldo itu ketika direkrut awal-awal oleh Manchester United dari Sporting Lisbon. Waktu itu dia masih diplot di sayap kanan dan penilaian saya: Ini orang footwork oke, trik dahsyat, terus? Iya, Ronaldo muda memang banyak gaya. Namun dari musim ke musim, ketika ia mulai digeser ke posisi sayap kiri supaya bisa cut-inside dan menendang dengan kaki kanan favoritnya, permainannya tampak lebih efektif. Berbeda dengan posisi pertamanya yang membuat Ronaldo mesti menari-nari untuk melewati bek sayap la...

Brasil

Saya ingat pertama kali memutuskan suka sepakbola adalah pas Euro '96 dan memilih Itali sebagai tim favorit hingga hari ini. Namun saya baru sadar ada tim yang memainkan sepakbola indah itu ketika nonton pertandingan persahabatan Brasil lawan Denmark masih di tahun yang sama. Brasil menang 5-1 sebagai pemanasan menjelang Olimpiade Atlanta. Tadinya nonton sepakbola ya seru saja, bola ditendang ke sana ke mari, ada yang lari, ada yang mencetak gol. Tapi melihat Brasil, saya baru tahu: oh, main sepakbola ini bisa seperti menari-nari ya . Tim olimpiade Brasil waktu itu diperkuat pemain seperti Ronaldo, Rivaldo, Roberto Carlos, Juninho dan Bebeto. Brasil memang tidak meraih medali emas di Olimpiade Atlanta '96. Juaranya adalah Nigeria dengan tim muda yang brilian, mengalahkan Argentina yang di dalamnya ada Simeone, Crespo, dan Zanetti. Brasil sendiri tunduk dramatis di tangan tim Elang Super setelah sempat unggul 3-1, sebelum dibalikkan oleh gol-gol dari Ikpeba dan Kanu. Selecao ti...

Piala Dunia Kali Ini

Piala Dunia 2026 sudah separuh jalan dan saya baru bisa menuliskan ini. Piala Dunia selalu menjadi warna dari kehidupan saya. Saya ingat pengalaman paling pertama adalah ketika diajak Papap nonton final Piala Dunia 1994 yang ditayangkan di TVRI. Bukan nobar rame-rame, karena saya tahu Papap juga tidak suka-suka amat dengan sepakbola. Hanya nonton depan televisi dan kami berdua terlelap, bangun-bangun, Brazil dikabarkan juara, gara-gara penalti Roberto Baggio melambung ke angkasa. Saya tidak mengerti sepakbola saat itu, sampai mulai menggandrungi dua tahun kemudian, tepatnya Euro '96 dan entah kenapa, menjatuhkan pilihan tim favorit pada Itali. Dari sejak itu, hingga hari ini (bukankah tidak benar-benar ada alasan rasional di balik kenapa kita menjadi fanatik terhadap suatu tim sepakbola?). Piala Dunia 2006 tentu menjadi yang paling berkesan, karena Itali menjadi juara di sana, di Jerman. Pertandingan semifinal melawan tuan rumah lebih berkesan ketimbang finalnya sendiri melawan Pra...

Persib dan Euforia

23 Mei kemarin Persib juara liga untuk ketiga kalinya berturut-turut dan belum pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya di Indonesia. Saya tentu senang, tapi tidak segembira ketika Persib juara Liga Dunhill tahun 1995 tatkala menumbangkan Petrokimia Putra yang diperkuat Jacksen F. Tiago dan Widodo C. Putro. Tahun 1995 itu saya masih SD tapi euforianya masih terbayang. Mungkin karena skuad Maung Bandung diisi oleh pemain lokal 100 persen, juga karena Liga Dunhill adalah liga profesional pertama di Indonesia yang menggabungkan kompetisi Perserikatan dan Galatama, sehingga tampak begitu prestisius saat itu (meski saya gak tahu-tahu amat bagaimana jalannya kompetisi Perserikatan dan Galatama).   Mungkin saja terjebak pada romantisme kelokalan itu, sehingga agak asing dengan skuad Persib belakangan yang kelihatannya cukup glamor dan tak lagi terjebak pada latar belakang kedaerahan. Secara umum, saya memang kian asing dengan sepakbola kekinian, mungkin karena era kebintangan indivi...

Tentang Obrolan Para Legenda Sepakbola

Belakangan ini saya sering tenggelam dalam YouTube Shorts—bukan yang berisi prank receh atau motivasi instan, tapi potongan-potongan obrolan para legenda sepakbola seperti Jamie Carragher, Ian Wright, Gary Neville, Rio Ferdinand, sampai Roy Keane. Mereka duduk bersama, bercanda, kadang saling sindir, lalu menyusupkan kisah-kisah di balik pertandingan besar yang pernah mereka jalani. Dan entah mengapa, saya betah sekali menyimak mereka berbicara. Mungkin karena semua itu menyentuh satu masa ketika saya sendiri sangat memperhatikan sepakbola. Ketika saya tahu di mana posisi Beckham, bagaimana tendangan Henry, atau ekspresi kesal Roy Keane yang terkenal itu.  Tapi yang membuat saya terhanyut bukan sekadar soal taktik, gol, atau drama lapangan. Yang menarik justru ketika mereka mulai membuka fragmen-fragmen kecil—tentang percakapan di ruang ganti, tentang tekanan batin saat menghadapi penalti, atau bahkan tentang ketakutan tersembunyi saat menghadapi sorak-sorai stadion yang penuh. Mer...

Sepakbola Masa Kini

  Dulu nonton sepakbola itu bisa terlihat gaya masing-masing negara. Jerman cenderung seradak-seruduk seperti tank panzer, Itali agak flamboyan, manipulatif, dan pragmatis, sementara Inggris terkenal dengan umpan-umpan panjang. Sejak era Guardiola di Barcelona sekitar tahun 2008-an, tim-tim lain mulai mengadopsi gaya serupa, yang membuat Spanyol berjaya di tahun-tahun yang sama. Hingga akhirnya sekarang, kita menyaksikan bagaimana Euro 2024 hampir semua tim menerapkan "gaya Guardiola".  Dalam Youtube Shorts, eks gelandang Bayern Muenchen dan Manchester United, Bastian Schweinsteiger pernah agak keberatan tentang penyebaran "gaya Guardiola" ini. Katanya, waktu Pep membesut Muenchen, timnya itu menjadi kehilangan gen-nya. Permainannya bagus, tapi tidak seperti Muenchen yang biasanya. Jadi, apa itu "Gaya Guardiola"? Kita lihat, hampir semua tim di Euro 2024 bermain dengan gaya serupa:  Kiper dan bek tengah harus punya kemampuan menggiring bola dan memberi ope...

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman...

Higuita

  Sudah lama tidak langganan Netflix. Saat berlangganan kembali, saya bukannya nonton film-film yang sedang tren seperti Gadis Kretek atau dokumenter tentang kopi sianida, malah tertarik pada dokumenter sepakbola, salah satunya yang berjudul Higuita: The Way of Scorpion (2023). Mengapa saya tertarik menonton film tersebut? Sederhana saja, film itu bercerita tentang kiper nyentrik bernama René Higuita dan meski saya belum menyukai sepakbola saat beliau sedang jaya-jayanya (tahun 80-an sampai 90-an awal), saya tetap mengidolakannya lewat rekaman video-video lawas dan bagi saya, Higuita pernah membuat sepakbola begitu menarik. Rasa-rasanya tidak ada seorang pun penggila sepakbola yang tidak tahu aksi gila Higuita di Wembley pada pertandingan persahabatan tahun 1995. Higuita, yang membela timnas Kolombia, menghalau sepakan tanggung Jamie Redknapp, gelandang Inggris, dengan sebuah tendangan di belakang kepala yang diberi nama tendangan kalajengking ( scorpion kick ).  Seperti umu...

Argentina

Piala Dunia Qatar 2022 berakhir. Argentina juara dengan cara yang sangat dramatis. Messi mendapatkan keadilannya sebagai pemain terbaik dengan gelar terbaik. Saya bukan pendukung Argentina, tetapi inilah tim terbaik yang bisa saya dukung ketika Italia tidak lolos Piala Dunia. Alasannya tentu Messi dan Barcelona. Hari-hari saya di masa tahun-tahun 2010-an banyak dihibur oleh Barcelona dengan tiki taka-nya sehingga saya berterima kasih pada mereka. Tentu saja yang paling besar pada Messi. Messi sudah tidak di Barcelona, tetapi ia, bagi saya, selalu identik dengan Barcelona.  Piala Dunia (dan juga Piala Eropa) bagi saya adalah penanda. Penanda berapa lama saya telah hidup dan mengingat suatu momen besar di dunia. Piala Dunia pertama yang saya ingat adalah AS 1994, itupun hanya momen melambungnya tendangan penalti Roberto Baggio di final. Piala Dunia 1994 tidak membuat saya menyukai sepakbola. Barulah pada Piala Eropa 1996, saya mulai sedikit-sedikit memperhatikan sepakbola dan menjatu...

Drama dan Sepakbola

Saya lupa sejak Piala Dunia kapan, mungkin 2010, tayangan ulang bisa menjadi sangat lambat, sehingga kita benar-benar menikmati momen ketika bulir keringat dari si pemain terlihat jatuh atau muncrat secara perlahan. Efek ini tentu menarik, karena jika saya menonton sejumlah tayangan YouTube dari Piala Dunia yang lalu-lalu, terutama sebelum tahun 1998, penggunaan kamera ini tidak terlalu banyak yang dengan demikian berdampak juga pada minimnya efek pada tayangan ulang. Namun rasanya dimulai dari Piala Dunia 1998 dan sesudah-sesudahnya, kamera di lapangan mulai banyak dan efek tayangan ulangnya pun kian beragam. Kamera, dalam hal ini, telah bertransformasi dari yang tadinya sekadar "memperlihatkan", menjadi "menceritakan". Kamera tidak lagi hanya menayangkan sepakbola, melainkan punya peran menghadirkan "drama sepakbola". Drama ini tidak lagi sekadar "ditemukan" (di dalam pertandingan itu sendiri), tetapi "diciptakan" (oleh beraneka peran...

Menjadi Pendukung Italia adalah Pilihan Berani

Keputusan memilih Italia sebagai tim favorit sejak Euro 96 bukanlah keputusan menyenangkan. Italia adalah tim bertahan dan tidak menyukai penguasaan bola. Menonton mereka bermain berarti juga stres sepanjang pertandingan karena senantiasa dalam tekanan tim lawan. Bahkan sepakbola Italia pernah bangga dengan taktik catenaccio atau "pertahanan grendel". Mereka menumpuk lima bek dan satu di antaranya adalah libero yang bermain di belakang dua stopper agar pertahanannya berlapis. Saya kadang iri pada pendukung Jerman, Spanyol, Brasil atau Belanda. Meski tidak selalu menang, setidaknya mereka tampil menyerang dan itu jauh lebih menenangkan.  Italia di Euro 2020 adalah Italia yang sudah beradaptasi dengan tren sepakbola menyerang. Meski tetap mampu bertahan dengan indah, mereka juga tidak alergi dengan penguasaan bola. Italia sekarang mau dengan sabar membangun serangan dari belakang ke depan, tanpa terburu-buru melambungkan bola seperti biasanya. Menonton Italia di era Roberto Ma...

Lionel Messi dan Tuhan yang Manusiawi

Lionel Messi baru saja menjuarai Copa America bersama Argentina. Penantian panjang berakhir sudah. Salah satu pemain terbaik yang pernah ada dalam sejarah itu sering diragukan tidak total jika tampil bersama negaranya. Timbul pertanyaan, "Untuk apa hebat, jika tidak bisa menyumbangkan trofi untuk negeri sendiri?" Akhirnya, keraguan itu terjawab.  Messi memulai kiprahnya di La Liga sekitar enam belas atau tujuh belas tahun lalu. Waktu itu saya sudah mulai nonton sepakbola dan Barcelona menjadi salah satu tim favorit saya (setelah Juventus). Alasan menyukai tim sepakbola kadang memang tidak rasional, terutama jika berkaitan dengan tim asing. Mengapa saya menyukai Italia, lebih disebabkan memang tim itulah yang saya tonton pertama kali saat mulai menggemari sepakbola. Mengapa saya menyukai Barcelona, karena hal yang kurang lebih mirip. Saya menyukainya sejak Barca masih diperkuat oleh Luis Figo, Pep Guardiola, dan Miguel Angel Nadal. Namun harus diakui, hari-hari setelah adanya ...

Sepakbola dan Kehidupan

  Sejak Brasil mengalami kekalahan mencengangkan 1-7 dari Jerman, entah kenapa, saya tidak henti-hentinya membuka berita dari internet untuk hanya sekedar mengetahui seberapa mendalam efek kekalahan tersebut bagi penduduknya. Sebuah koran terkenal di Brasil menyebutkan bahwa tragedi kekalahan tersebut lebih dahsyat dari tragedi kekalahan dari Uruguay pada tahun 1950 yang disebut dengan Maracanazo;  Presiden Brasil, Dilma Rousseff mengatakan, "Bahkan mimpi buruk saya pun tidak pernah sepahit ini."; Eks striker Brasil, Romario, bahkan menganggap bahwa para petinggi sepakbola Brasil sudah sepantasnya dijebloskan ke penjara; Sang pelatih, Luiz Felipe Scolari menanggapi kekalahan tersebut dengan mengatakan bahwa ini adalah kejadian paling pahit dalam karir kepelatihannya. Keseluruhan respon tersebut membuat saya bertanya: Lebih besar mana, sepakbola atau kehidupan? Mudah sekali bagi kita untuk menjawab bahwa tentu saja sepakbola hanyalah olahraga dan kehidupan merupakan sesuat...

Alex Ferguson - Biografi Saya: Lebih dari Sekadar Manajer Sepakbola

Saya bukan orang yang silau dengan buku-buku yang dipajang di bagian khusus di sebuah toko buku. Malah saya selalu berusaha mencari sudut-sudut gelap dengan harapan dapat menemukan buku yang aneh. Atas alasan itu pula -selain karena memang bukan penggemar tim sepakbola Manchester United- , saya tidak terlalu tertarik dengan buku Alex Ferguson - Biografi Saya  yang kerap ditempatkan di bagian depan Gramedia. Ternyata tanpa harus membelinya, buku tersebut sampai ke tangan saya sebagai tanda kasih setelah menjadi narasumber di komunitas film Layarkita. Batin saya mengatakan begini ketika menerimanya, "Oh, ternyata saya tidak alergi buku best-seller , asal gratis." Buku tersebut, tanpa diduga, ternyata menarik. Sering sekali saya berniat membaca satu paragraf, jadinya sebab; membaca sebab, jadinya tiga bab. Untuk buku setebal 397 halaman, saya termasuk cukup cepat menyelesaikannya -jika ditotal, mungkin perlu 24 jam saja-. Alasan buku tersebut menarik mungkin saja sangat ...

Piala Dunia dan Piala Eropa: Masih Asyikkah untuk Ditonton?

Tahun ini adalah tahun genap. Artinya, pasti berlangsung gelaran akbar sepakbola entah itu Piala Dunia atau Piala Eropa. Kebetulan 2012 ini adalah tahunnya Piala Eropa yang akan digelar di Polandia dan Ukraina Juni nanti. Gelaran akbar yang menghadirkan pertandingan antar negara tersebut selalu saja dinanti sekaligus juga didramatisasi. Mari kita bandingkan dengan gelaran liga yang nyaris setiap minggunya kita konsumsi: Sebetulnya, mana yang lebih bergizi? Katanya, menonton pertandingan tim nasional adalah lebih asyik, karena isinya adalah kombinasi bintang-bintang lokal yang tampil keren. Bayangkan posisi kiper Barcelona yang relatif lemah, kemudian bisa dikombinasikan dengan kiper Real Madrid, Casillas, sehingga saling menambal. Yang demikian hanya bisa terjadi di tim nasional, ketika Real Madrid dan Barcelona bisa dipersatukan oleh orang-orang dengan kewarganegaraan yang sama. Pun bayangkan ketika City, United, Arsenal, Chelsea, Tottenham, dan Liverpool dengan segala dinamika r...

Prasasti FM 2011

Hari ini, 27 Februari 2012, adalah hari yang amat penting. Di sela-sela penampilan di acara seminar biomedik di ITB tadi, saya menyempatkan diri untuk melihat-lihat lapak DVD games untuk komputer di trotoar Jalan Ganesha. Saya dengan sangat berhati-hati memutuskan untuk membeli permainan yang saya yakini lebih jahat dari narkoba: Football Manager. Saya membeli edisi terbaru yaitu Football Manager 2012 (FM 2012) yang sebetulnya sudah rilis dari November kemarin. Namun akibat saya tahu betapa bahayanya game tersebut, saya beberapa kali menunda pembelian hingga akhirnya tadi luluh juga karena jarak antara saya dan lapak sudah sedemikian dekat. Sampai rumah, saya langsung install game tersebut dan tidak mendapat kesulitan apapun untuk langsung memulainya. Namun setelah beberapa saat, hati saya mendadak sedih. Saya ingat bahwa di edisi FM sebelumnya (FM 2011), saya masih berkiprah. Akhirnya saya kembali ke FM 2011 untuk sejenak menutup karir setelah sempat mengabadikan beberapa tampilan yan...