Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
Visualisasi Kalamullah adalah buku, namun bukan buku yang dipasarkan secara bebas di toko-toko buku - setidaknya belum -. Penulisnya, kawan saya, Arden Swandjaja, adalah orang yang nampak kurang percaya diri untuk mempublikasikan karya-karyanya (berbeda dengan saya, yang berbasiskan kepercayaan diri, meski tulisan ala kadarnya). Ini bukan pertama kalinya saya membaca buku Arden. Sebelumnya, buku berjudul Buka Tutup Botol , adalah buku yang karakteristiknya sama: Dibaca oleh kalangan terbatas saja. Apa sebenarnya yang ditulis oleh Arden? Topik yang dipilih Arden, memang, jika disebarluaskan, besar kemungkinan publik kita, yang ingin serba praktis dan langsung mencari apa manfaatnya, akan kesulitan mencerna. Arden dapat dikatakan menulis tema-tema sufistik. Tapi, bukankah tema-tema sufistik disukai oleh pembaca kita? Ya, jika sufisme terbatas pada puisi cinta, atau "spiritualitas awam", tentu banyak penggemarnya - meski kemudian hanya dibaca dan tidak diselami, tida...